SDG 4: Quality Education Belum Terimplementasi dengan Baik di Indonesia

Sustainable Development Goals atau yang lebih sering dikenal dengan singkatannya SDGs adalah merupakan agenda pembangunan dunia yang bertujuan untuk kesejahteraan manusia secara global dengan tujuan untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi, keberlanjutan kehidupan sosial, kualitas lingkungan hidup, serta menjamin keadilan masyarakat yang bersifat berkelanjutan ke generasi-generasi yang mendatang. Menurut laporan dari Bappenas, Indonesia telah berhasil mencapai sebagian besar target Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia yaitu 49 dari 67 indikator. Dari angka tersebut dapat dilihat bahwa masih terdapat beberapa indikator yang harus dipenuhi, seperti penurunan angka kemiskinan, penanggulangan HIV/AIDS, penyediaan air bersih dan sanitasi. Namun artikel ini akan membahas mengenai poin SDGs keempat, yaitu Pendidikan Bermutu. 

Dapat dilihat pada tabel di bawah ini bahwa persentase realisasi dari mayoritas indikator untuk SDGs keempat memiliki angka yang baik, kecuali untuk indikator yang terakhir mengenai Angka Partisipasi Kasar SMA/SMK/MK/sederajat yang terakhir masih berada di 10%. Angka Partisipasi Kasar sendiri adalah perbandingan antara siswa pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah, sehingga semakin besar angka APK berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah. Hal ini berarti bahwa Indonesia masih memiliki PR besar dalam meningkatkan APK di jenjang SMA/SMK/MK/sederajat.

(http://bappeda.jogjaprov.go.id/dataku/sdgs/detail/4-pendidikan-bermutu

Jika melihat dari tabel di bawah ini yang diambil dari lama Badan Pusat Statistik (BPS), memang angka anak tidak sekolah pada jenjang SMA/SMK/MK/sederajat adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Dimana dari sekitar 46 juta remaja di Indonesia, hampir seperempat remaja yang berusia 15-19 tahun tidak bersekolah, tidak memiliki pekerjaan atau mengikuti pelatihan.

(https://www.bps.go.id/indicator/28/1986/1/angka-anak-tidak-sekolah-menurut-jenjang-pendidikan-dan-jenis-kelamin.html)

Berdasarkan laporan dari UNESCO, ada 3 “penghalang” utama akses anak mendapatkan pendidikan yang layak, yaitu:

  • Practical Barriers, seperti jarak sekolah yang jauh atau fasilitas yang tidak memadai.
  • Financial Barriers, seperti biaya pendidikan yang tinggi atau anak yang dituntut untuk bekerja demi meringankan beban finansial keluarga.
  • Social Barriers, seperti diskriminasi terhadap perempuan, anak dengan disabilitas, ataupun kalangan minoritas ethno-linguistic.

Sehingga, jika Indonesia ingin menurunkan angka anak yang tidak bersekolah, kita harus menyelesaikan dan memberikan solusi berkelanjutan untuk 3 masalah ini.

 

Referensi:

http://bappeda.jogjaprov.go.id/dataku/sdgs

https://sdgs.bappenas.go.id/sekilas-sdgs/

http://bappeda.jogjaprov.go.id/dataku/sdgs/detail/4-pendidikan-bermutu

https://apkapm.data.kemdikbud.go.id/

https://www.bps.go.id/indicator/28/1986/1/angka-anak-tidak-sekolah-menurut-jenjang-pendidikan-dan-jenis-kelamin.html

https://www.unicef.org/indonesia/education-and-adolescents

https://uis.unesco.org/sites/default/files/documents/out-of-school-children-and-adolescents-in-asia-and-pacific-left-behind-on-the-road-to-learning-opportunities-for-all-2015-en.pdf

Diva Nabila Henryka