Halo, Psytroopers. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan tumpukan tugas yang menguras energi, notifikasi dari pasangan sering kali menjadi hal yang paling kita tunggu untuk melepas penat. Namun, bagaimana jika pesan yang masuk justru berbunyi seperti ini?
“Kamu jangan sibuk-sibuk, ya. Kapan ada waktu buat aku?” atau “Kamu sibuk banget, sih, sekarang? Aku sampai dicuekin kayak gini.”
Pesan singkat di layar ponsel seperti itu sering kali dianggap sebagai bentuk perhatian yang biasa dalam pacaran. Namun, alih-alih meringankan beban pikiran setelah seharian belajar, kalimat ini bisa menjadi awal dari tuntutan emosional yang berlebihan. Mengapa mahasiswa yang dikenal cerdas di kelas sering kali tidak berdaya menghadapi masalah seperti ini? Tanpa disadari, banyak orang rela mengorbankan ketenangan batin, kesehatan fisik, bahkan nilai kuliahnya demi mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah merusak. Atas nama cinta, kita sering menutup mata terhadap kenyataan bahwa hubungan yang awalnya diharapkan menjadi tempat bersandar justru berubah menjadi beban yang menguras mental (Panuluh et al., 2025; Sbarra & Emery, 2005, sebagaimana dikutip dalam Lestari & Musslifah, 2025).
Masalah ini biasanya bermula secara halus. Di awal pacaran, atau yang sering disebut the honeymoon phase, mahasiswa cenderung menjadikan pasangan mereka sebagai support system utama atau tempat berlindung yang aman (safe haven) dari beratnya tekanan perkuliahan (Panuluh et al., 2025). Di tengah padatnya jadwal kelas dan tugas, kehadiran pacar dianggap menjadi obat stres instan dari tekanan tersebut. Hal ini membuat mereka memiliki harapan yang sangat tinggi bahwa pacarnya akan selalu menjadi pendengar yang baik dan mendukung aktivitas mereka (Panuluh et al., 2025).
Namun, harapan indah itu perlahan runtuh ketika hubungan berubah menjadi support violation, yaitu ketika seseorang yang seharusnya menjadi pendukung atau support system berubah menjadi sumber stres atau stresor (Panuluh et al., 2025). Alih-alih mendapatkan ketenangan pikiran, kehadiran pasangan justru menimbulkan konflik batin yang berlarut-larut bagi mahasiswa. Fase ini ditandai dengan munculnya perilaku toxic relationship, yang seperti sifat posesif, mengontrol aktivitas pribadi, kecemburuan ekstrem, hingga membatasi pergaulan sosial (Glass, 1995, sebagaimana dikutip dalam Panuluh et al., 2025). Terkadang, pelaku juga menggunakan manipulasi emosional seperti diam seribu bahasa (silent treatment) atau merendahkan kemampuan intelektual korban. Pola kontrol yang terus-menerus ini memicu gejala gaslighting, di mana pelaku secara konsisten memutarbalikkan fakta, menyangkal kenyataan, dan menyalahkan daya ingat korban. Hal ini pada akhirnya membuat korban mulai meragukan isi hatinya sendiri, bahkan dirinya sendiri (Panuluh et al., 2025). Perilaku mengontrol ini sering kali dianggap wajar sebagai tanda sayang, sehingga membuat korban bingung harus bertahan atau menyelamatkan harga dirinya (Aragón & Lozano, 2024, sebagaimana dikutip dalam Panuluh et al., 2025). Meskipun hubungan sudah saling menyakiti, banyak mahasiswa tetap memilih bertahan karena ketergantungan emosional, rasa cinta, takut kesepian, atau merasa bersalah (Castillo-Gonzáles, 1990; Emmanuel et al., 2024, sebagaimana dikutip dalam Panuluh et al., 2025). Mereka terus berharap pacarnya akan berubah menjadi manis kembali seperti dulu. Kondisi ini diperparah oleh cara otak melindungi diri dari kecemasan, yaitu melalui denial atau menyangkal kenyataan bahwa hubungan sudah berubah menjadi toxic, serta rationalization atau mencari-cari alasan pembenaran agar hubungan toxic tersebut tetap memiliki arti (McLeod, 2024, sebagaimana dikutip dalam Panuluh et al., 2025). Di Indonesia, rasa tidak enak hati atau ewuh pakewuh juga membuat mahasiswa sulit bertindak tegas, terutama jika hubungan tersebut sudah terlanjur dekat dengan keluarga pasangan (Irsyad et al., 2025; Nurhayati et al., 2024, sebagaimana dikutip dalam Panuluh et al., 2025).
Keluar dari hubungan yang toxic atau memulihkan diri pasca putus memang tidak mudah dan butuh waktu. Namun, menyadari bahwa ada yang salah adalah langkah awal yang sangat penting (Panuluh et al., 2025). Jadi psytroopers bisa mencoba dua cara mengelola stres atau coping strategy (Lazarus & Folkman, 1984, sebagaimana dikutip dalam Panuluh et al., 2025). Pertama adalah emotion-focused coping, yaitu menenangkan emosi sendiri dengan cara menulis jurnal pribadi atau meditasi. Kedua adalah problem-focused coping, yaitu mengambil tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah, seperti berkonsultasi dengan dosen wali atau datang ke pusat bimbingan dan konseling di kampus (Panuluh et al., 2025). Selain itu, melakukan peer counseling (konseling sebaya) melalui media komunikasi informal juga terbukti sangat membantu korban melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Dari yang tadinya merasa tidak berdaya akibat tekanan eksternal (external locus of control) menjadi kembali memegang kendali penuh atas regulasi emosi dan hidupnya sendiri (internal locus of control) (Lestari & Musslifah, 2025).
Pada akhirnya, kecerdasan akademik tidak akan banyak berarti jika kita membiarkan diri terjebak dalam hubungan yang merusak. Kuliah mengajarkan kita untuk berpikir kritis, dan sudah saatnya kekritisan itu kita gunakan untuk melindungi diri sendiri. Hubungan yang sehat seharusnya dibangun untuk mendukung masa depanmu, bukan menghancurkannya karena cinta yang tulus itu mendewasakan, bukan memaksa kita mengemis kewarasan.
Jadi, untuk teman-teman Psytroopers, jangan lupa bahwa kendali penuh atas regulasi emosi dan masa depan ada di tangan kita sendiri, bukan di bawah kendali atau validasi dari pasangan. Mari kita bangun kesadaran diri untuk berani menetapkan batasan yang sehat (healthy boundaries) agar tidak kehilangan identitas diri demi menuruti ego pasangan. Mengambil langkah tegas untuk memprioritaskan kesehatan mental adalah kunci utama agar kita tetap dapat bertumbuh secara produktif di dunia akademik.
Daftar Pustaka / References
Lestari, A. D., & Musslifah, A. R. (2025). Intervensi konseling eklektik pada masalah hubungan interpersonal dan regulasi emosi mahasiswa pasca putus. Fukuri: Journal of Psychology, 1(2), 104–113. https://doi.org/10.53088/fukuri.v1i2.2023
Panuluh, W. A. D., Hotifah, Y., & Simon, I. M. (2025). Dinamika psikologis mahasiswa dengan toxic relationship: Studi fenomenologi pada mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan, 5(8), 1–12. https://doi.org/10.17977/um065.v5.i8.2025.6
