Loading
Loading...
Menu BINUS

Tidur sebagai Pilar Preventif: Hubungan Durasi Istirahat dengan Risiko Penyakit Kardiovaskular

Sumber foto: https://www.istockphoto.com/id/foto/ditembak-seorang-pemuda-tidur-nyenyak-di-tempat-tidur-di-rumah-gm1332616479-415408931

Setiap orang membutuhkan waktu istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Namun, durasi tidur yang tidak optimal, baik terlalu singkat maupun berlebihan, dapat berdampak pada keseimbangan proses biologis dalam tubuh. Gangguan pada metabolisme glukosa, tekanan darah, hingga peningkatan peradangan menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit kardiovaskular. Kondisi ini seringkali tidak disadari, padahal berisiko meningkatkan kejadian penyakit serius dalam jangka panjang. Oleh karena itu, memahami hubungan antara durasi istirahat dan risiko penyakit kardiovaskular menjadi hal penting untuk menjaga kualitas hidup.

Secara alami, tubuh manusia memiliki proses bernama nocturnal dipping. Proses tersebut adalah fenomena ketika tekanan darah menurun secara alami yang terjadi pada saat seseorang sedang tertidur lelap di malam hari (Hellosehat, 2021). Pada kondisi normal, tekanan darah akan turun 10-20% dari tekanan darah rata-rata ketika beraktivitas di siang hari. Proses tersebut sangat krusial bagi tubuh manusia karena pada saat tekanan darah menurun, pembuluh darah akan berelaksasi dan jantung manusia dapat bekerja lebih ringan dibandingkan ketika beraktivitas di siang hari. Pada proses ini, otot jantung dapat beristirahat dan risiko kerusakan jantung akibat kelelahan dapat berkurang. Sehingga, terjadinya proses nocturnal dipping yang baik dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular seperti stroke, hipertensi, dan serangan jantung. 

Selain itu, Kurang tidur juga dapat menyebabkan meningkatnya hormon kortisol (hormon stres), yang berfungsi untuk memberikan energi pada tubuh agar dapat merespons ketika sedang berada di situasi terancam. Ketika hormon kortisol diproduksi secara berlebihan, seseorang dapat mengalami stres, kenaikan gula darah, dan inflamasi (Alodokter, 2022). Secara bersamaan, juga terjadi penurunan hormon dopamin, yang berfungsi untuk memberikan perasaan senang. Pada kedua kondisi tersebut, seseorang akan lebih mudah mengalami kelelahan mental akibat stres, cemas, dan depresi (Halodoc, 2023). Jika hal tersebut terjadi, maka beban kerja jantung menjadi lebih berat, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. 

Kuantitas dan kualitas tidur memiliki pengaruh yang besar terhadap penyakit kardiovaskular. Berdasarkan Lao et al., (2018), penelitiannya menunjukkan bahwa rutinitas tidur yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama pada orang dewasa yang berusia 40 tahun atau lebih. 

Selain itu, penelitian lain membuktikan bahwa durasi tidur 7–8 jam per malam adalah standar terbaik bagi kesehatan manusia. Berdasarkan penelitian Zhou et al. (2020), durasi tidur >9 jam per malam dapat meningkatkan risiko penyakit stroke. Sementara itu, durasi tidur <6 jam per malam memiliki risiko penyakit stroke yang lebih rendah dibandingkan dengan durasi tidur >9 jam. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa durasi tidur yang terlalu lama atau terlalu singkat dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Penelitian yang dilakukan pada pasien penderita hipertensi di Kota Malang menunjukkan hasil bahwa 33,3% dari pasien memiliki pola tidur yang baik dan mengalami hipertensi sedang atau derajat 2. Sedangkan pasien yang memiliki hipertensi derajat 3 atau berat memiliki pola tidur yang buruk (Alfi & Yuliwar, 2018).

Pencegahan penyakit kardiovaskular dapat dilakukan dengan cara yang mudah, yaitu memperbaiki pola tidur menjadi baik secara konsisten. Menerapkan jadwal tidur yang sama setiap harinya menjaga ritme jam biologis tubuh; hal tersebut membuat proses pemulihan kondisi jam tidur lebih optimal. 

Menerapkan sleep hygiene (kebiasaan untuk menjaga kondisi tidur lebih berkualitas) juga sangat baik bagi kondisi tubuh. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi tidur yang nyaman dan tenang, sehingga membuat tubuh menjadi mudah tertidur dengan kualitas yang baik (Alodokter, 2025). Konsumsi kafein, alkohol, dan makanan berat sebelum tidur adalah hal yang harus dihindari karena dapat merangsang sistem saraf tubuh untuk memasuki kondisi fokus (Alodokter, 2022a). Berlawanan dengan hal tersebut, tubuh dapat memasuki fase tidur berkualitas melalui bantuan dari pola makan sehat dan olahraga rutin. 

Apabila telah menerapkan sleep hygiene tetapi gangguan tidur tetap terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter agar bisa mendapatkan solusi terbaik bagi tubuh. Penanganan dini dapat menjadi langkah terbaik untuk menjaga kesehatan Kardiovaskular.

Tidur memiliki peran penting sebagai salah satu langkah preventif dalam menjaga kesehatan kardiovaskular. Durasi tidur yang tidak optimal, baik terlalu singkat maupun berlebihan, dapat mengganggu proses biologis tubuh seperti tekanan darah, metabolisme, keseimbangan hormon, dan peradangan. Jika diteruskan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi, stroke, dan serangan jantung. Maka dari itu, menjaga pola tidur yang teratur dan berkualitas melalui penerapan sleep hygiene, pola hidup sehat, serta penanganan dini terhadap gangguan tidur merupakan upaya penting untuk melindungi kesehatan jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang.

Daftar Pustaka 

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.