Loading
Loading...
Menu BINUS

Jebakan Aesthetic Health: Ketika Sehat Cuma Jadi Konten, Bukan Kebiasaan?

Jujur saja, siapa yang pernah merasa termotivasi setelah melihat konten workout, meal prep, atau morning routine yang berseliweran di TikTok dan Instagram? Rasanya ingin ikut olahraga, makan lebih sehat, bahkan membeli tumbler dan activewear baru supaya semangat memulai. Sayangnya, semangat itu kadang hanya bertahan beberapa hari atau bahkan hanya sampai kontennya selesai ditonton.

Di tengah maraknya tren aesthetic health, penting untuk mengingat bahwa hidup sehat bukan soal memiliki rutinitas yang paling estetik atau paling layak diunggah. Yang jauh lebih penting adalah kebiasaan kecil yang terus dilakukan, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya.

Aesthetic Health: Ketika Sehat Menjadi Standar Estetika

Fenomena aesthetic health menggambarkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap kesehatan. Jika sebelumnya hidup sehat identik dengan menjaga kebugaran dan mencegah penyakit, kini kesehatan juga sering dikaitkan dengan penampilan fisik yang menarik. Di media sosial, berbagai konten seperti fitspiration, pola makan sehat, hingga rutinitas olahraga dikemas secara visual sehingga menarik perhatian banyak orang. Hal tersebut membuat sebagian orang memandang bahwa seseorang dianggap sehat apabila memiliki tubuh ideal, menjalani gaya hidup tertentu, atau mengikuti tren kesehatan yang sedang populer.

Menurut penelitian mengenai fitspiration, paparan konten bertema kesehatan dan kebugaran di media sosial dapat memberikan motivasi untuk menjalani hidup sehat. Namun, di sisi lain, konten tersebut juga dapat meningkatkan kecenderungan membandingkan bentuk tubuh dengan orang lain sehingga memengaruhi kepuasan terhadap citra tubuh.

 

Peran Media Sosial dalam Membentuk Persepsi Kesehatan

Media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi masyarakat mengenai gaya hidup sehat. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dipenuhi konten yang menampilkan pola makan sehat, olahraga, hingga rutinitas harian yang tampak sempurna.

Selain itu, algoritma media sosial cenderung terus menampilkan konten serupa berdasarkan aktivitas pengguna. Akibatnya, seseorang akan semakin sering terpapar standar tubuh ideal dan gaya hidup tertentu. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan self-objectification, yaitu kecenderungan seseorang lebih memperhatikan penampilan fisiknya dibandingkan fungsi tubuhnya. Kondisi tersebut dapat memicu perbandingan sosial (social comparison) yang berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan kesehatan mental

Dampak Positif dan Negatif Aesthetic Health

Di balik popularitasnya, tren aesthetic health memiliki dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat. Banyak orang yang terdorong untuk berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperhatikan kesehatan fisik dan mental setelah memperoleh informasi dari media sosial.

Namun, apabila tidak disikapi dengan bijak, tren ini juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Paparan konten fitspiration secara berlebihan dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, munculnya rasa minder, serta kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Bahkan, sebagian orang menjalani pola hidup sehat bukan lagi untuk menjaga kesehatan, melainkan demi memenuhi standar kecantikan atau mendapatkan validasi di media sosia.

 

Menyikapi Tren Aesthetic Health secara Bijak

Pada dasarnya, tujuan utama menjalani pola hidup sehat adalah menjaga kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup, bukan semata-mata mengejar penampilan. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa setiap individu memiliki kondisi tubuh, kebutuhan gizi, dan kemampuan fisik yang berbeda-beda.

Media sosial sebaiknya dijadikan sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai tolok ukur nilai diri. Memilih informasi dari sumber yang kredibel, berolahraga sesuai kemampuan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan menjaga kesehatan mental merupakan langkah yang lebih penting dibandingkan mengikuti tren demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dengan demikian, konsep aesthetic health dapat dipahami sebagai motivasi untuk hidup sehat tanpa mengabaikan tujuan utama, yaitu mencapai kesejahteraan secara menyeluruh.

Pada akhirnya, tren aesthetic health tidak selalu membawa negatif. Kehadirannya bahkan dapat menjadi pemicu bagi banyak orang untuk mulai lebih peduli kesehatan, mencoba berolahraga, atau memperbaiki pola makan. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa kesehatan tidak seharusnya diukur dari seberapa menarik penampilan seseorang atau seberapa estetik rutinitas yang dibagikan di media sosial. Setiap individu memiliki kondisi tubuh, kebutuhan, dan proses yang berbeda, sehingga tidak ada satu standar yang dapat diterapkan untuk semua orang.

Oleh karena itu, penting untuk menerapkan pola hidup sehat yang memperhatikan kesejahteraan fisik dan mental, bukan sekadar mencari validasi di media sosial. Media sosial sebaiknya dijadikan sebagai sumber inspirasi, bukan tolok ukur nilai diri atau keberhasilan menjalani gaya hidup sehat. Pada akhirnya, hidup sehat bukan tentang terlihat sempurna, melainkan membangun kebiasaan baik secara konsisten. Sebab, kesehatan yang sesungguhnya diukur dari kemampuan menjaga tubuh dan pikiran agar tetap sehat dan seimbang dalam jangka panjang.

 

Daftar Pustaka

  • Fioravanti, G., Bocci Benucci, S., Ceragioli, G., & Casale, S. (2022). How the exposure to beauty ideals on social networking sites influences body image: A systematic review of experimental studies. Adolescent Research Review, 7(4), 419–458. https://doi.org/10.1007/s40894-022-00179-4
  • Hillhouse, J., Turrisi, R., Stapleton, J., & Robinson, J. (2008). A randomized controlled trial of an appearance-focused intervention to prevent skin cancer. Cancer, 113(11), 3257–3266.
  • Jerónimo, F., & Carraça, E. V. (2022). Effects of fitspiration content on body image: A systematic review. Eating and Weight Disorders – Studies on Anorexia, Bulimia and Obesity, 27, 3017–3035. https://doi.org/10.1007/s40519-022-01505-4
  • Klassen, K. M., Douglass, C. H., Brennan, L., Truby, H., & Lim, M. S. C. (2018). Social media use for nutrition outcomes in young adults: A mixed-methods systematic review. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 15, Article 70. https://doi.org/10.1186/s12966-018-0696-y
  • Jiménez-García, A., et al. (2025). Body-positive content on social media and body image: A systematic review and meta-analysis. Journal of Eating Disorders, 13, Article 153. https://doi.org/10.1186/s40337-025-01286-y
  • Sarda, A., et al. (2025). Social media use, self-objectification, self-compassion, and body image concerns: A systematic review. Journal of Eating Disorders, 13, Article 192. https://doi.org/10.1186/s40337-025-01353-4
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.