Loading
Loading...
Menu BINUS

Mengapa Kita Sulit Menonton Video Panjang: Dampak Konten Video Pendek terhadap Attention Span

Sumber: https://fhsknightlife.com/3501/knight-life-news/are-teenage-attention-spans-deteriorating/ 

Attention span atau rentang perhatian manusia semakin memendek akibat dominasi konten berdurasi singkat seperti TikTok, YouTube Short, dan Instagram Reels. Hal ini membuat orang semakin sulit untuk menonton video panjang lebih dari 5-10 menit. Banyak orang cepat merasa bosan dan memilih langsung scroll daripada fokus menonton lama. 

Short attention span adalah kondisi dimana seseorang sulit mempertahankan fokus pada satu hal dalam waktu yang lama. Berdasarkan penelitian oleh Gloria Mark yang dikutip dalam artikel Speakwise (2026), rata-rata rentang perhatian manusia kini hanya 47 detik, turun dari 2,5 menit pada tahun 2004. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan fokus manusia mengalami penurunan seiring berkembangnya teknologi digital. Banyak orang saat ini juga terbiasa berpindah dari satu konten ke konten lainnya dengan cepat. Hal ini terjadi karena otak terbiasa menerima rangsangan instan dari berbagai konten digital. Salah satu faktor yang dianggap berperan besar dalam fenomena ini adalah meningkatnya konsumsi video pendek di media sosial. Algoritma pada platform seperti TikTok, YouTube Short, dan Instagram terus menampilkan video baru yang menarik perhatian pengguna. Konten singkat ini memicu pelepasan dopamin secara cepat di otak, sehingga orang akan merasa terus terdorong untuk menonton video berikutnya. 

Orang dengan short attention span akan kesulitan untuk membaca buku, menyelesaikan pekerjaan, atau mengikuti perkuliahan dengan waktu lama. Produktivitas menurun karena butuh 23 menit 15 detik untuk pulih setelah satu gangguan, sementara pekerja terganggu setiap 2 menit atau 275 kali sekali (Speakwise Team, 2026). Kondisi inipun berdampak pada generasi muda, dimana kemampuan fokus mereka juga akan menurun saat mengikuti proses pembelajaran. Dalam jangka panjang, fenomena ini berpotensi mempengaruhi kemampuan berpikir kritis karena banyak orang lebih terbiasa dalam mengonsumsi informasi secara singkat dan cepat. Sehingga, pemahaman terhadap topik yang kompleks menjadi lebih terbatas.

Meskipun fenomena ini semakin umum terjadi, short attention span adalah kondisi yang masih dapat diatasi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membatasi konsumsi konten video pendek di media sosial. Pengguna dapat mengatur batas waktu penggunaan aplikasi agar tidak terlalu lama menghabiskan waktu untuk menonton video singkat. Selain itu, fokus dapat dilatih dengan teknik Pomodoro, yaitu bekerja selama 25 menit, 5 menit beristirahat tanpa gadget. Pilihlah konten berdurasi panjang berkualitas untuk membangun kebiasaan baik dan melatih kembali kemampuan fokus dan perhatian. 

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan kita bahwa perkembangan teknologi digital membawa perubahan pada cara manusia mengonsumsi informasi di media sosial. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menggunakan media sosial secara bijak dan melatih kembali kemampuan berkonsentrasi agar tetap mampu memahami sesuatu secara lebih mendalam. 

Daftar Pustaka

  • Alam, S. O. (2025, November 29). Dampak Serius di Balik Kebiasaan Scroll Video Pendek. detikcom. Retrieved March 20, 2026, from https://www.detik.com/jabar/berita/d-8234494/dampak-serius-di-balik-kebiasaan-scroll-video-pendek
  • Attention Span Statistics 2026: Focus Duration, Digital Shrinkage, and Cognitive Decline. (2026, February 28). Speakwise. Retrieved March 20, 2026, from https://speakwiseapp.com/blog/attention-span-statistics
  • Cepat Bosan? Begini Cara Mengatasi Short Attention Span. (2025, January 23). Eraspace. Retrieved March 20, 2026, from https://eraspace.com/artikel/post/cepat-bosan-begini-cara-mengatasi-short-attention-span
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.