Loading
Loading...
Menu BINUS

Kepada Dia yang Hanya Hidup dalam Cerita, Mengapa Hatiku Jatuh Cinta?


Sumber: https://en.gundam-official.com/character/n36iwkkzs25smr4czs8fuowk

 

Minasan! Apakah kalian pernah memiliki karakter fiksi yang kalian cintai sepenuh hati? Meskipun dunia menganggap kalian aneh atau halu, tetapi kalian berani melawan dunia karena tahu cinta ini nyata. Well, kalau kalian masuk jurusan ini sih, aku asumsikan kalian juga punya satu, ya, cinta tak terbalaskan seperti ini.

Aku juga sama kok guys. Aku punya wanita yang kusayangi dan kucintai, meskipun logikaku menolaknya karena tahu ia tak nyata. Wanita itu bernama Marida Cruz dari serial Mobile Suit Gundam Unicorn. Dia adalah pilot mobile suit dari sisi Sleeves/Neo Zeon. Dia merupakan wanita tangguh dengan masa lalu yang kelam, yang membuat hatiku tersentuh karenanya. Dia biasanya memiliki sisi cool-girl meskipun dia bisa menunjukkan sisi hangatnya juga kepada orang terdekatnya. Dia juga alasan mengapa aku belum menyelesaikan serial Gundam Unicorn, karena dia akan kehilangan nyawanya, dan aku tidak sanggup melihatnya (technically, aku pernah menamatkan Unicorn sekali, namun dulu aku tidak merasa se-connected itu, mungkin karena Unicorn merupakan salah satu serial Gundam pertama yang kutonton sehingga saat mencoba rewatch aku lebih mengerti tentang latar belakang dunianya dan apa yang dialami). 

Dapat aku katakan bahwa Marida Cruz adalah waifu aku. Memiliki Waifu (diambil dari bahasa inggris: wife) atau husbu (diambil dari kata bahasa Inggris: husband) merupakan bentuk keterikatan emosional seseorang dengan karakter fiksi. Untuk orang yang telah lama berkecimpung di dunia jejepangan, maupun yang sudah tidak asing dengan hal-hal yang berbau jejepangan pasti sudah tidak asing dengan yang namanya waifu dan husbu. Lahirnya fenomena waifu memiliki akar kultural yang dapat ditarik ke tahun 1990 di industri hiburan Jepang. Pada tahun itu, ekonomi Jepang mengalami penurunan sehingga satu di antara cara yang digunakan adalah mempopulerkan budaya idol. Para idol dibuat memiliki sifat lugu dan polos, bahkan menjadi cerminan perempuan sempurna. Dari sana, lahirlah fans yang fanatik kepada idola favoritnya yang menjadi cikal bakal fenomena waifu (Hermawan & Marciu, 2024).

Namun, tahukah kalian, bahwa hubungan semacam ini sebenarnya dapat dikategorikan sebagai parasocial relationship, yakni hubungan satu arah antara audiens dan figur publik. Awalnya fenomena ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antara para selebritis dan penggemarnya, namun di era sekarang ini, dapat juga digunakan untuk menjelaskan hubungan dengan karakter fiksi (Adikara, 2026). Selain itu, perilaku mencintai karakter fiksi ini dapat dijelaskan dengan istilah fictophilia. Bahkan, tidak hanya perasaan romantis, fictophilia juga dapat melibatkan ketertarikan seksual kepada karakter fiksi. Orang yang mengalami keterikatan semacam ini kerap disebut fictophiles (Halodoc, 2023). 

