Halo, Psytroopers! Pernahkah kamu saat sedang scroll media sosial seperti Instagram atau TikTok, kamu melihat teman yang baru saja memenangkan lomba, mendapatkan magang, atau pergi ke tempat yang ingin kamu kunjungi? Tanpa sadar, kamu mulai membandingkan pencapaian mereka dengan hidupmu sendiri. Muncul pikiran, “Kok hidup orang lain kayaknya maju terus, sedangkan aku gini-gini aja?”
Kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain sebenarnya merupakan hal yang wajar. Dalam psikologi, fenomena ini disebut social comparison. Festinger (1954) menjelaskan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi kemampuan dan pendapatnya melalui perbandingan dengan orang lain. Namun, perbandingan ini bisa memberikan dampak yang berbeda, tergantung pada siapa yang kita bandingkan dan bagaimana kita memaknainya.
Ada dua bentuk perbandingan sosial yang sering terjadi, yaitu upward comparison dan downward comparison. Upward comparison terjadi ketika kita membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul dalam aspek tertentu, seperti kemampuan, penampilan, atau pencapaian. Perbandingan ini bisa membuat kita merasa tertinggal dan kurang percaya diri, tetapi juga dapat memotivasi kita untuk berkembang. Sementara itu, downward comparison terjadi ketika kita membandingkan diri dengan orang yang dianggap berada dalam kondisi kurang baik. Hal ini dapat membuat kita merasa lebih bersyukur atau lega, meskipun terkadang juga menimbulkan perasaan lebih unggul daripada orang lain (Hakmiller, 1966; Suls et al., 2002).
Kebiasaan ini bisa terasa semakin kuat ketika kita menggunakan media sosial. Setiap hari, kita melihat pencapaian, penampilan, dan pengalaman orang lain yang tampak menyenangkan. Padahal, apa yang dibagikan di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Kita mungkin melihat keberhasilan orang lain tanpa mengetahui kesulitan yang mereka hadapi di baliknya. Akibatnya, kita bisa membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain. Perbandingan seperti ini dapat memengaruhi cara kita menilai diri sendiri, dan dampaknya terasa jauh lebih berat bagi mereka yang sudah memiliki kepercayaan diri rendah (Midgley, 2021).
Meski begitu, membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu berdampak buruk. Taylor dan Lobel (1989) menjelaskan bahwa saat menghadapi kesulitan, seseorang dapat mencari dukungan dari orang lain atau belajar dari pengalaman mereka. Misalnya, keberhasilan teman mendapatkan magang bisa menjadi motivasi untuk meningkatkan keterampilan, bukan alasan untuk merasa tertinggal.
Pada akhirnya, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain mungkin sulit dihindari. Namun, cara kita menyikapinya tetap bisa diubah. Daripada terus bertanya, “Kenapa aku nggak sehebat dia?”, kita bisa mulai bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari dari dia?” Setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai diri kita, dan perjalanan kita sendiri tetap layak untuk dihargai.
Daftar Pustaka
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
Hakmiller, K. L. (1966). Threat as a determinant of downward comparison. Journal of Experimental Social Psychology, 2(Suppl. 1), 32–39. https://doi.org/10.1016/0022-1031(66)90061-0
Midgley, C. E. (2021). When every day is a high school reunion: Social media comparisons and self-esteem. Journal of Personality and Social Psychology, 121(2), 285–307. https://doi.org/10.1037/pspi0000336
Suls, J., Martin, R., & Wheeler, L. (2002). Social comparison: Why, with whom and with what effect? Current Directions in Psychological Science, 11(5), 159–163. https://doi.org/10.1111/1467-8721.00191
Taylor, S. E., & Lobel, M. (1989). Social comparison activity under threat: Downward evaluation and upward contacts. Psychological Review, 96(4), 569–575. https://doi.org/10.1037/0033-295X.96.4.569
