Loading
Loading...
Menu BINUS

PENGGUNAAN EARBUDS DALAM DURASI LAMA: DAMPAKNYA TERHADAP PENDENGARAN DAN FUNGSI KERJA OTAK

Sumber: https://idn.freepik.com/foto-gratis/wanita-memakai-earbud-nirkabel-putih_13313204.htm\

Pernahkah kamu menyadari sudah berapa jam earbuds menempel erat di telingamu hari ini? Kebiasaan ini mulai populer di era digital yang serba cepat, bahkan kini perangkat audio tersebut telah berevolusi menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar orang. Mulai dari penggunaannya untuk sekedar mendengarkan musik di jalan, melakukan meeting online seharian penuh, hingga memutar episode podcast sebagai pengantar tidur. Namun, tahukah kamu bahwa terdapat ancaman serius yang mengintai di balik kepraktisan itu? 

Faktanya, penggunaan earbuds dalam durasi panjang terutama dengan volume tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pada indra pendengaran. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa perangkat audio pribadi yang digunakan dengan paparan suara keras termasuk dalam praktik mendengarkan yang tidak aman. Sejalan dengan pernyataan tersebut, studi systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Global Health tahun 2022 juga memperkirakan sekitar 0,67 hingga 1,35 miliar remaja dan orang dewasa muda di dunia berisiko mengalami penurunan fungsi pendengaran akibat praktik penggunaan perangkat audio pribadi dengan tingkat kebisingan tinggi.

Pada dasarnya, earbuds menghantarkan suara langsung ke dalam liang telinga dan membatasi ruang bagi pengguna untuk mendengarkan suara alami di sekitarnya. Akibatnya paparan suara yang diterima menjadi lebih intens dibandingkan perangkat audio biasa yang digunakan dengan jarak tertentu dari telinga. Lebih lanjut, penelitian dari Johns Hopkins University menunjukkan bahwa gangguan pendengaran juga dapat membuat otak bekerja lebih keras dalam memproses informasi suara. Kondisi ini dikenal sebagai peningkatan cognitive load, yaitu ketika otak membutuhkan usaha lebih untuk memahami suara yang diterima. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu kelelahan mental, penurunan fokus, serta gangguan daya ingat.

Tidak hanya itu, kebiasaan penggunaan earbuds tanpa batasan durasi dan volume secara perlahan dapat memicu berbagai gejala serius. Lantas, apa saja gejala yang dapat muncul akibat kebiasaan tersebut? 

Salah satunya berkaitan dengan pemakaian earbuds dalam durasi lebih dari 8 jam yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerusakan permanen pada pendengaran atau Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Kondisi ini umumnya diawali dengan munculnya tinnitus sebagai gejala awal, yaitu sensasi telinga berdengung, seperti mendengar suara tertentu tanpa adanya sumber suara eksternal. Meskipun gejala ini sering kali dianggap sepele oleh pengidapnya, jika dibiarkan tinnitus dapat berkembang menjadi gangguan dalam beraktivitas sehari-hari. Hal ini kemudian terlihat pada penurunan kualitas tidur,  kesulitan dalam berkonsentrasi, serta munculnya sakit kepala akibat tekanan yang dirasakan pada sistem pendengaran (Hendradewi et al., 2022).  

Di sisi lain, pemakaian earbuds dalam durasi lama juga dapat menghambat sirkulasi udara di dalam saluran telinga, sehingga menciptakan kondisi lembab yang memicu pertumbuhan bakteri dan meningkatkan risiko infeksi telinga. Bahkan dalam jangka panjang, gangguan pendengaran akibat paparan suara berlebih juga dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia pada usia lansia (Jin et al., 2026). Hal ini terjadi karena penurunan kemampuan pendengaran mengurangi rangsangan suara yang diterima otak, sehingga fungsi kognitif otak dalam menyimpan dan memproses informasi ikut terganggu. 

Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai pengguna memperhatikan cara penggunaan earbuds yang lebih aman agar dapat menghindari dampak buruk tersebut. Pertama, penggunaan sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 2 jam per hari agar telinga memiliki waktu untuk beristirahat setelah menerima paparan suara secara terus-menerus. Pembatasan durasi ini penting untuk mencegah tekanan berlebih pada sistem pendengaran yang dapat memicu kelelahan telinga hingga Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Kedua, volume suara perlu dijaga pada kisaran 60–70 dB (decibel) guna mengurangi risiko mengalami gangguan pendengaran. Pengaturan volume yang tidak terlalu tinggi dapat membantu menurunkan intensitas paparan suara yang masuk langsung ke dalam liang telinga, sehingga mengurangi kemungkinan kerusakan pada sel-sel pendengaran serta mencegah munculnya gejala tinnitus dan terjadinya demensia.  

Sementara yang ketiga, sebagai langkah tambahan pemilihan perangkat dengan tingkat electromagnetic interference (EMI) yang rendah juga dapat menjadi pilihan dalam membantu meminimalkan paparan gelombang elektromagnetik yang diterima tubuh agar tetap dalam batas yang terukur (Yuldasheva et al., 2025). Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, penggunaan earbuds dapat dilakukan secara lebih aman tanpa mengabaikan aspek kesehatan. Sebagai pengguna, kita tetap dapat menikmati fungsinya, namun dengan cara yang lebih terkontrol dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, penting bagi kita untuk bersikap bijak dalam memanfaatkan teknologi, tidak hanya dari sisi kenyamanan, tetapi juga dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan tubuh dalam jangka panjang. 

Daftar Pustaka

  • Anderer, S. (2025). Hearing Loss Strongly Linked with Dementia, Study Finds. JAMA, 333(23), 2043. https://doi.org/10.1001/jama.2025.6448
  • Dillard, L. K., Arunda, M. O., Lopez-Perez, L., Martinez, R. X., Jiménez, L., Chadha, S. (2022). Prevalence and Global Estimates of Unsafe Listening Practices in Adolescents and Young Adults: a Systematic Review and Meta-analysis. BMJ Global Health, 7(11), 1-11. https://doi.org/10.1136/bmjgh-2022-010501
  • Hendradewi, S., Setiamika, M., Sudrajad, H., Kandhi, P. W., Primadewi, N., Pratiwi, D., & Yusuf, D. A. (2022). Gangguan Pendengaran Akibat Bising Penggunaan Headphone/Earphone. Jurnal Pengabdian Masyarakat Medika, 3(2), 68-74. https://doi.org/10.23917/jpmmedika.v3i2.1274
  • Jin, Q., Bian, Y., & Zhou, C. (2026). Association between Occupational Noise-induced Hearing Loss and Cognitive Function: a Multimodal Cross-sectional study. Frontiers in public health, 14, 1-10. https://doi.org/10.3389/fpubh.2026.1789178
  • Lin, F. R., Yaffe, K., Xia, J., Xue, Q. L., Harris, T. B., Purchase-Helzner, E.M, & Health ABC Study Group, F. T. (2013). Hearing Loss and Cognitive Decline in Older Adults. JAMA Internal Medicine, 173(4), 293-299. https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2013.1868
  • Triansyah, I., Vani, A. T., Dewi, N. P., Zulkarnaini, A., Abdullah, D., Yasa, Y. F., & Ivan, M. (2025). Pengaruh Penggunaan Headset terhadap Gangguan Pendengaran: Tinjauan Terkini dari Satu Dekade Terakhir. Nusantara Hasana Journal, 4(12), 471–476. https://nusantarahasanajournal.com/index.php/nhj/article/view/1636
  • World Health Organization. (n.d.). Making Listening Safe. Retrieved April 30, 2026, from https://www.who.int/activities/making-listening-safe
  • Yuldasheva, F. U., Rustamova, G., Nazirjonov, D., Toirzhonov, Zh., Akbarova, M., & Mansurkhozhaeva, R. (2025). The Effect of Wireless Headphones on The Central Nervous System. Web of Medicine: Journal of Medicine, Practice and Nursing, 3(5), 151–156. https://webofjournals.com/index.php/5/article/view/4144
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.