Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola aktivitas generasi muda secara signifikan. Penggunaan gawai untuk belajar, bekerja, maupun hiburan membuat sebagian besar waktu dihabiskan dalam posisi duduk dengan aktivitas fisik yang minim. Kondisi ini dikenal sebagai gaya hidup sedenter (sedentary lifestyle), yaitu perilaku yang ditandai dengan rendahnya aktivitas fisik dan tingginya durasi duduk atau berbaring. Fenomena tersebut menjadi perhatian karena berkaitan erat dengan meningkatnya risiko obesitas pada usia muda.
.Menurut Liu et al. (2022), prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada anak serta remaja terus mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian mereka terhadap remaja usia 13–18 tahun di Xinjiang, Tiongkok, menunjukkan bahwa individu dengan tingkat perilaku sedenter yang tinggi memiliki risiko mengalami kelebihan berat badan atau obesitas sebesar 1,45 kali lebih besar dibandingkan kelompok dengan perilaku sedenter yang rendah.
Aktivitas sedenter yang dilakukan secara terus-menerus menyebabkan pengeluaran energi tubuh menjadi lebih rendah dibandingkan energi yang diperoleh dari makanan. Kondisi tersebut menciptakan surplus energi yang kemudian disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Semakin lama seseorang menghabiskan waktu untuk duduk tanpa diselingi aktivitas fisik, semakin kecil kesempatan tubuh membakar kalori secara optimal. Kebiasaan ini juga sering disertai perilaku makan tanpa disadari, seperti mengonsumsi makanan ringan ketika menonton video, bermain gim, atau menggunakan media sosial. Akumulasi kedua kebiasaan tersebut dapat meningkatkan berat badan secara bertahap hingga berkembang menjadi obesitas. Meskipun demikian, hubungan antara perilaku sedenter dan obesitas tidak bersifat mutlak karena masih dipengaruhi oleh pola makan dan tingkat aktivitas fisik setiap individu(Biddle et al., 2017) .
Dampak gaya hidup sedenter tidak hanya terlihat dari perubahan berat badan, tetapi juga dari perubahan proses metabolisme tubuh. Duduk dalam waktu yang lama dapat menurunkan aktivitas otot rangka yang berperan dalam penggunaan glukosa dan lemak sebagai sumber energi. Akibatnya, sensitivitas insulin dapat menurun, metabolisme lemak menjadi kurang efisien, dan penumpukan lemak lebih mudah terjadi apabila kebiasaan tersebut berlangsung dalam jangka panjang. Pada remaja, kondisi ini perlu mendapat perhatian karena masa pertumbuhan merupakan periode penting dalam pembentukan kebiasaan hidup yang akan terbawa hingga dewasa. Oleh sebab itu, semakin dini perilaku sedenter menjadi rutinitas, semakin besar pula kemungkinan munculnya berbagai gangguan metabolik di kemudian hari.
Upaya menurunkan risiko obesitas tidak cukup hanya dengan mengurangi waktu penggunaan gawai, tetapi juga perlu disertai peningkatan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari. Azevedo et al. (2016) menemukan bahwa intervensi yang bertujuan mengurangi perilaku sedenter memberikan dampak positif terhadap indeks massa tubuh (IMT) anak dan remaja, terutama apabila disertai peningkatan aktivitas fisik. Kebiasaan sederhana, seperti berjalan kaki, menggunakan tangga, bersepeda, atau melakukan olahraga secara rutin, dapat membantu meningkatkan pengeluaran energi sekaligus memperbaiki fungsi metabolisme tubuh.
Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya hidup sedenter yang berkembang seiring pesatnya penggunaan teknologi digital memiliki kaitan erat dengan meningkatnya risiko obesitas pada generasi muda. Rendahnya aktivitas fisik yang disertai durasi duduk berlebihan dapat mendorong terjadinya surplus energi, penurunan sensitivitas insulin, dan gangguan metabolisme yang pada akhirnya mempermudah penumpukan lemak tubuh. Meskipun kekuatan hubungan ini turut dipengaruhi oleh pola makan dan kebiasaan aktivitas masing- masing individu, berbagai penelitian yang telah dipaparkan cukup konsisten menegaskan bahwa perilaku sedenter merupakan faktor risiko yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, pencegahan obesitas pada generasi muda perlu dilakukan secara menyeluruh, yaitu dengan membatasi waktu penggunaan gawai sekaligus membiasakan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari- hari. Kesadaran untuk menerapkan gaya hidup aktif sejak dini diharapkan dapat menurunkan angka obesitas dan mewujudkan generasi muda yang lebih sehat di masa depan.
Daftar Pustaka
- Liu, H., Bi, C., Lin, H., Ma, W., Zhang, J., Hu, Y.-Y., & Liu, J.-Z. (2022). Compared with dietary behavior and physical activity risk, sedentary behavior risk is an important factor in overweight and obesity: Evidence from a study of children and adolescents aged 13–18 years in Xinjiang, China. BMC Pediatrics, 22, 582. https://doi.org/10.1186/s12887-022-03646-y
- Lu, T., Li, M., Zhang, R., Li, R., Shen, S., Chen, Q., Liu, R., Wang, J., Qu, Y., & Xu, L. (2025). Associations of academic study- and non-study-related sedentary behaviors with incident obesity in children and adolescents. Nutrients, 17(10), 1633. https://doi.org/10.3390/nu17101633
- Biddle, S. J. H., García Bengoechea, E., & Wiesner, G. (2017). Sedentary behaviour and adiposity in youth: A systematic review of reviews and analysis of causality. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 14(43). https://doi.org/10.1186/s12966-017-0497-8
- Azevedo, L. B., Ling, J., Soos, I., Robalino, S., & Ells, L. (2016). The effectiveness of sedentary behaviour interventions for reducing body mass index in children and adolescents: Systematic review and meta-analysis. Obesity Reviews, 17(7), 623–635. https://doi.org/10.1111/obr.12414
