Di era digital, kita sering melihat pesan yang mendorong seseorang untuk selalu berpikir positif. Kalimat seperti “tetap semangat”, “jangan sedih”, atau “lihat sisi baiknya” sering dianggap sebagai cara untuk memberikan dukungan. Namun, jika sikap positif dipaksakan dalam setiap situasi, hal ini justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity.
Toxic positivity adalah sikap yang menuntut seseorang untuk tetap optimis dalam keadaan apapun, bahkan ketika sedang menghadapi kesulitan atau kesedihan. Dalam kondisi ini, emosi seperti marah, sedih, atau kecewa dianggap tidak pantas untuk diperlihatkan. Akibatnya, orang cenderung menolak atau mengabaikan perasaan negatif tersebut.
Berbeda dengan sikap positif yang sehat, toxic positivity justru menolak keberadaan emosi yang beragam. Seseorang mungkin akan merespons masalah dengan kalimat seperti “kamu harus bersyukur” atau “jangan dipikirkan buruknya, pikirkan saja hal baiknya”. Walaupun terdengar seperti dukungan, kata-kata tersebut seringkali membuat orang yang sedang mengalami kesulitan merasa tidak dipahami.
Ada beberapa penyebab mengapa toxic positivity sering terjadi. Pertama, banyak orang merasa tidak nyaman ketika harus menghadapi emosi negatif, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kedua, media sosial hanya sering menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna dan penuh kebahagiaan, sehingga muncul tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja. Selain itu, toxic positivity juga dapat muncul dari niat baik yang kurang tepat. Seseorang mungkin ingin menghibur orang lain, tetapi tanpa sadar justru meremehkan perasaan mereka.
Toxic positivity dapat membuat seseorang merasa emosinya tidak divalidasi dan dihargai. Ketika perasaan negatif terus ditekan, hal ini dapat menyebabkan kecemasan, stres, bahkan perasaan kesepian. Seseorang juga bisa merasa bersalah karena menganggap kesedihan sebagai tanda kelemahan.
Jika seseorang merasa tidak didengar atau tidak dipahami, mereka mungkin menjadi enggan untuk berbagi cerita dengan orang lain. Sehingga, menimbulkan jarak emosional dalam hubungan sosial.
Untuk menghindari toxic positivity, penting untuk menyadari bahwa semua emosi adalah bagian alami dari kehidupan. Perasaan sedih, marah, atau kecewa tidak perlu disembunyikan. Sebaliknya, emosi tersebut perlu diakui dan dipahami. Kita juga dapat mencoba memberikan respons yang lebih empati kepada orang lain. Misalnya, dengan mengatakan “aku ngerti ini pasti sulit untuk kamu” daripada langsung menyuruh mereka untuk tetap positif.
Dengan demikian, sikap positif yang sehat bukan berarti selalu bahagia. Positif yang sebenarnya adalah mampu menerima berbagai emosi, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Dengan memahami hal ini, kita dapat membangun mental yang sehat dan menghadapi kehidupan secara lebih jujur dan realistis.
Daftar Pustaka
- Darmawan, A. P., & Gischa, S. (2022, May 12). Toxic Positivity: Pengertian, Tanda-Tanda, Dampak, dan Contoh. Kompas.com. Retrieved March 21, 2026, from https://www.kompas.com/skola/read/2022/05/12/170000869/toxic-positivity–pengertian-tanda-tanda-dampak-dan-contoh
- Toxic Positivity: Apa Itu? Kenali Dampaknya! (2025, October 17). Halodoc. Retrieved March 21, 2026, from https://www.halodoc.com/artikel/toxic-positivity-apa-itu-kenali-dampaknya
- Toxic Positivity Dalam Komunikasi Dengan Mengabaikan Emosi Negatif dan Dampaknya pada Manusia. (2025, January 13). UNIKOM. Retrieved March 21, 2026, from https://web.unikom.ac.id/toxic-positivity-dalam-komunikasi-dengan-mengabaikan-emosi-negatif-dan-dampaknya-pada-manusia/

