Loading
Loading...
Menu BINUS

Under Academic Pressure: Ketika Nilai Mempengaruhi Self-Esteem dan Mental Health Mahasiswa

Sumber: https://www.shutterstock.com/id/search/academic-pressure 

Kehidupan perkuliahan merupakan fase transisi menuju kedewasaan yang disertai peningkatan tuntutan akademik dan tanggung jawab personal. Mahasiswa dituntut mandiri dalam mengatur waktu, memahami materi, serta menyelesaikan berbagai tugas. Selain itu, keterlibatan dalam organisasi, pekerjaan paruh waktu, dan kehidupan sosial turut menambah beban, sehingga menciptakan dinamika yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa.

Dalam kondisi ini, mahasiswa sering mengalami academic pressure, yaitu tuntutan untuk mencapai performa akademik yang tinggi. Tekanan ini berasal dari beban tugas, persaingan, dan ekspektasi terhadap hasil. World Health Organization (2022) dan American Psychological Association (2019) menyebutkan bahwa tekanan akademik menjadi salah satu sumber stres utama pada masa dewasa awal. Jika tidak dikelola, hal ini dapat menurunkan self-esteem, ditandai dengan berkurangnya kepercayaan diri dan munculnya keraguan terhadap kemampuan diri. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi gangguan mental, sejalan dengan data dari National Institute of Mental Health menunjukkan bahwa kelompok usia 18–25 tahun memiliki prevalensi kecemasan dan depresi yang cukup tinggi, serta berbagai penelitian juga mengaitkan tekanan akademik dengan stres, kelelahan, dan penurunan kesejahteraan psikologis (PSEB, 2023; Medula, 2020).

Tekanan akademik sering terjadi akibat beban tugas yang tinggi dan waktu pengerjaan yang terbatas, sehingga mahasiswa dituntut bekerja lebih cepat dan efisien. Kondisi ini diperparah oleh kecenderungan perfeksionisme, dimana mahasiswa merasa harus selalu mencapai hasil yang sempurna, sehingga sulit menerima kesalahan dan takut akan kegagalan. Selain itu, persaingan akademik yang tidak sehat serta munculnya ekspektasi tinggi baik dari diri sendiri maupun lingkungan, mendorong mahasiswa untuk membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain. Dengan tuntutan yang terus bertambah dan workload yang berlebihan, mahasiswa semakin merasa kemampuan yang dimiliki tidak sebanding dengan beban yang dihadapi. Apabila tekanan berlangsung secara terus-menerus, kondisi ini akan berdampak pada self-esteem dan kesehatan mental mahasiswa. 

Tuntutan akademik seharusnya berperan sebagai motivasi mahasiswa agar lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berusaha untuk meraih pencapain. Namun, ketika tuntutan tersebut berubah menjadi beban dan menimbulkan tekanan, dampak yang dirasakan justru menjadi negatif. Mahasiswa dapat mengalami kecemasan (anxiety), kesulitan mengontrol pikiran, hingga overthinking terus-menerus, membuat mahasiswa merasa lelah secara mental dan emosional. Tidak hanya itu, rasa takut gagal dan khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi, mendorong mahasiswa untuk membandingkan diri dengan orang lain, yang pada akhirnya menurunkan self-esteem mereka. Mahasiswa mulai memandang dirinya tidak cukup baik dan kehilangan kepercayaan diri, bahkan memunculkan learned helplessness, yaitu perasaan bahwa usaha yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil.

Dampak lain yang sering muncul adalah kelelahan fisik dan mental. Tugas yang menumpuk dan tuntutan untuk terus produktif membuat mahasiswa sulit untuk beristirahat dengan cukup. Hal ini menyebabkan pola tidur dan makan terganggu, konsentrasi menurun, dan produktivitas berkurang. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka akan memicu kelelahan yang ekstrem (burnout), yang ditandai dengan hilangnya motivasi dan ketidakmampuan untuk menjalankan aktivitas sehari-harii. Bahkan tekanan yang berkepanjangan berisiko memicu depresi, yang dapat menganggu kejernihan berpikir hingga munculnya perilaku negatif, seperti melukai diri sendiri.

Oleh karena itu, pengelolaan tekanan akademik menjadi penting agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Mahasiswa perlu menerapkan strategi preventif dan adaptif, seperti manajemen waktu yang efektif untuk menyeimbangkan tuntutan akademik dan kebutuhan istirahat. Selain itu, kemampuan dalam menetapkan prioritas dan menghindari penundaan juga menjadi kunci dalam mengurangi beban yang berlebihan. Upaya tersebut perlu didukung dengan penerapan pola hidup sehat, seperti olahraga rutin dan tidur yang cukup, guna menjaga stabilitas fisik dan mental.

Di samping itu, dukungan emosional dari teman, keluarga, maupun tenaga profesional dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi serta meningkatkan kemampuan coping individu. Di sisi lain, institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang suportif melalui penyediaan layanan konseling, program manajemen stres, serta sistem pembelajaran yang lebih adaptif. Dengan dukungan yang memadai, mahasiswa dapat menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan kesehatan mental secara berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.