Bukan Kuantitas, Melainkan Kualitas! Inilah Tujuh Syarat Melakukan Yadnya

Photo by Artem Beliaikin: https://www.pexels.com/photo/shallow-focus-photography-of-multicolored-floral-decor-994516/

Mari Berkenalan, Apa itu Yadnya?

Sebagai umat hindu, sudah pasti kita tidak asing lagi dengan kata yadnya. Kata yadnya berasal dari bahasa Sansekerta. Yadnya berasal dari akar kata “yaj” yang berarti berkorban suci atau persembahan suci. Jadi yadnya merupakan korban suci yang dilakukan secara tulus ikhlas tanpa pamrih.

Lalu, Apa saja Jenis Yadnya?

Yadnya sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari umat Hindu. Terdapat dua jenis yadnya berdasarkan waktu pelaksanaannya. Pertama Naimitika Karma yaitu yadnya yang dilaksanakan pada hari tertentu contohnya pada saat hari purnama, tilem, galungan, kuningan dan lain-lain. Sementara jenis yadnya yang kedua ialah Nitya Karma, merupakan yadnya yang dilaksanakan setiap hari contohnya mebanten saiban, yadnya sesa, sembahyang tri sandhya dan lain-lain.

 Mengapa Kualitas, Bukannya Kuantitas?

Terdapat tiga kualitas yadnya yaitu sebagai berikut.

  1.     Satvika Yadnya, berarti yadnya yang dilaksanakan secara tulus ikhlas tanpa pamrih, tanpa maksud pamer kemewahan, tanpa ikut-ikutan dan memenuhi ketujuh syarat pelaksanaan yadnya.
  2.     Tamasika Yadnya, berarti yadnya yang dilaksanakan dengan menaruh pamrih, tujuan terselubung hingga pamer kemegahan.
  3.     Rajasika Yadnya, berarti yadnya yang dilaksanakan tanpa mengikuti pedoman sastra dan melanggar tujuh syarat pelaksanaan yadnya. Selaintu yadnya yang rajasika dilakukan hanya sekadar ikut-ikutan.

Bagian terpenting dalam pelaksanaan yadnya bukanlah kuantitasnya, melainkan kualitasnya yang terlihat dari niatan pribadi seorang penyelenggara yadnya tersebut. Besar-kecil, mewah-sederhana tidaklah mempengaruhi kualitas suatu yadnya. Hal yang mempengaruhi adalah pemenuhan ketujuh syarat yadnya.

Tujuh Syarat..

Dalam pelaksanaan yadnya terdapat tujuh syarat yang harus dilaksanakan agar tercapainya yadnya yang Satvika.

  1.     Sraddha

Yadnya haruslah dilaksanakan dengan penuh keyakinan serta kepercayaan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Tanpa adanya sraddha maka yadnya yang dilakukan tidak bernilai apa-apa.

  1.     Lascarya

Pengorbanan suci yang dilaksanakan baik secara besar-besaran maupun sederhana hendaklah selalu dilaksanakan dengan rasa tulus ikhlas tanpa pamrih. Kesadaran untuk melaksanakan yadnya harus hadir dari hati masing-masing, tanpa paksaan orang lain.

  1.     Sastra

Sastra berarti bahwa yadnya yang dilaksanakan harus mengikuti pedoman dari kitab suci umat Hindu yaitu Veda. Yadnya tidak bisa dilaksanakan dengan semena-mena.

  1.     Daksina

Daksina berarti sari yang diberikan kepada  pemimpin upacara yadnya. Hal ini berarti setiap pelaksanaan yadnya haruslah memberi penghormatan dalam bentuk harta benda atau uang kepada pemangku, pinandita atau pandita.

  1.     Gita

Gita adalah nyanyian, lagu-lagu. Hal ini berarti setiap yadnya yang dilaksanakan harus diiringi dengan lantunan kidung-kidung atau lagu-lagu suci sesuai dengan pedoman sastra.

  1.     Annasewa

Annasewa berarti setiap yadnya yang dilaksanakan harus memberikan jamuan makan kepada tamu-tamu yang hadir dan turut terlibat dalam prosesi yadnya.

  1.     Nasmita

Nasmita berarti yadnya yang dilaksanakan tanpa bertujuan untuk memamerkan harta, kemewahan ataupun kekayaan dengan maksud agar tamu-tamu yang hadir kagum akan kekayaannya.

referensi : https://www.scribd.com/doc/249154004/Tujuh-Syarat-Melaksanakan-YADNYA-Agar-BERKUALITAS