Pernah ga sih kalian kehilangan seseorang sampai rasanya otak dan hati ikutan kacau? Menariknya, pengalaman kehilangan tidak hanya berdampak pada emosi, tetapi juga pada cara kerja otak. Nah, sebenarnya kehilangan bukan hanya luka emosional, tetapi juga mengacaukan otak kita dan bisa menarik perhatian, mengganggu konsentrasi, serta muncul di saat yang tidak tepat. Otak kita sedang berusaha memproses semua emosi yang tidak bisa segera diatasi dan ada alasannya. Di dalam proses ini, otak harus memperbarui ekspektasi dan respons emosional beralih dari harapan pertemuan kembali yang didasari ikatan emosional menuju kesadaran yang menyakitkan akan kehilangan (Nikolaos, 2025).
Ketika kita menyayangi seseorang, otak menciptakan sebuah ide akan mereka, menyimpan memori tentang mereka, dan memprediksi perilaku mereka terhadap kita. Kita tetap berekspektasi atas kehadiran mereka. Ketika kehadiran seseorang telah menjadi bagian dari prediksi sehari-hari kita, ketidakhadiran mereka dapat menciptakan prediction error, ketidaksesuaian antara apa yang diharapkan dan apa yang terjadi. Ketidaksesuaian ini membantu menjelaskan mengapa setelah kehilangan, otak terus mengantisipasi kehadiran orang tersebut. Proses ini dapat mengganggu keseharian hingga otak perlahan menyesuaikan diri terhadap realitas baru.
Ketika duka tidak mereda dalam jangka waktu panjang, otak bisa terjebak di dalam pola error prediction yang berulang. Salah satu psikolog bernama Bryant (2026) menjelaskan bahwa kondisi ini dikenal sebagai Prolonged Grief Disorder (PGD). Sistem kognitif akan beradaptasi dan melibatkan daerah utama seperti korteks cingulate anterior dan amigdala yang berperan dalam pengaturan emosi, perhatian terhadap rasa sakit sosial, serta pemrosesan emosi intens seperti kesedihan dan ketakutan. Aktivasi kedua area ini menjelaskan mengapa kehilangan seseorang yang dekat dapat memunculkan respons emosional yang kuat dan berulang, bahkan setelah waktu yang lama. Bryant menyoroti bahwa PGD ditandai oleh rasa rindu yang mendalam terhadap seseorang tersebut, keterfokusan pada kehilangan tersebut, serta gejala-gejala seperti penolakan terhadap kehilangan, kemarahan, hilangnya identitas dan makna, kesepian, serta menarik diri dari berbagai aktivitas dan hubungan.
Dijelaskan oleh O’Connor bahwa duka dapat muncul dalam bentuk fisik yang membuat hormon stress dan detak jantung meningkat, sehingga dapat berdampak langsung pada kesehatan fisik kita. Ikatan emosional yang panjang dapat menimbulkan perubahan epigenetik yang bertahan lama. Kondisi ini membuat sistem saraf kita kewalahan untuk benar-benar merelakan kepergian mereka. Rindu yang mendalam akan disertai dengan emosi yang intens dan menyakitkan. Pikiran tentang orang yang disayang akan mendominasi pikiran, dan sering kali mengganggu berbagai aktivitas, dan situasi yang mengingatkan kita kepada orang tersebut. Bahkan minat dan keterlibatan kita terhadap kehidupan sehari-hari akan menurun atau hilang sama sekali (Shear, 2005).
Ketika berduka, korteks prefrontal yang biasanya membantu kita mengendalikan emosi dan membuat keputusan bekerja lebih lambat. Hal ini membuat kita mudah kehilangan fokus dan kesulitan mengambil keputusan. Semakin lama, perhatian dan memori kita perlahan bergeser dari rasa kehilangan menuju proses menata ulang kehidupan. Sedangkan hipokampus dan amigdala menjadi lebih aktif yang menyebabkan seseorang sering memikirkan mereka. Kehilangan seseorang yang menjadi bagian dari sistem dopamin kita membuat otak terus mencari keberadaan mereka, karena sistem ini berperan dalam motivasi dan rasa keterikatan. Karena hubungan dekat berkaitan dengan sistem reward dan motivasi di otak, kehilangan seseorang dapat membuat aktivitas yang sebelumnya terasa bermakna menjadi kurang menarik. Perubahan ini secara bertahap dapat menurunkan motivasi dan keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari, seiring otak beradaptasi terhadap absennya sumber makna dan keterikatan tersebut. (Nikolaos, 2026).
Selain pengaruhnya ke dalam diri kita maupun otak kita sendiri, duka akan mengubah perlakuan kita kepada orang lain contohnya, dengan bagaimana cara kita merespons cerita orang lain. Hal-hal yang biasanya penting akan terasa biasa saja, bukan karena tidak relevan, melainkan karena perhatian kita tersita oleh duka. Di saat kita sedang mendengarkan teman kita bercerita, kita sering kali tidak sepenuhnya memberi perhatian. Rasanya akan campur aduk karena kita akan ingin meninggalkan suatu percakapan.
Seseorang dapat merasa bersalah sekaligus kesal, meskipun topik yang dibicarakan tidak berkaitan dengan duka yang sedang dialami karena sistem kognitif masih beradaptasi terhadap emosi kehilangan. Di balik semua itu, artinya otak kita sedang memproses hal yang tidak bisa secepatnya diselesaikan. Dan ketika kita memikul beban perasaan sebesar itu, kita mungkin akan tidak memiliki kapasitas untuk menangani hal lain.
Terkadang rasa sakit itu akan datang kembali jika kita menemui hal hal yang berhubungan dengan mereka. Meskipun akan memakan banyak waktu untuk menyesuaikan dengan situasi baru. Seiring berjalannya waktu duka akan terasa lebih ringan. Bukan berarti perasaannya hilang, tetapi karena kapasitas kita untuk menanganinya akan membesar. Namun memori kita tentang mereka akan selalu ada.
Duka tidak bisa dihapuskan, tapi tubuh dan otak kita akan menyesuaikan. Kehilangan bukan berarti melupakan, melainkan belajar menemukan cara baru untuk menjalani hidup. Pada akhirnya duka bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana otak kita membangun ulang kapasitas untuk mencintai dan terhubung kembali. Ayo kita mulai dengan mengenali emosi tanpa menghakimi, memberi waktu bagi diri untuk pulih, dan menemukan makna baru dari kehilangan. Karena setiap proses adalah bagian dari perjalanan menuju keseimbangan.
Referensi
Statharakos, N. (2025). Unraveling the Neurobiology of Grief: Insights into Brain and Behavior–Narrative Review. Brain Science Advances, 11(3). https://doi.org/10.26599/bsa.2025.905001
Bryant, R. A., Breukelaar, I. A., & Korgaonkar, M. (2026). A neurobiological perspective on prolonged grief disorder. Trends in Neurosciences. https://doi.org/10.1016/j.tins.2026.01.001
Shear, K., & Shair, H. (2005). Attachment, loss, and complicated grief. Developmental Psychobiology, 47(3), 253–267. https://doi.org/10.1002/dev.20091
O’Connor, M.-F., Wellisch, D. K., Stanton, A. L., Eisenberger, N. I., Irwin, M. R., & Lieberman, M. D. (2008). Craving love? Enduring grief activates brain’s reward center. NeuroImage, 42(2), 969–972. https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2008.04.256
