Loading
Loading...
Menu BINUS

Sunk Cost Fallacy: Kenapa Kita Susah Melepaskan?

“Kadang yang membuat kita bertahan bukan lagi keyakinan, melainkan rasa sayang atas apa yang sudah kita korbankan.”

Pernahkah kamu merasa ingin berhenti dari sesuatu, tetapi selalu berujung membatalkan niat itu karena mengingat semua waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan?

Mungkin kamu pernah merasa salah pilih jurusan, tetapi tetap bertahan karena sudah menempuh beberapa semester. Atau mungkin kamu tetap berada di sebuah organisasi yang sudah tidak lagi memberi ruang untuk berkembang, hanya karena merasa sayang meninggalkan posisi yang sudah lama diperjuangkan. Bahkan dalam hal sesederhana menonton film yang membosankan, kita sering tetap menghabiskannya sampai akhir hanya karena “sudah terlanjur bayar tiket.”

Sumber: tvtropes.org

Fenomena ini dikenal sebagai Sunk Cost Fallacy, sebuah bias psikologis yang membuat seseorang terus mempertahankan sebuah keputusan bukan karena masih menguntungkan, melainkan karena sudah terlanjur banyak yang diinvestasikan di dalamnya, baik berupa waktu, uang, maupun usaha (Arkes & Blumer, 1985). Istilah ini pertama kali diteliti secara mendalam oleh psikolog Hal Arkes dan Catherine Blumer, yang menemukan bahwa manusia cenderung sulit membuat keputusan rasional ketika sudah ada investasi masa lalu yang “tidak boleh sia-sia”. Padahal, secara logika, apa pun yang sudah dikeluarkan sebelumnya tidak akan pernah bisa kembali, apa pun keputusan yang diambil selanjutnya.

“Berhenti bukan berarti semua usaha sebelumnya sia-sia. Melanjutkan sesuatu yang salah arah justru sering kali menambah kerugian baru di atas kerugian lama.”

Dalam kehidupan mahasiswa, jebakan ini sering muncul tanpa disadari. Riset di bidang psikologi pendidikan menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung tetap bertahan dengan pilihan sekolah, jurusan, atau program studi meski menyadari pilihan tersebut kurang sesuai, semata untuk menghindari rasa kehilangan yang muncul dari melepaskan investasi waktu dan usaha yang sudah ditanamkan (The Decision Lab, n.d.). Ketidaknyamanan psikologis semacam ini bukan hanya membuat seseorang bertahan lebih lama dari yang seharusnya, tetapi juga bisa memicu kecemasan dan rasa terjebak yang berkepanjangan, terutama ketika keinginan untuk berubah arah berbenturan dengan rasa takut dianggap gagal atau membuang usaha yang sudah dilakukan (Psychology Today, 2023).

Di luar ranah akademik, pola yang sama juga terlihat dalam kehidupan berorganisasi maupun hubungan personal. Banyak orang bertahan di kepanitiaan yang sudah tidak sehat, hubungan yang tidak lagi membahagiakan, atau kebiasaan yang sebenarnya merugikan, hanya karena merasa “sudah kepalang jauh” untuk mundur. Padahal, keputusan terbaik seharusnya dibuat berdasarkan apa yang akan terjadi ke depan, bukan berdasarkan apa yang sudah terjadi di masa lalu.

Lalu, bagaimana caranya kita mengenali kapan harus bertahan dan kapan harus berhenti?

Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan bertanya pada diri sendiri: jika aku belum pernah memulai ini sama sekali, apakah aku akan tetap memilih untuk memulainya hari ini? Jika jawabannya tidak, maka bertahan hanya karena investasi masa lalu justru berpotensi menambah kerugian, bukan menyelamatkannya.

Pada akhirnya, keberanian untuk berhenti bukanlah tanda kegagalan. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kedewasaan dalam mengambil keputusan. Mengakui bahwa waktu, tenaga, dan usaha yang sudah dikeluarkan tetap berharga sebagai bagian dari proses belajar, meski jalan yang dipilih akhirnya berubah arah. Jangan biarkan masa lalu menyandera masa depanmu. Kadang, melepaskan justru menjadi langkah pertama menuju sesuatu yang jauh lebih baik.

Daftar Pustaka

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.