Loading
Loading...
Menu BINUS

Ketika Sulit Berkata Tidak: Memahami Fenomena People Pleasing

Halo, Psytroopers! 👋🏻
Pernahkah kamu merasa sulit mengatakan “tidak” ketika seseorang meminta bantuan, padahal kamu sedang kewalahan? Atau merasa sangat cemas ketika seseorang kecewa denganmu sampai kamu rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kebutuhan diri sendiri demi membuat orang lain senang? Jika pernah, mungkin kamu memiliki beberapa kecenderungan yang sering dikaitkan dengan people pleasing.
People pleaser merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang cenderung memprioritaskan kebutuhan dan tujuan orang lain di atas kebutuhan dan tujuan dirinya sendiri (Blötner, 2026). Kecenderungan ini dapat terlihat dari keinginan untuk membantu orang lain, memenuhi harapan mereka, atau menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan konflik.
Namun, penting untuk dipahami bahwa people pleaser bukan merupakan diagnosis psikologis maupun istilah klinis resmi. Istilah ini lebih umum digunakan untuk menggambarkan pola perilaku tertentu. Oleh karena itu, memiliki beberapa ciri yang berkaitan dengan people pleasing tidak berarti seseorang dapat langsung mendiagnosis dirinya sebagai people pleaser. Penilaian terhadap suatu pola perilaku perlu mempertimbangkan konteks, frekuensi, serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang (Blötner, 2026).
Beberapa perilaku yang sering dikaitkan dengan people pleasing antara lain sulit mengatakan “tidak” meskipun sudah merasa terbebani, berusaha menghindari konflik dengan mengesampingkan pendapat sendiri, merasa cemas atau bersalah ketika orang lain kecewa, serta terlalu sering menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri (Blötner, 2026).
Kecenderungan people pleasing tidak selalu muncul karena satu penyebab tertentu. Berbagai faktor psikologis dan pengalaman hidup dapat berkontribusi terhadap terbentuknya pola tersebut. People pleasing dapat berkaitan dengan pengalaman masa kecil tertentu, misalnya pengalaman dalam hubungan dengan orang tua atau lingkungan terdekat yang memengaruhi cara seseorang memahami penerimaan dan hubungan dengan orang lain. Namun, bukan berarti setiap orang yang menunjukkan kecenderungan people pleasing memiliki latar belakang yang sama. Selain itu, rasa takut terhadap penolakan juga dapat berperan. Manusia memiliki kebutuhan untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok sosial. Maslow (1943) menjelaskan kebutuhan akan cinta, kasih sayang, dan belongingness sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia. Pengalaman penolakan sendiri diketahui dapat memengaruhi berbagai aspek psikologis, termasuk suasana hati, harga diri, dan rasa memiliki (Gerber & Wheeler, 2009).
Kecenderungan people pleasing juga dapat berkaitan dengan cara seseorang membangun harga dirinya. Maslow (1943) menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan esteem, yaitu kebutuhan untuk merasa berharga, mampu, dan dihargai. Ketika penilaian terhadap diri terlalu bergantung pada penerimaan atau persetujuan orang lain, seseorang dapat merasa perlu terus memenuhi harapan lingkungan agar tetap merasa berharga. Hal ini sejalan dengan pembahasan mengenai contingencies of self-worth, yaitu kondisi ketika harga diri seseorang bergantung pada pencapaian atau penilaian dari sumber tertentu. Ketergantungan pada sumber eksternal seperti persetujuan orang lain dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami tekanan ketika penerimaan tersebut tidak diperoleh (Dittmann, 2002).
Meskipun membantu dan memperhatikan orang lain merupakan hal yang positif, kecenderungan people pleasing yang dilakukan secara berlebihan dapat memberikan dampak terhadap diri sendiri. Ketika seseorang terus-menerus memprioritaskan kebutuhan orang lain dan mengesampingkan kebutuhannya sendiri, ia dapat mengalami kelelahan emosional (burnout) karena terlalu banyak memberikan waktu, energi, dan perhatian kepada orang lain. Kebiasaan tersebut juga dapat membuat seseorang semakin sulit mengenali apa yang sebenarnya ia inginkan, rasakan, atau butuhkan. Dalam hubungan interpersonal, kecenderungan untuk terus menyesuaikan diri juga dapat membuat hubungan menjadi kurang seimbang karena kebutuhan salah satu pihak lebih sering diprioritaskan. Penelitian Blötner (2026) menunjukkan bahwa people pleasing mencakup aspek seperti tanggung jawab terhadap orang lain, pengabaian kebutuhan diri, dan perhatian terhadap ekspektasi orang lain.