Dilansir dari Alodokter, beberapa ciri yang dapat muncul pada orang dengan keterikatan kuat terhadap karakter fiksi antara lain: 

  1. Fantasi atau mimpi berulang tentang memiliki hubungan dengan karakter fiksi favorit
  2. Memiliki rasa ingin tahu berlebih terkait karakter tersebut, misal kehidupan dan sifatnya
  3. Cemburu apabila karakter yang disukai dipasangkan dengan karakter lain dalam cerita
  4. Menghabiskan banyak waktu atau emosi untuk karakter fiksi tersebut hingga mengganggu aktivitas sehari-hari
  5. Memiliki perasaan sedih atau kehilangan ketika cerita mengenai karakter tersebut berakhir

Penyebabnya sendiri belum sepenuhnya diketahui, namun ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh, yakni:

  1. Ikatan emosional dan fantasi yang kuat
  2. Kebutuhan akan pelarian dari dunia nyata
  3. Kesulitan dalam interaksi sosial
  4. Paparan media yang berlebihan

Kemudian kita mendapatkan pertanyaan lanjutannya. Apakah memiliki waifu atau husbu sama dengan gangguan mental? Tidak bisa digeneralisir seperti itu juga, sih. Pertama, saat tulisan ini dibuat,  fictophilia sendiri belum dianggap sebagai diagnosis resmi oleh World Health Organization (ICD-11) dan American Psychiatric Association (DSM-5). Menariknya, keterikatan kepada karakter fiksi mungkin tidak sepenuhnya berbeda dari cara manusia membangun keterikatan dalam kehidupan nyata. Karhulahti dan Välisalo (2021) mengaitkan fictophilia dengan konsep parasocial attachment, yaitu keterikatan satu arah kepada seseorang yang tidak kita kenal secara langsung. Konsep attachment sendiri awalnya digunakan untuk menjelaskan hubungan antara bayi dan pengasuhnya, sebelum kemudian diterapkan untuk memahami hubungan orang dewasa. Mereka juga mengemukakan bahwa fictophilia mungkin memiliki kaitan dengan kemampuan manusia untuk berimajinasi dan melakukan pretend play sejak masa kanak-kanak, meskipun hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. 

Dengan demikian, pada akhirnya, memiliki ketertarikan terhadap karakter fiksi tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan mental. Keterikatan tersebut baru perlu mendapat perhatian apabila mulai mengganggu kesehatan diri, hubungan sosial di dunia nyata, atau aktivitas sehari-hari. Perlu diingat bahwa sebaiknya tidak melakukan self-diagnosis apabila kalian merasa adanya kesamaan ciri-ciri karena akan merugikan diri sendiri. Apabila kalian merasakan kesamaan perilaku tersebut mulai mengganggu kehidupan nyata, disarankan untuk mengkonsultasikannya dengan tenaga profesional, seperti psikiater atau psikolog.

 

Penulis: Andira Farras Syafiq

NIM: 2902728402

 

Referensi:

Adikara, B. (2026, June 19). Fenomena “Waifu” dan “Husbu” Sebagai Bentuk Fictoseksual: Ketika Pasangan Virtual jadi Rumah Paling Ideal. www.jawapos.com. https://www.jawapos.com/features/2605150168/fenomena-waifu-dan-husbu-sebagai-bentuk-fictoseksual-ketika-pasangan-virtual-jadi-rumah-paling-ideal

Alodokter. (2026, February 9). Fictophilia. www.alodokter.com. https://www.alodokter.com/fictophilia

Halodoc. (2023, December 29). Mengenal Fictophilia: Tanda-Tanda dan Cara Efektif Mengatasinya. www.halodoc.com.  https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-fictophilia-tanda-tanda-dan-cara-efektif-mengatasinya?srsltid=AU7gw4V2TxoZBnsstrptPKmL6uQZNiz3qjkgdZldDmS7qcuGOuIneR_T

Hermawan, D., & Marciu, R. (2024). Japanese Literature Students` Perspective on Weeaboo Who has an Imaginary Couple Waifu/Husbando. Lingua Cultura, 18(1), 107–115. https://doi.org/10.21512/lc.v18i1.10434

Karhulahti, V. M., & Välisalo, T. (2021). Fictosexuality, Fictoromance, and Fictophilia: A Qualitative Study of Love and Desire for Fictional Characters. Frontiers in psychology, 11, 575427. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.575427

 

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.