Loading
Loading...
Menu BINUS

Efek FOMO dari Sosial Media terhadap Kesehatan Mental Remaja di Indonesia

Source: https://www.freepik.com/vectors/fomo

Sosial media merupakan sesuatu yang ada di kehidupan sehari-hari. Sosial media menyiarkan banyak berita atau informasi baik secara kabar gembira, duka maupun kejam. Dalam sirkulasi media sosial terdapat fenomena bernama FOMO (Fear of Missing Out), kecemasan yang meluas bahwa orang lain memiliki pengalaman yang memuaskan namun tidak dapat dialami. Efek ini seringkali dipicu oleh sosial media, menyebabkan kebutuhan konstan dan mendesak untuk tetap terhubung dan mengikuti tren. Hal ini juga berakar pada rendahnya rasa percaya diri atau kebutuhan akan pengakuan.

Siswa usia 13-16 tahun menunjukkan hubungan positif yang substansial antara FOMO dan ketergantungan sosial media berdasarkan hasil penelitian Linda dan Christina. Secara definisi, semakin perasaan FOMO meningkat, semakin meningkat pun kecanduan sosial media (Lay et al., 2023). Selanjutnya, ada hubungan positif antara FOMO dengan penggunaan media sosial Instagram pada remaja berdasarkan hasil penelitian Augusta dan Putri (Augusta dan Putri, 2023). Kemudian penelitian dari Sulastri dan Sylvia menunjukkan bahwa remaja yang mengalami FoMo menghadapi kesulitan dalam berinteraksi sosial karena ketidakmampuan mereka untuk mengendalikan diri di lingkungan sekitar (Sulastri & Sylvia, 2022).

Remaja dengan tingkat FOMO yang tinggi cenderung gaya hidup yang tidak sehat. Perasaan iri dan pengucilan sosial juga dikaitkan dengan kebiasaan makan yang buruk. Selain itu, FOMO mendorong penggunaan sosial media yang tinggi yang menyebabkan gaya hidup tidak aktif yang mempengaruhi epidemi anoreksia nervosa(AN) pada remaja. PIU karena FOMO dapat menyebabkan postur tubuh yang buruk dan nyeri muskuloskeletal yang melibatkan leher, punggung, tangan, dan jari. Hal ini semakin diperparah karena rasa sakit mencegah dimulainya atau berlanjutnya tidur, yang berkontribusi pada kesehatan fisik yang buruk.

Dalam sebuah studi universitas Israel terhadap 40 partisipan yang mengukur penggunaan smartphone di malam hari, mereka berisiko mengalami penurunan kualitas tidur dan kesehatan psikologis secara keseluruhan. Survei terhadap 101 remaja mengaitkan kekhawatiran sebelum tidur dan FOMO dengan latensi awal tidur yang lebih lama dan durasi tidur yang berkurang. Penelitian klinis juga telah membuktikan bahwa cahaya biru yang dipancarkan dari layar perangkat elektronik (cahaya biru gelombang pendek dengan panjang gelombang antara 415 nm dan 455 nm) mempengaruhi tidur.

Mengatasi rasa takut ketinggalan (FOMO) membutuhkan pergeseran kesadaran. Dari perbandingan eksternal kepada kepuasaan internal, terutama dengan membatasi konsumen digital dan menumbuhkan kesadaran penuh. Solusi praktisnya adalah mengurangi penggunaan media sosial atau melakukan detoks digital. Alih-alih dengan cemas mengamati orang lain, fokus pada pengalaman saat in melalui kesadaran penuh, meditasi, dan apresiasi terhadap hidup sendiri.

Daftar Pustaka

  • Jannah, S.N.F. (2022). Gejala Fear of Missing Out dan Adiksi Media Sosial Remaja Putri di Era Pandemi Covid-19. Jurnal Paradigma, 3(1), 1-14.
  • Wahyuningtyas, I., Hambali, I., & Muslihati. (2025). Profil Kecenderungan Fear of Missing Out (FoMO) pada Siswa Sekolah Menengah Atas. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 9(2), 1-8.
  • Alodokter. (2025). FOMO: Arti, Dampak Negatif, dan Cara Mengatasinya.
  • Chyquitita, T. (2024). Mengurai Fenomena FoMo dikalangan Remaja. Jurnal Ilmu Pendidikan, 6(4), 3763-3771.
  • Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World J Clin Cases, 9(19), pp. 4881-4889.
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.