PERPUSTAKAAN GRATIS 2026/2027
Unwrap the Book, Find the Story, Feel the Meaning
Perpustakaan Gratis 2026 merupakan kegiatan kolaborasi yang dilakukan Teach For Indonesia Student Community (TFISC) dan Himpunan Mahasiswa Desain Interior (HIMDI) selama lima hari yaitu pada tanggal 9,10,11,12, dan 15 Juni di Sekolah Dasar Muhammadiyah 48, Jakarta Barat sebagai bentuk kontribusi untuk meningkatkan literasi pada usia anak sejak dini. Peserta dalam kegiatan ini merupakan siswa-siswi SD Muhammadiyah 48. Kegiatan ini dilakukan untuk mengajarkan kepada anak-anak betapa pentingnya membaca melalui kegiatan yang menyenangkan, ekspresif, dan edukatif. Setiap harinya, masing-masing kelas, mulai dari kelas satu sampai kelas lima akan didatangi oleh panitia secara bergantian untuk bermain games, memaparkan materi, dan melakukan kegiatan-kegiatan seperti mewarnai serta bercerita. Untuk meningkatkan proses berpikir kritis, anak-anak juga diarahkan untuk mengerti isi cerita yang dibaca, menceritakannya, dan memberi makna dari cerita yang dibaca.
Day 1
Komunitas mahasiswa Teach For Indonesia Student Community (TFISC) bersama Himpunan Mahasiswa Desain Interior (HIMDI) resmi memulai hari pertama program kolaborasi “Perpustakaan Gratis 2026” di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 48, Jakarta Barat. Kegiatan yang difokuskan bagi siswa-siswi kelas lima ini bertujuan utama untuk meningkatkan literasi dan menumbuhkan minat baca sejak dini melalui pendekatan yang edukatif. Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 07.20 WIB dengan koordinasi internal atau briefing oleh seluruh panitia di lokasi. Tepat pukul 07.35 WIB, aktivitas di dalam kelas resmi dibuka dengan pembacaan doa bersama dan sesi perkenalan antara panitia dan siswa. Guna membangun kedekatan dan mencairkan suasana sebelum masuk ke materi inti, panitia terlebih dahulu menggelar sesi permainan penyemangat atau ice breaking.
Memasuki agenda utama, panitia menyampaikan materi edukasi mengenai urgensi dan manfaat membaca. Dalam sesi ini, siswa diberikan pemahaman bahwa membaca merupakan aktivitas praktis dan menyenangkan yang dapat membuka wawasan serta melatih daya imajinasi melalui kisah-kisah unik di dalam buku. Setelah waktu istirahat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kompetisi cerdas cermat untuk menguji kembali pemahaman siswa terkait materi literasi yang telah disampaikan sebelumnya.
Siswa kemudian diarahkan untuk mengikuti sesi “kertas harapan”, di mana masing-masing anak menuliskan cita-cita dan harapan masa depan mereka. Setelah itu, aktivitas literasi langsung dipraktekkan melalui kegiatan membaca buku bersama selama 30 menit. Kegiatan membaca ini lalu dikombinasikan dengan sesi story telling, yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk menceritakan kembali ilmu atau kisah menarik yang baru saja mereka serap dari buku yang dibagikan.
Menjelang akhir kelas, para siswa dipandu untuk membuat dan menghias pembatas buku atau bookmark kustom sesuai dengan imajinasi mereka sendiri, dengan tujuan agar siswa lebih termotivasi untuk membaca di kemudian hari. Seluruh rangkaian aktivitas bersama siswa di dalam kelas ditutup dengan dokumentasi bersama dan doa penutup. Pasca Aktivitas kelas usai, panitia dari TFISC dan HIMDI melanjutkan agenda dengan melakukan revitalisasi pojok baca kelas lima guna menciptakan lingkungan literasi yang lebih nyaman bagi siswa.
Day 2
Pada hari kedua pelaksanaan kegiatan, fokus program dialihkan kepada siswa-siswi kelas satu dan kelas tiga Sekolah Dasar. Mengambil tempat di ruang kelas masing-masing, rangkaian acara pada hari Rabu ini diawali secara bersamaan dengan sesi briefing panitia, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan serta ice breaking untuk memantik semangat para peserta. Sesi inti dimulai dengan pemaparan materi edukatif bertajuk “Menemukan Cerita Dalam Buku”. Melalui penyampaian ini, anak-anak diajak untuk memahami bahwa sebuah cerita memiliki unsur-unsur pembentuk, karakteristik unik, dan jenisnya masing-masing. Tidak hanya dibekali teori seputar literasi, para peserta juga diajarkan metode praktis untuk memahami isi bacaan dengan mudah, serta disadarkan bahwa setiap buku menyimpan kisah berbeda yang siap ditemukan di balik lembaran-lembarannya.