Selain itu, kebiasaan mengesampingkan diri sendiri demi mempertahankan hubungan dapat berkaitan dengan konsep self-silencing, yaitu kecenderungan menekan atau menyembunyikan perasaan dan pendapat diri sendiri demi menghindari konflik atau mempertahankan hubungan. Pola seperti ini dapat memberikan konsekuensi psikologis tertentu dalam hubungan interpersonal (Romero-Canyas et al., 2013).
Fenomena people pleasing juga cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Dalam lingkungan perkuliahan, pertemanan, maupun organisasi, mahasiswa sering berada dalam situasi yang menuntut mereka untuk bekerja sama, membantu orang lain, dan menjaga hubungan dengan kelompok. Keinginan untuk diterima dan menjadi bagian dari kelompok dapat berkaitan dengan kebutuhan belongingness, sedangkan keinginan untuk dianggap mampu, dapat diandalkan, dan dihargai dapat berkaitan dengan kebutuhan esteem dalam teori Maslow (Maslow, 1943). Ketika kebutuhan tersebut menjadi sangat penting bagi seseorang, ia mungkin merasa terdorong untuk selalu terlihat kooperatif, sulit menolak permintaan, atau khawatir akan mengecewakan orang lain.
Misalnya, seorang mahasiswa mungkin menerima tugas tambahan dalam organisasi meskipun jadwal kuliahnya sudah padat karena takut dianggap tidak bertanggung jawab, atau tetap membantu teman mengerjakan tugas ketika dirinya sendiri sedang membutuhkan waktu untuk belajar atau beristirahat. Keinginan untuk menjadi seseorang yang dapat diandalkan memang merupakan hal yang positif, tetapi jika dilakukan terus-menerus dengan mengorbankan kebutuhan diri sendiri, pola tersebut dapat menjadi tidak sehat. Karena itu, menjadi orang baik tidak harus berarti selalu mengatakan “iya”. Menolak permintaan ketika memang tidak mampu bukan berarti egois, dan menetapkan batasan bukan berarti tidak peduli kepada orang lain. Justru, mengenali kapasitas dan kebutuhan diri merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan yang sehat, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.
Pada akhirnya, Psytroopers, kita tidak harus selalu menjadi orang yang disukai semua orang. Ada kalanya keputusan kita membuat orang lain kecewa, dan hal tersebut bukan berarti kita menjadi pribadi yang buruk. Yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri adalah: apakah kita membantu karena memang ingin membantu, atau karena takut ditolak dan mengecewakan orang lain?
Yuk, mulai belajar memberikan ruang bagi diri sendiri untuk memiliki batasan, menyampaikan kebutuhan, dan sesekali berkata “tidak”. Kita tetap bisa menjadi pribadi yang peduli tanpa harus kehilangan diri sendiri dalam prosesnya. Karena menjadi baik kepada orang lain juga seharusnya berjalan bersama dengan belajar menjadi baik kepada diri sendiri.
Jadi, Psytroopers, sudahkah kamu memberi ruang bagi dirimu sendiri untuk berkata “tidak”? 💗
Referensi
Blötner, C. (2026). Valuing others over oneself: Development and validation of a people pleasing scale in two German samples. Current Psychology, 45, 952. https://doi.org/10.1007/s12144-026-09519-2
Dittmann, M. (2002). Self-esteem based on external sources has mental health consequences. Monitor on Psychology, 33(11).
Gerber, J., & Wheeler, L. (2009). On being rejected: A meta-analysis of experimental research on rejection. Perspectives on Psychological Science, 4(5), 468–488. https://doi.org/10.1111/j.1745-6924.2009.01158.x
Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396. https://doi.org/10.1037/h0054346
Romero-Canyas, R., Reddy, K. S., Rodriguez, S., & Downey, G. (2013). After all I have done for you: Self-silencing accommodations fuel women’s post-rejection hostility. Journal of Experimental Social Psychology, 49(4), 732–740. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2013.03.003

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.