Halo, Psytroopers! Pernahkah kalian menyadari bahwa hampir setiap waktu kosong kini selalu ditemani oleh layar? Saat menunggu antrean, berada di transportasi umum, maupun beberapa menit sebelum tidur, tangan kita sering kali refleks mengambil smartphone. Aktivitas yang dahulu diisi dengan melamun atau sekadar mengamati lingkungan sekitar, kini berganti menjadi menggulir media sosial, menonton video singkat, atau mengecek notifikasi. Kebiasaan ini terasa begitu wajar sehingga kita jarang mempertanyakan mengapa rasa bosan seolah harus segera diatasi.
Di balik kebiasaan tersebut muncul, pertanyaan yang menarik: apakah rasa bosan memang selalu sesuatu yang harus dihindari? Dalam psikologi, kebosanan tidak hanya dipandang sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Eastwood et al. (2012) menjelaskan bahwa kebosanan muncul ketika seseorang ingin terlibat dalam suatu aktivitas, tetapi kesulitan menemukan aktivitas yang mampu mempertahankan perhatian atau memberikan makna. Sementara itu, Elpidorou (2018) menyatakan bahwa kebosanan juga memiliki fungsi adaptif karena dapat mendorong seseorang mengevaluasi aktivitas yang sedang dilakukan dan mencari pengalaman yang lebih bermakna.
Di era digital, cara kita merespons kebosanan tampaknya mulai berubah. Kemudahan mengakses hiburan, informasi, dan interaksi sosial melalui smartphone membuat perangkat tersebut sering menjadi pilihan pertama ketika rasa bosan muncul. Akibatnya, kita semakin terbiasa mengalihkan perhatian sebelum benar-benar memahami mengapa rasa bosan itu hadir (Elpidorou, 2018). Oleh karena itu, pembahasan mengenai penggunaan smartphone tidak hanya berkaitan dengan lamanya waktu menatap layar, tetapi juga tentang bagaimana teknologi membentuk cara kita merespons waktu kosong dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Smartphone Menjadi Respons Pertama Saat Bosan?
Pada dasarnya, kebosanan mendorong seseorang untuk mencari aktivitas yang lebih menarik atau bermakna (Eastwood et al., 2012). Di era digital, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan sangat mudah melalui smartphone. Dalam hitungan detik, kita dapat mengakses media sosial, menonton video singkat, membaca berita, atau menikmati berbagai bentuk hiburan lainnya. Kemudahan ini membuat smartphone sering menjadi respons pertama ketika rasa bosan muncul.
Temuan berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebosanan memang berkaitan dengan cara seseorang menggunakan teknologi digital. Systematic review oleh Tagliaferri et al. (2025) menunjukkan bahwa trait boredom merupakan salah satu faktor psikologis yang berkaitan dengan penggunaan teknologi digital yang bermasalah. Temuan tersebut diperkuat oleh meta-analisis Hu et al. (2025), yang menemukan hubungan positif antara kebosanan dan problematic smartphone use. Namun, temuan tersebut tidak menunjukkan bahwa penggunaan smartphone menjadi penyebab langsung munculnya masalah psikologis. Sebaliknya, smartphone lebih sering digunakan sebagai cara untuk meredakan rasa bosan. Dengan kata lain, hubungan yang ditemukan menunjukkan bahwa individu cenderung menggunakan smartphone sebagai respons terhadap rasa bosan, bukan bahwa penggunaan smartphone menjadi penyebab utama munculnya masalah psikologis.
Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada penggunaan smartphone itu sendiri, melainkan pada kebiasaan menjadikannya sebagai respons otomatis setiap kali rasa bosan muncul. Ketika kebiasaan tersebut terus berulang, kita mungkin perlahan kehilangan ruang untuk benar-benar mengalami kebosanan.
Ketika Kebosanan Tidak Lagi Memiliki Ruang
Persoalan utama bukan terletak pada penggunaan smartphone, melainkan ketika layar menjadi respons otomatis setiap kali rasa bosan muncul. Namun, ketika kebiasaan tersebut terjadi hampir setiap kali rasa bosan muncul, kita mungkin semakin jarang memberi kesempatan pada kebosanan untuk menjalankan fungsinya.
Menurut Elpidorou (2018), kebosanan bukan hanya pengalaman yang tidak menyenangkan, tetapi juga sinyal yang mendorong seseorang mengevaluasi apakah aktivitas yang sedang dilakukan masih memberikan makna atau keterlibatan. Rasa bosan dapat menjadi dorongan untuk mencoba aktivitas baru, menyusun prioritas, atau berhenti sejenak untuk merefleksikan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Ketika setiap rasa bosan langsung dialihkan melalui layar, proses tersebut dapat terlewati begitu saja.
Karena itu, persoalannya bukanlah apakah smartphone harus dihindari, melainkan apakah kita masih mampu memberi ruang bagi diri sendiri untuk sesekali mengalami kebosanan. Di tengah arus informasi dan hiburan yang tidak pernah berhenti, jeda sederhana tersebut justru dapat menjadi kesempatan untuk lebih mengenali diri sendiri dan membuat pilihan yang lebih sadar.
Di era digital, tantangannya bukan lagi sekadar membatasi penggunaan smartphone, tetapi belajar menggunakannya secara lebih sadar. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk sesekali mengalami kebosanan bukan berarti menolak teknologi, melainkan memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengenali apa yang benar-benar kita butuhkan, dan membuat pilihan yang lebih bijak.
Jadi, Psytroopers, ketika rasa bosan mulai datang, mungkin kita tidak perlu selalu terburu-buru mencari distraksi melalui layar. Sesekali, biarkan diri menikmati jeda tersebut. Siapa tahu, justru dari kebosanan itulah muncul ide baru, refleksi, atau pemahaman yang selama ini tidak sempat kita sadari.
Daftar Pustaka
Eastwood, J. D., Frischen, A., Fenske, M. J., & Smilek, D. (2012). The unengaged mind: Defining boredom in terms of attention. Perspectives on Psychological Science, 7(5), 482–495. https://doi.org/10.1177/1745691612456044
Elpidorou, A. (2018). The bored mind is a guiding mind: Toward a regulatory theory of boredom. Phenomenology and the Cognitive Sciences, 17(3), 455–484. https://doi.org/10.1007/s11097-017-9515-1
Hu, X., Zhao, Y., & Yu, C. (2025). The relationship between boredom and smartphone addiction before and after the outbreak of the COVID-19 pandemic: A systematic review and meta-analysis. Psychological Reports. Advance online publication. https://doi.org/10.1177/00332941251314713
Tagliaferri, G., Martí-Vilar, M., Frisari, F. V., Quaglieri, A., Mari, E., Burrai, J., Giannini, A. M., & Cricenti, C. (2025). Connected by boredom: A systematic review of the role of trait boredom in problematic technology use. Brain Sciences, 15(8), Article 794. https://doi.org/10.3390/brainsci15080794