Setelah pemaparan materi selesai, kegiatan diberi jeda sejenak untuk memberikan waktu istirahat bagi anak-anak. Guna mengembalikan energi dan fokus peserta, panitia membuka sesi berikutnya dengan permainan interaktif yang efektif mencairkan suasana. Melanjutkan tradisi dari hari sebelumnya, anak-anak kemudian diarahkan untuk membuat “Kertas Harapan”. Pada sesi ini, mereka menuliskan impian serta cita-cita masa depan pada secarik kertas sebagai simbol motivasi belajar yang tinggi.
Aktivitas kemudian berlanjut ke praktik literasi secara langsung. Panitia membagikan buku bacaan kepada setiap peserta, di mana mereka ditantang untuk menerapkan metode yang telah dipelajari, yaitu membaca sekaligus menemukan makna terdalam dari buku tersebut. Sebagai puncak dari proses belajar, anak-anak didorong untuk melakukan kegiatan story telling. Secara bergantian, mereka maju ke depan untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka pahami dengan bahasa sendiri, yang sekaligus melatih rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi publik sejak dini. Acara di hari kedua diakhiri dengan doa penutup dan kegiatan revitalisasi di kelas satu dan kelas tiga bersama TFISC dan HIMDI
Day 3
Memasuki hari ketiga pelaksanaan kegiatan, panitia mengawali agenda dengan sesi briefing koordinasi demi memastikan kelancaran seluruh rangkaian acara. Mengingat target peserta hari ini adalah siswa-siswi kelas empat, kegiatan dibuka dengan sesi ice breaking yang interaktif untuk menciptakan atmosfer yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi inti yang bertajuk “Berani Menceritakan Cerita”. Melalui materi ini, para peserta diajak untuk memahami pentingnya membagikan cerita kepada sesama, yang tidak hanya bermanfaat bagi pendengar, tetapi juga efektif dalam melatih keberanian, mengasah kemampuan berbicara, serta membangun rasa percaya diri sejak dini. Menyadari bahwa tantangan terbesar anak-anak dalam bercerita adalah rasa canggung atau kurang percaya diri, panitia juga membekali mereka dengan berbagai tips praktis untuk mengatasinya.
Hari ketiga ini menanamkan pemahaman berharga kepada para siswa bahwa mereka tidak perlu takut untuk berekspresi, sebab setiap orang memiliki keunikan dan cara tersendiri dalam menyampaikan sebuah kisah.Setelah jeda istirahat, antusiasme peserta kembali dipantik melalui sesi permainan edukatif pada sesi berikutnya. Dalam aktivitas ini, anak-anak ditantang untuk membaca cerpen hasil karya mereka sendiri dan menceritakannya secara langsung di hadapan teman-temannya. Sebagai bentuk apresiasi terhadap keberanian mereka, panitia memberikan hadiah khusus bagi para peserta yang tampil ke depan. Melanjutkan tradisi positif dari hari-hari sebelumnya, kegiatan kemudian beralih ke pembuatan “Kertas Harapan”, di mana anak-anak kembali menuangkan impian masa depan mereka.
Rangkaian pembelajaran hari itu ditutup dengan aktivitas membaca mandiri, di mana para siswa menyelami buku pilihan mereka untuk kemudian dipraktikkan dalam sesi storytelling. Setelah seluruh agenda utama bersama siswa kelas empat diakhiri dengan doa penutup oleh panitia, kegiatan hari ketiga ini pun dilanjutkan dengan aksi nyata berupa revitalisasi pojok baca di ruang kelas empat.
Day 4
Memasuki hari keempat pelaksanaan program, komitmen panitia tidak berkurang sedikit pun yang dibuktikan dengan pelaksanaan briefing pagi secara konsisten, disusul pembukaan hangat serta sesi ice breaking yang dirancang khusus untuk membangkitkan energi ceria peserta. Pada kesempatan kali ini, program edukasi menyasar anak-anak yang berada di jenjang kelas satu dan kelas dua, dengan fokus materi yang diarahkan pada cara menemukan makna serta pesan tersembunyi di balik sebuah cerita. Dalam sesi yang berlangsung interaktif ini, anak-anak diajarkan bahwa setiap paragraf dalam sebuah bacaan bukan sekadar deretan kalimat biasa, melainkan menyimpan pesan moral dan instruksi kebaikan yang mendalam. Panitia juga mengedukasi para peserta mengenai alasan mendasar mengapa sebuah cerita harus memiliki pesan, yaitu untuk memberikan pelajaran hidup yang berharga, menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang baik, serta membantu pembaca cilik ini belajar mengambil hikmah dari pengalaman para tokoh yang ada di dalam buku.
