Loading
Loading...
Menu BINUS

Satu Plastik, Seribu Dampak: Menelusuri Jejak Mikroplastik

Sumber: https://www.halodoc.com/artikel/5-bahaya-mikroplastik-bagi-kesehatan-tubuh

Plastik telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari karena sifatnya yang ringan, praktis, dan tahan lama. Namun, ketika dibuang, plastik tidak benar-benar menghilang, melainkan dapat terurai menjadi potongan-potongan yang semakin kecil hingga membentuk mikroplastik, yaitu partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm. Partikel ini telah ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk air, makanan, dan udara, sehingga keberadaannya semakin dekat dengan kehidupan manusia. Dari benda yang kita gunakan setiap hari hingga partikel yang berpotensi masuk ke dalam tubuh, jejak plastik ternyata jauh lebih panjang daripada yang kita bayangkan.

Plastik masih melekat dalam kehidupan sehari-hari meskipun sudah ada berbagai upaya untuk mengurangi penggunaannya. Hal ini terjadi karena plastik memiliki banyak kelebihan, seperti ringan, kuat, praktis, tahan air, dan relatif murah. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama sebagai mahasiswa, penggunaan plastik sekali pakai masih sangat sering dijumpai, seperti kantong plastik, botol air mineral, gelas plastik, sedotan, dan bungkus makanan. Sifatnya yang praktis dan dapat langsung dibuang setelah digunakan membuat plastik menjadi pilihan yang mudah dibandingkan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Akibatnya, jumlah sampah plastik terus meningkat akibat tingginya penggunaan plastik sekali pakai.

Mikroplastik masuk ke tubuh manusia melalui berbagai jalur, beberapa di antaranya adalah sistem pencernaan (digesti) serta pernapasan (inhalasi). Salah satu jalur paparannya adalah melalui konsumsi makanan laut yang terkontaminasi. Limbah plastik yang dibuang ke laut mengalami degradasi menjadi ukuran yang lebih kecil. Dengan ukurannya yang kecil, mikroplastik dapat tertelan oleh organisme perairan, mulai dari plankton, ikan kecil, hingga ikan besar yang dikonsumsi manusia. Melalui rantai makanan ini, partikel mikroplastik dapat berpindah dari perairan ke dalam tubuh manusia. Sementara itu, paparan melalui inhalasi terjadi ketika manusia menghirup udara yang mengandung partikel mikroplastik, contohnya serat mikro dari pakaian sintetis. Hidung memiliki mekanisme pertahanan alami untuk menyaring partikel yang masuk. Namun, sebagian partikel berukuran kecil berpotensi melewati pertahanan awal tersebut dan masuk lebih jauh ke dalam saluran pernapasan.

Keberadaan mikroplastik di dalam tubuh manusia menimbulkan kekhawatiran karena partikel tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai sistem tubuh. Setelah masuk melalui makanan, minuman, maupun udara yang dihirup, mikroplastik dapat berinteraksi dengan jaringan tubuh. Sejumlah penelitian, terutama penelitian laboratorium, menunjukkan bahwa paparan mikroplastik berpotensi memicu stres oksidatif serta respons peradangan. Beberapa penelitian juga telah mendeteksi mikroplastik pada berbagai sampel biologis manusia, seperti darah, jaringan paru-paru, feses, plasenta, dan ASI. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia dapat terpapar mikroplastik, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan bahwa partikel tersebut menyebabkan penyakit tertentu. Pada sistem pencernaan, mikroplastik diduga berpotensi mengganggu keseimbangan mikroorganisme dalam usus dan memengaruhi fungsi lapisan pelindung saluran pencernaan. Sementara itu, partikel yang terhirup berpotensi mengganggu sistem pernapasan dan memicu peradangan pada jaringan paru-paru. Selain itu, mikroplastik dapat membawa atau berinteraksi dengan bahan kimia tertentu yang digunakan dalam pembuatan plastik maupun polutan yang menempel pada permukaannya. Hal ini membuat potensi dampaknya menjadi semakin kompleks. Meskipun demikian, hubungan langsung antara paparan mikroplastik dan penyakit tertentu pada manusia masih belum dapat dipastikan sepenuhnya karena penelitian mengenai dosis, paparan jangka panjang, serta dampak klinisnya masih terus berkembang. Oleh karena itu, “seribu dampak” dari satu plastik tidak hanya menggambarkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya, tetapi juga kemungkinan konsekuensi yang dapat mengikuti perjalanan plastik dari lingkungan, masuk ke rantai makanan, hingga akhirnya mencapai tubuh manusia.

