Ada satu ungkapan Latin yang sudah dikenal sejak lama yaitu “mens sana in corpore sano”, yang artinya “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Ungkapan ini sudah tidak asing di dalam pelajaran olahraga, kalimat ini pertama kali dipopulerkan oleh penyair Romawi, Juvenal, sebagai gambaran mengenai kondisi ideal yang diharapkan dimiliki setiap manusia. sampai saat ini, maknanya masih tetap relevan, khususnya dalam dunia pendidikan dan kesehatan mahasiswa. Namun, banyak orang masih memandang kesehatan hanya dari satu sisi saja. Ada yang merasa sehat karena rutin berolahraga dan menjaga pola makan, padahal setiap malam masih dibayangi rasa cemas. Sebaliknya, ada pula yang rajin melakukan journaling atau menerapkan self-care, tetapi sering mengabaikan kebutuhan tubuh seperti tidur yang cukup atau melakukan aktivitas fisik. Padahal kesehatan fisik dan kesehatan mental merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain setiap hari, baik disadari maupun tidak.
Di lingkungan mahasiswa, pola pikir memisahkan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental kelihatan jelas. Masih banyak mahasiswa merasa bangga mampu begadang selama beberapa hari demi menyelesaikan tugas, lalu tetap berolahraga di pagi hari sebagai bukti fisiknya kuat menahan beban. Namun, ketika ditanya tentang keadaan mentalnya, jawabannya sering kali berbeda. tidak sedikit yang mengaku sulit berkonsentrasi, mudah merasa tersinggung, atau terus-menerus mesa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat. kondisi tersebut juga menjadi perhatian dalam dunia pendidikan. Sebuah penelitian Medical Education menjelaska bahwa kesejahteraan dan resiliensi mahasiwa perlu di bangun dan dijaga sejak dini. hal ini pentingkarena tekanan akademik terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa perinsip mens sana in corpore sano masih sangat relavan di terapkan oleh generasi muda.
Kondisi tersebut sebenarnya dapat dijelaskan melalui hubungan timbal balik antara kesehatan fisik dan kesehatan mental. Ketika seseorang mengalami stress berkepanjangan, tubuh akan menghasilkan hormon kortisol dalam jumlah yang lebih tinggi. Jika kondisi ini terus berlangsung, kualitas tidur dapat menurun, tubuh menjadi lebih mudah lelah, daya tahan tubuh melemah, hingga konsentrasi dalam belajar ikut terganggu. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki pola hidup yang sehat, seperti tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin melakukan aktivitas fisik, tubuh akan membantu menjaga keseimbangan hormon dan meningkatkan suasana hati. Aktivitas fisik juga diketahui mampu merangsang pelepasan endorfin yang dapat membantu mengurangi stress dan memberikan perasaan lebih rileks. Oleh karena itu, menjaga kesehatan fisik tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Hubungan yang saling memengaruhi ini menunjukkan bahwa kedua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mahasiswa, kesadaran akan pentingnya keseimbangan tersebut menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tuntutan akademik tanpa harus mengorbankan kondisi fisik maupun psikologis. Dengan demikian, penerapan prinsip mens sana in corpore sano tidak hanya menjadi sebuah ungkapan yang dihafalkan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, prinsip “mens sana in corpore sano” mengajarkan bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental bukanlah dua hal yang bisa dipilih salah satu, melainkan dua sisi yang harus dijaga secara bersamaan. Bagi mahasiswa, menjaga keseimbangan ini bukan berarti harus sempurna dalam menerapkan pola hidup sehat maupun menjaga kestabilan emosi setiap saat, melainkan mulai membangun kesadaran bahwa tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pikiran, begitu pula pikiran yang terbebani dapat melemahkan kondisi fisik. Dengan memahami keterkaitan ini, mahasiswa diharapkan tidak lagi memandang istirahat, olahraga, dan kesehatan mental sebagai hal yang terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan yang saling mendukung untuk menghadapi tekanan akademik maupun tantangan kehidupan sehari-hari. Sudah saatnya generasi muda tidak hanya mengejar tubuh yang kuat, tetapi juga jiwa yang tenang dan sehat, karena keduanya adalah fondasi utama untuk tumbuh dan berkembang secara utuh.
Daftar Pustaka
- Taylor, C. E., Scott, E. J., & Owen, K. (2022). Physical activity, burnout and quality of life in medical students: A systematic review. The Clinical Teacher, 19(6), e13525. https://doi.org/10.1111/tct.13525
- Horvath, A. J., Shegufta, F. A., Chairilsyah, M. R., Wikanta, K., Waidyatillake, N. T., & Reid, K. (2026). The effectiveness of interventions designed to enhance and maintain medical student wellbeing: A systematic review. BMC Medical Education, 26, 667. https://doi.org/10.1186/s12966-018-0696-y
- Keating, X. D., et al. (2024). The effectiveness of physical activity interventions in improving higher education students’ mental health: A systematic review. Journal of American College Health. https://doi.org/10.1080/07448481.2024.2330104