Guna mempermudah anak-anak kelas satu dan dua dalam mencerna materi yang abstrak tersebut, panitia memanfaatkan pendekatan naratif dengan mengilustrasikan kisah fabel klasik tentang perlombaan antara kura-kura dan kelinci. Melalui analogi cerita yang dekat dengan dunia anak-anak ini, mereka diajarkan secara konkret mengenai dampak buruk dari sifat sombong dan meremehkan orang lain, sekaligus memetik nilai penting tentang kerja keras, konsistensi, serta pantang menyerah dalam mencapai sebuah tujuan. Hari keempat ini berhasil menanamkan kesadaran baru yang sangat berharga bagi para siswa, bahwa aktivitas membaca buku bukan sekadar kegiatan menghabiskan halaman, melainkan sebuah proses terbuka dalam menerima, menyerap, dan mengaplikasikan pelajaran serta teladan baik yang terkandung di dalam setiap cerita yang mereka baca. Seluruh rangkaian aktivitas edukasi interaktif pada hari keempat ini akhirnya ditutup dengan khidmat melalui doa bersama yang dipimpin oleh panitia. Panitia segera melanjutkan kegiatan revitalisasi pojok baca secara menyeluruh dan intensif, yang berlangsung dengan penuh semangat gotong royong.
Day 5
Tibalah hari puncak yang dinanti-nantikan, yaitu hari kelima sekaligus penutup dari seluruh rangkaian program “Perpustakaan Gratis 2026”. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, hari terakhir ini melibatkan seluruh siswa-siswi secara serentak, mulai dari kelas satu hingga kelas lima. Agenda krusial ini diawali dengan berkumpulnya seluruh panitia untuk melakukan koordinasi dan briefing matang sejak pukul 08.00 hingga 08.25 WIB, guna memastikan setiap detail acara puncak berjalan tanpa hambatan. Setelah persiapan dirasa matang, panitia segera mengarahkan seluruh peserta menuju lapangan yang menjadi pusat lokasi perayaan hari terakhir ini.
Acara di lapangan dibuka secara resmi dengan pembukaan hangat dan doa bersama yang dipimpin oleh panitia, dilanjutkan dengan serangkaian sambutan formal. Apresiasi dan motivasi pertama kali disampaikan melalui sambutan dari Ketua Region Kemanggisan TFISC, yang kemudian diteruskan oleh Project Manager Perpustakaan Gratis 2026 yang memaparkan kilas balik serta harapan dari program ini untuk anak-anak kedepannya. Kata sambutan dilanjutkan oleh Ketua Region Kemanggisan HIMDI, sebelum akhirnya ditutup dengan kata sambutan oleh perwakilan pihak sekolah, yaitu Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 48 Jakarta, yang menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kontribusi nyata para panitia bagi para siswa.
Tibalah hari puncak yang dinanti-nantikan, yaitu hari kelima sekaligus penutup dari seluruh rangkaian program “Perpustakaan Gratis 2026”. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, hari terakhir ini melibatkan seluruh siswa-siswi secara serentak, mulai dari kelas satu hingga kelas lima. Agenda krusial ini diawali dengan berkumpulnya seluruh panitia untuk melakukan koordinasi dan briefing matang sejak pukul 08.00 hingga 08.25 WIB, guna memastikan setiap detail acara puncak berjalan tanpa hambatan. Setelah persiapan dirasa matang, panitia segera mengarahkan seluruh peserta menuju lapangan yang menjadi pusat lokasi perayaan hari terakhir ini.
Acara di lapangan dibuka secara resmi dengan pembukaan hangat dan doa bersama yang dipimpin oleh panitia, dilanjutkan dengan serangkaian sambutan formal. Apresiasi dan motivasi pertama kali disampaikan melalui sambutan dari Ketua Region Kemanggisan TFISC, yang kemudian diteruskan oleh Project Manager Perpustakaan Gratis 2026 yang memaparkan kilas balik serta harapan dari program ini untuk anak-anak kedepannya. Kata sambutan dilanjutkan oleh Ketua Region Kemanggisan HIMDI, sebelum akhirnya ditutup dengan kata sambutan oleh perwakilan pihak sekolah, yaitu Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 48 Jakarta, yang menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kontribusi nyata para panitia bagi para siswa.








