Apakah Esports Layak dijadikan Mata Pencaharian Baru?

Seiring berjalannya waktu, teknologi yang semakin berkembang pun mulai mempengaruhi pola pikir manusia dalam mencari lapangan kerja baru yang semakin menjanjikan. Bagaimana tidak? Siapa yang menyangka bermain game online, yang dulu hanya sebatas hobi atau sarana untuk melepas stress, sekarang dapat menjadi profesi dengan pendapatan yang terbilang cukup tinggi. Ya, kini gamer proffesional sudah resmi menjadi sebuah profesi dengan bayaran selangit. Tak hanya itu, sekarang ini game online pun sudah menjadi sebuah olahraga, atau sering disebut sebagai eSports (Electronic Sports)

Sekarang ini, eSports sudah semakin berkembang dan menyediakan mata pencaharian bagi pemain kompetitif, pemain profesional, sponsor, produser game, atau penyedia layanan internet. Perkembangan Esport yang sangat cepat sebagai salah satu mata pencaharian terbukti pada tahun 2017, Indonesia memiliki 43,7 juta pemain eSports yang menghabiskan Rp 11 miliar untuk bermain game. Angka ini membuat Indonesia menduduki peringkat ke 16 sebagai negara dengan pendapatan dari game terbesar di dunia.

Badan Pusat Statistik (BPS) di akhir tahun 2018 menyatakan bahwa gaji rata-rata buruh laki-laki di Indonesia berada di angka Rp3.060.000 per bulan, dan Rp2.400.000 juta per bulan untuk buruh perempuan. Sekarang, mari kita lihat rata-rata pendapatan seorang gamer professional, Salah satu tim Indonesia yang pernah membuka nilai nominal gaji adalah EVOS Esports. Dalam sebuah wawancara di tahun 2018, General Manager EVOS Esports Indonesia, Aldean Tegar (sekarang menjabat Assistant Vice President) menyebutkan bahwa gaji pokok tim Dota 2 EVOS berada di kisaran angka Rp5.000.000 – 6.000.000 per bulan.

Game Mobile Legends, yang dapat dikatakan sebagai game yang sudah tak asing lagi di Indonesia, diperkirakan memiliki gaji pokok sekitar Rp 6.000.000 per bulan, belum lagi jika ditambahkan Rp 4.000.000 dari pihak Mobile Legends Professional League (MPL), dan bonus sebesar Rp 1.000.000 setiap kali mereka mengikuti turnamen. Tak hanya itu, dengan memenangkan berbagai turnamen ataupun kejuaraan bergengsi, disuguhkan pula hadiah berupa uang yang nominalnya dapat dikatakan sangat besar. Salah satu contohnya adalah tim EVOS eSports yang menjuarai M1 (Turnamen Mobile Legend Tingkat Dunia) berhasil membawa pulang uang dengan nominal yang cukup mengejutkan, yaitu sekitar Rp 1,1 Miliar rupiah.

Dibentuknya IeSPA (Indonesia eSport Association) merupakan salah satu bentuk dukungan dan pengakuan pemerintah tentang keberadaan eSport di Indonesia. Tidak hanya itu, pemerintah juga mengadakan Piala Presiden eSport dan Piala Menpora eSport yang semakin menunjang popularitas eSport di kalangan masyarakat luas san tentunya menyediakan hadiah yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Angka-angka di atas menunjukkan bahwa profesi atlet eSports di Indonesia layak dijadikan mata pencaharian, bukan hanya karena gajinya yang sangat besar, namun juga dengan menunjukkan gameplay yang sangat luar biasa, maka akan banyak tim – tim yang akan melirik pemain tersebut dan memperebutkan pemain tersebut dengan harga yang  sangat tinggi. Tidak berhenti sampai disitu, pemain-pemain yang sudah unjuk gigi pastilah memiliki popularitas yang sangat besar. Tidak hanya itu, saat ini banyak perusahaan yang mulai melirik atlet eSport untuk meningkatkan brand mereka melalui endorsement maupun menjadi brand ambassador.

Sekarang ini, banyak pemain yang mulai memanfaatkan popularitas tersebut untuk meraup keutungan yang lebih besar, salah satunya adalah dengan membuat akun youtube gaming. Bahkan tidak sedikit gamer professional yang mulai pensiun atau bisa dibilang berhenti sebagai seorang gamer professional dan mulai berkecimpung di bidang youtube karena merasa pendapatan mereka disana lebih besar. Salah satu contohnya adalah ‘Jess No Limit’, mengakhiri kariernya di bidang gamer professional, dan mulai fokus menjalani karirnya sebagai youtuber gaming. Sekarang, ia sudah dikenal sebagai youtuber gaming dengan subscriber terbanyak di Indonesia dengan jumlah 19,4 juta subscriber.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa eSports layak dijadikan mata pencaharian baru, karena memiliki masa depan yang sangat menjanjikan. Tentu saja semua itu membutuhkan kemampuan, keahlian, dan kerja keras, sehingga mereka dapat bersaing dengan para gamer profesional lainnya. Tak hanya itu, dengan menunjukkan performa yang baik dan memiliki popularitas yang tinggi, maka akan semakin mudah bagi pemain tersebut untuk meraup keuntungan di bidang media sosial lainnya, seperti menjadi youtuber atau livestreamer dan masih banyak lagi.

Sumber:

  • https://hybrid.co.id/post/telaah-kelayakan-profesi-atlet-esports-sebagai-mata-pencaharian-umum
  • https://www.liputan6.com/tekno/read/4113433/evos-legends-juarai-mobile-legends-world-championship-2019-gondol-rp-11-miliar
  • https://www.tribunnews.com/tribunners/2018/07/10/esports-buka-peluang-gamers-punya-ladang-mata-pencaharian?page=2
  • https://www.indoesports.com/news/esports-bisnis/perkembangan-esports-indonesia-sampai-tahun-2020
Patrick Jonathan dan Diana Petrina Santoso