Bayangkan suatu pagi di masa depan. Anda bangun dan membuka ponsel. Jadwal
hari itu sudah disusun oleh kecerdasan buatan. Saat bekerja, sebagian besar tugas
diselesaikan oleh AI. Ketika sakit, sistem AI membantu dokter menentukan
diagnosis. Bahkan ketika ingin membuat tulisan, desain, musik, atau video, cukup
dengan memberikan beberapa instruksi.
Lalu muncul satu pertanyaan yang semakin sulit dihindari:
Jika mesin bisa melakukan semakin banyak pekerjaan manusia, apakah suatu
hari manusia tidak lagi dibutuhkan?
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar teknologi
dalam film fiksi ilmiah. AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia
membantu manusia menerjemahkan bahasa, menemukan informasi, menganalisis
data, membuat gambar, mengembangkan perangkat lunak, hingga membantu
berbagai pekerjaan profesional.
Perkembangannya begitu cepat sehingga persoalannya bukan lagi sekadar “Apa
yang bisa dilakukan AI?”, tetapi “Pekerjaan manusia apa yang akan berubah karena
AI?”
AI Tidak Selalu Menggantikan Manusia, tetapi Mengubah Cara Manusia Bekerja
Ketika mesin mulai digunakan dalam industri pada masa Revolusi Industri, banyak
orang khawatir bahwa manusia akan kehilangan pekerjaan. Mesin memang
mengambil alih sejumlah pekerjaan yang bersifat berulang, tetapi pada saat yang
sama muncul pekerjaan-pekerjaan baru.
Hal serupa berpotensi terjadi pada era AI.
AI sangat kuat dalam mengolah informasi dalam jumlah besar, mengenali pola,
melakukan pekerjaan berulang, dan menghasilkan berbagai jenis konten. Karena itu,
pekerjaan yang memiliki proses rutin dan dapat diprediksi kemungkinan lebih mudah
mengalami otomatisasi.
Namun, kemampuan manusia tidak hanya terletak pada kecepatan mengolah
informasi.
Manusia memiliki pengalaman, emosi, intuisi, nilai moral, empati, dan kemampuan
memahami konteks sosial. Seorang guru, misalnya, tidak hanya menyampaikan
informasi kepada murid. Ia juga memahami ketika seorang siswa kehilangan
motivasi, sedang mengalami masalah keluarga, atau membutuhkan dorongan.
AI mungkin dapat memberikan jawaban.
Tetapi memberikan jawaban tidak selalu sama dengan memahami manusia.
Ancaman Terbesarnya Mungkin Bukan AI
Ada sebuah kemungkinan yang lebih menarik.
Bukan AI yang menggantikan manusia, melainkan manusia yang mampu
menggunakan AI menggantikan manusia yang tidak mampu beradaptasi
dengan perubahan.
Bayangkan dua orang memiliki pekerjaan yang sama. Orang pertama menggunakan
AI untuk menghemat waktu, menganalisis data, mencari ide, dan meningkatkan
kualitas pekerjaannya. Orang kedua memilih untuk tetap bekerja dengan cara lama.
Dalam kondisi seperti itu, persaingan tidak lagi sekadar antara manusia dan mesin.
Persaingannya bisa menjadi:
manusia yang menggunakan AI vs. manusia yang tidak menggunakan AI.
Inilah alasan mengapa perkembangan AI seharusnya tidak hanya dipandang
sebagai ancaman, tetapi juga sebagai tantangan untuk meningkatkan kemampuan
manusia.
Jadi, Apa yang Harus Dipelajari Manusia?
Jika AI semakin pintar, apakah manusia harus menjadi lebih pintar daripada AI?
Belum tentu.
Yang lebih penting adalah manusia perlu memiliki kemampuan yang sulit digantikan
oleh teknologi.
Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, kerja sama,
kemampuan mengambil keputusan, serta kemampuan memahami manusia lain
akan menjadi semakin penting.
Bayangkan AI sebagai sebuah alat yang sangat canggih. Palu yang bagus tidak
otomatis membuat seseorang menjadi tukang yang hebat. Demikian pula AI tidak
otomatis membuat seseorang menjadi ahli.
Teknologi memberikan kemampuan. Manusia menentukan bagaimana
kemampuan itu digunakan.
Karena itu, pendidikan di masa depan tidak cukup hanya mengajarkan manusia
bagaimana menghafal informasi. Manusia harus belajar bagaimana
mempertanyakan informasi, menilai apakah sesuatu benar, membuat keputusan,
dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Bagaimana dengan Indonesia?
Pertanyaan mengenai AI juga penting bagi Indonesia.
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dan generasi muda yang menjadi
salah satu kekuatan utama negara. Perkembangan AI dapat membuka peluang baru
dalam pendidikan, kesehatan, industri kreatif, bisnis, pertanian, hingga pelayanan
publik.
Namun, ada tantangan besar.
Tidak semua orang memiliki akses dan kemampuan yang sama dalam
menggunakan teknologi. Jika perkembangan AI tidak diikuti dengan peningkatan
pendidikan dan keterampilan digital, kesenjangan antara mereka yang mampu
memanfaatkan teknologi dan mereka yang tertinggal dapat semakin besar.
Karena itu, persoalan AI bukan hanya tentang teknologi.
Ini adalah persoalan kesiapan manusia.
Manusia Tidak Perlu Menjadi Mesin
Mungkin selama ini kita salah memahami persaingan antara manusia dan AI.
Kita menganggap manusia harus menjadi lebih cepat, lebih akurat, dan lebih
produktif daripada mesin.
Padahal, justru karena mesin semakin unggul dalam beberapa hal, manusia memiliki
kesempatan untuk kembali fokus pada hal-hal yang membuat kita berbeda:
menciptakan makna, membangun hubungan, berempati, mengambil keputusan
berdasarkan nilai, dan membayangkan sesuatu yang belum pernah ada.
AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat.
Tetapi manusia tetap harus menentukan untuk apa pekerjaan itu dilakukan.
AI dapat menghasilkan sebuah gambar.
Tetapi manusialah yang menentukan cerita di baliknya.
AI dapat menyusun sebuah tulisan.
Tetapi manusialah yang menentukan gagasan dan nilai yang ingin disampaikan.
AI dapat menganalisis berbagai kemungkinan.
Tetapi keputusan mengenai masa depan tetap membawa konsekuensi yang harus
dipertanggungjawabkan oleh manusia.
Masa Depan Bukan tentang AI Menggantikan Manusia
Jadi, apakah AI akan menggantikan manusia?
Untuk beberapa jenis pekerjaan, sangat mungkin AI akan menggantikan
sebagian tugas manusia, bahkan membuat beberapa pekerjaan berkurang atau
menghilang. Namun, itu tidak berarti manusia secara keseluruhan menjadi tidak
diperlukan.
Masa depan kemungkinan bukan dunia yang sepenuhnya dikuasai manusia ataupun
sepenuhnya dikuasai mesin.
Masa depan adalah dunia di mana manusia dan AI bekerja berdampingan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi:
“Apakah AI akan menggantikan kita?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Ketika AI semakin mampu melakukan banyak hal, manusia ingin menjadi
seperti apa?”
Sebab teknologi mungkin akan terus berkembang.
Mesin mungkin akan menjadi semakin cepat.
AI mungkin akan menjadi semakin pintar.
Tetapi masa depan tetap ditentukan oleh manusia yang memilih bagaimana
teknologi tersebut digunakan.

