Iri Hati dalam Agama Buddha

Halo teman-teman se-Dhamma, Namo Buddhaya. Pemilu 14 Februari 2024 telah dilaksanakan. Apakah pembaca disini menggunakan hak suaranya untuk mencoblos? Apakah pembaca disini yakin pilihannya pasti menang? Bagaimana jika pilihan pembaca kalah? Apakah pembaca akan iri hati terhadap pemenang? Sebagai umat Buddha, perlu untuk menghilangkan sifat iri hati. Maka dari itu, kali ini penulis akan membahas tentang iri hati dan cara menghilangkannya.

Iri hati adalah perasaan gelisah atas pencapaian orang lain dan tidak dapat berlapang dada karena kemelekatan pada pencapaian diri sendiri. Karena adanya iri hati, maka munculnya rasa benci dan dengki. Seseorang yang iri atas pencapaian orang lain cenderung akan terus mengejar dan bersaing untuk mengalahkan orang lain. Dalam agama Buddha, iri hati disebabkan oleh keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin serta keinginan yang tidak tercapai. 

Iri hati memiliki banyak sebab, seperti permusuhan, pekerjaan yang buruk, sulit mengendalikan diri, hubungan sosial tidak baik, dan tidak punya kewaspadaan. Permusuhan merupakan akar dari iri hati karena seseorang akan selalu benci dengan pencapaian musuhnya. Pekerjaan yang buruk menyebabkan seseorang iri hati dengan pekerjaan orang lain yang lebih baik dari dirinya. Selain itu, hubungan sosial dengan masyarakat tidak harmonis sehingga muncul iri hati terhadap orang lain yang dikenal baik oleh masyarakat. Sehingga seseorang sulit untuk mengendalikan diri dan tidak punya kewaspadaan terhadap diri mereka dalam mengendalikan rasa iri hati baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Iri hati dapat dihilangkan dengan cara mengembangkan sifat Kalyana Dhamma. Kalyana Dhamma terdiri dari Metta-Karuna, Samma-Ajiva, Kammasamvara, Sacca, dan Sati-Sampajanna. Pelaksanaan Metta-Karuna dengan memberikan cinta kasih kepada semua makhluk supaya semua makhluk dapat berbahagia sehingga tidak ada pembenci dan memiliki banyak teman. Pelaksanaan Samma-Ajiva dengan melakukan mata pencaharian yang sesuai hukum dan sesuai Dhamma sehingga tidak ada rasa cemburu dengan usaha orang lain. Pelaksanaan Kammasamvara dengan menahan nafsu indera sehingga bisa mengendalikan diri untuk meredam sifat iri hati. Pelaksanaan Sacca dengan berbicara jujur dan sesuai kebenaran sehingga dapat dipercaya dan dihargai. Pelaksanaan Sati-Sampajanna dengan berkesadaran penuh atau waspada sehingga dapat menjaga pikiran, ucapan, dan perbuatan dari hal yang buruk.

Sumber:

Haudi & Fernandes W. (2021). Manfaat Pelaksanaan Kalyana Dhamma Dalam Mengatasi Sifat Iri Hati. Jurnal Ilmu Agama dan Pendidikan Agama Buddha. 2(1). 29-39

Berzin, A. (2023). Iri Hati: Menangani Perasaan Gelisah. Diakses pada 17 Januari 2024. https://studybuddhism.com/id/buddhisme-tibet/latihan-cita/menangani-perasaan-gelisah/iri-hati-menangani-perasaan-gelisah

Brian Casey Reynard