Mengingat jejak mikroplastik yang telah ditemukan dalam rantai makanan dan berbagai sampel biologis manusia, penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan, melainkan harus dilakukan secara multisektor, mulai dari produksi plastik hingga pengelolaan limbah. Produsen dapat berperan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengembangkan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah juga perlu memperkuat kebijakan pengurangan sampah plastik serta meningkatkan pengawasan terhadap pengelolaan limbah. Selain itu, investasi pada infrastruktur pengelolaan sampah, termasuk fasilitas daur ulang yang mampu memilah plastik berdasarkan jenisnya, menjadi penting agar limbah plastik tidak berakhir di lingkungan terbuka dan terurai menjadi partikel yang lebih kecil akibat paparan sinar matahari maupun gesekan fisik.

Sebagai mahasiswa, langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membawa botol minum dan alat makan sendiri untuk mengurangi penggunaan gelas atau sedotan plastik saat membeli minuman maupun makanan di kantin.
  • Membiasakan diri membawa tas belanja sendiri saat membeli kebutuhan sehari-hari.
  • Memilih makan di tempat dibandingkan membawa pulang makanan yang biasanya menggunakan kemasan plastik dan busa polistirena.

Dengan demikian, solusi terhadap persoalan mikroplastik menuntut kerja sama antara kebijakan yang tegas, inovasi teknologi yang berkelanjutan, dan perubahan perilaku individu. Mahasiswa juga dapat berperan aktif sebagai agen perubahan dengan menerapkan kebiasaan yang mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Melalui langkah-langkah tersebut, dampak negatif dari plastik dapat ditekan secara bertahap demi keberlangsungan lingkungan dan kesehatan generasi mendatang.

 

Referensi

  1. Annifa Bassiroh. (2025, July 20). Bagaimana Mikroplastik Bisa Masuk Ke Tubuh Manusia? Ini Penjelasan Dosen Umsida. Fakultas Sains Dan Teknologi. https://fst.umsida.ac.id/bagaimana-mikroplastik-bisa-masuk-ke-tubuh-manusia-ini-penjelasan-dosen-umsida/
  2. Nawab, A., Ahmad, M., Khan, M. T., Nafees, M., Khan, I., & Ihsanullah, I. (2024). Human exposure to microplastics: A review on exposure routes and public health impacts. Journal of Hazardous Materials Advances, 16, 100487. https://doi.org/10.1016/j.hazadv.2024.100487
  3. Nguyen, X. C., Dao, D. C., Nguyen, T. T., Tran, Q. B., Huyen Nguyen, T. T., Tuan, T. A., Phuong Nguyen, K. L., Nguyen, Van T., Nadda, A. K., Thanh-Nho, N., Chung, W. J., Chang, S. W., & Nguyen, D. D. (2022). Generation patterns and consumer behavior of single-use plastic towards plastic-free university campuses. Chemosphere, 291(3), 133059. https://doi.org/10.1016/j.chemosphere.2021.133059
  4. Rosari, N. A. (2023, September 17). Mikroplastik, Seberapa Bahaya Bagi Lingkungan Dan Kesehatan Manusia? detikcom. Detikedu. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6935505/mikroplastik-seberapa-bahaya-bagi-lingkungan-dan-kesehatan-manusia
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.