Loading
Loading...
Menu BINUS

Dari FYP ke Label Gangguan: Fenomena Self-Diagnosis Kian Mengkhawatirkan

Sumber: https://www.cnn.com/2023/07/20/tech/tiktok-self-diagnosis-mental-health-wellness

Belakangan ini, topik kesehatan mental semakin sering muncul di media sosial. Banyak sekali konten FYP yang membahas kesehatan mental dan dikemas melalui konten singkat yang relatable. Adanya konten tersebut memang membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental. Sayangnya, tidak sedikit yang mulai merasa ‘tervalidasi’ oleh penjelasan gejala tertentu dari konten-konten tersebut, lalu tanpa sadar memberi label gangguan mental pada dirinya sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai self-diagnosis. Meskipun muncul seiring meningkatnya awareness, self-diagnosis juga dibarengi dengan penerimaan informasi secara setengah-setengah dan tanpa proses asesmen dari profesional. Bersamaan dengan algoritma media sosial yang cenderung memperkuat paparan konten serupa, batas antara edukasi dan asumsi pribadi menjadi kabur. Lantas, apa yang akan terjadi jika fenomena ini terus dibiarkan?

Self-diagnosis adalah perilaku ketika seseorang melakukan diagnosis medis tanpa melakukan konfirmasi kepada profesional. Padahal, diagnosis medis tidak bisa dilakukan sendiri karena cenderung bias terhadap apa yang dirasakan secara personal. Diagnosis medis sejatinya adalah sebuah proses dan klasifikasi yang dilakukan oleh profesional untuk menentukan kondisi tertentu. Bahkan, diagnosis yang dilakukan oleh profesional saja dapat berbeda-beda hasilnya. 

Maraknya fenomena self-diagnosis tidak terlepas dari meningkatnya penggunaan internet dan sosial media. Kemudahan dalam mengakses informasi membuat banyak orang melakukan self-diagnosis berdasarkan gejala yang dialami. Kondisi ini diperparah dengan semakin maraknya large language models (LLM) seperti ChatGPT atau Gemini yang dapat memberikan diagnosis berdasarkan gejala yang kita berikan. Padahal, diagnosis yang diberikan belum tentu akurat. Selain itu, kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan juga berkaitan erat dengan fenomena self-diagnosis. Mahalnya akses, lamanya waktu penanganan, juga buruknya komunikasi dapat membuat lebih banyak orang memilih melakukan self-diagnosis.

Fenomena self-diagnosis di media sosial menimbulkan dampak yang cukup serius. Di satu sisi, maraknya konten kesehatan mental membuat masyarakat lebih sadar pentingnya menjaga kondisi psikologis dan mulai terbuka membicarakan isu tersebut. Namun, di sisi lain, informasi singkat yang terlalu sederhana sering membuat seseorang merasa cocok dengan gejala tertentu lalu memberi label gangguan mental pada dirinya sendiri tanpa pemeriksaan profesional. Akibatnya, emosi normal seperti sedih, cemas, lelah, atau stres mudah dianggap sebagai gangguan klinis. Hal ini dapat memicu overthinking, kecemasan berlebih, serta membuat seseorang melekatkan identitas dirinya pada label tersebut. Selain itu, self-diagnosis juga berisiko membuat orang salah mengambil penanganan, mengikuti saran yang keliru dari internet, atau menunda bantuan dari psikolog maupun psikiater. Jika terus terjadi, fenomena ini dapat menyesatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental dan menghambat penanganan yang tepat, aman, serta profesional bagi mereka yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan segera. 

Menghadapi fenomena ini, langkah utama yang harus diambil adalah membangun literasi kesehatan mental yang kritis. Konten media sosial dan teknologi AI sebaiknya hanya dijadikan sebagai gerbang awal informasi, bukan penentu keputusan medis akhir. Platform tersebut bisa digunakan sebagai alat bantu dalam memahami gejala secara umum, tetapi pada akhirnya tetap harus menghubungi tenaga professional (psikolog atau psikiater) untuk diagnosis lengkap guna menghindari bias personal. Pemerintah dan lembaga kesehatan juga perlu berperan aktif dalam menyediakan akses layanan kesehatan mental yang lebih terjangkau, cepat, dan ramah pengguna untuk menekan keinginan masyarakat melakukan self-diagnosis akibat hambatan biaya. Dengan memadukan edukasi digital yang tepat dan kemudahan akses medis, kita dapat menciptakan ekosistem di mana kesadaran kesehatan mental berujung pada penanganan yang tepat, bukan sekedar pelabelan. 

Secara keseluruhan, fenomena self-diagnosis muncul akibat tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental yang didorong oleh media sosial dan perkembangan teknologi. Meskipun bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran (awareness), self-diagnosis juga menimbulkan risiko serius karena sering kali bergantung pada informasi yang belum pasti kebenarannya dan tanpa pemeriksaan oleh profesional. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan pemahaman, pelabelan diri yang keliru, hingga penanganan yang tidak tepat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memiliki literasi kesehatan mental yang kritis, menjadikan informasi digital hanya sebagai referensi awal, dan tetap mengutamakan konsultasi dengan tenaga profesional agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. 

Daftar Pustaka

  • Febriana, E., & Amalia, U. (2024). Dampak Konten Bertema Psikologi Dalam Media Sosial TikTok Terhadap Fenomena Self Diagnose Pada Generasi Z. Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan, 2(4), 239–251. https://doi.org/10.55606/lencana.v2i4.406
  • Monteith, S., Glenn, T., Geddes, J. R., Whybrow, P. C., Achtyes, E. D., & Bauer, M. (2024). Implications of Online Self-Diagnosis in Psychiatry. Pharmacopsychiatry, 57(02), 45–52. https://doi.org/10.1055/a-2268-5441 
  • Normansyah, Mulyana, D., & Mirawati, I. (2024). Mengungkap Tren Self-Diagnosis Gen Z: Motif Penggunaan Kalkulator Kesehatan Mental di Media Sosial. Jurnal Praksis Dan Dedikasi (JPDS), 7(2), 196–205. http://dx.doi.org/10.17977/um022v7i2p196-205
  • Spiliotis, T. (2025). Comparative analysis for mental health prediction tasks based on social media posts (Master’s thesis). National Technical University of Athens. https://dspace.lib.ntua.gr/xmlui/bitstream/handle/123456789/60630/MasterTEAM_thesis_Spiliotis_Thodoris_0350024.pdf
  • Sukmawati, D. T., LN, S. Y., & Nadhirah, N. A. (2023). The Phenomenon of Self-Diagnosis of Mental Health in The Era of Mental Health Literacy. Journal of Education and Counseling, 4(1), 48–63. https://doi.org/10.32627/jeco.vi.902
  • Yum, C. (2025). TikTok made me do it: The risks of self-diagnosing using social media (Master’s thesis). University of Lethbridge. https://opus.uleth.ca/bitstreams/b3954aee-4302-4f2a-aec6-9922f2b50b9d/download
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.