Loading
Loading...
Menu BINUS

Fenomena “Marathon” di Kalangan Gen Z: Tren FOMO atau Gaya Hidup Baru?

Kalau kamu buka Instagram atau TikTok di Minggu pagi, pasti ada saja teman yang update
Instastory pamer medali, jarak lari, atau rute lari dari smartwatch mereka. Sepatu larinya pun
warna-warni dan keren. Mulai dari Fun Run 5K, 10K, Half-Marathon, sampai Full Marathon,
sekarang pesertanya sangat didominasi oleh anak muda.
Dulu, lari jarak jauh identik dengan olahraganya orang dewasa atau para atlet. Namun
sekarang, daftar event lari bergengsi bisa langsung habis dalam hitungan menit, rasanya sudah
mirip war tiket konser! Pertanyaannya: apakah tren ini murni karena Gen Z makin sadar dengan
kesehatan, atau cuma FOMO (Fear of Missing Out) demi konten media sosial?
Tidak bisa dipungkiri bahwa, terdapat unsur gaya dan kebanggaan tersendiri dalam tren ini.
Perlengkapan lari sekarang sudah jadi bagian dari fashion anak muda. Sepatu lari kekinian, topi
sporty, sampai smartwatch canggih seolah menjadi perlengkapan wajib buat tampil keren di
lintasan.
Ditambah lagi, sekarang banyak banget Running Club (komunitas lari) di berbagai kota. Lari
yang dulunya olahraga sendirian, sekarang berubah jadi ajang kumpul bareng, menambah

teman kerja, atau bahkan cari jodoh. Motivasi awalnya pun sering kali buat konten. Pamer rekor
pribadi atau sekadar nunjukin kalau kita produktif bangun pagi di akhir pekan, terbukti sukses
bikin image kita terlihat positif di mata followers.
Walaupun banyak yang mulai karena ikut-ikutan, tren ini tidak selalu berdampak negatif.
Faktanya, banyak Gen Z yang akhirnya sungguh-sungguh suka berlari karena tubuh mereka
merasakan langsung manfaatnya. Stamina makin kuat buat aktivitas sehari-hari, tidur jadi lebih
nyenyak, dan badan nggak gampang lemas.
Untuk mahasiswa yang pusing karena tumpukan tugas, kuis, atau revisian skripsi, lari di ruang
terbuka bisa jadi pelarian yang sangat menyehatkan dari rasa penat (burnout). Ini jadi momen
yang pas buat istirahat sejenak dari layar HP atau laptop. Olahraga lari juga bikin tubuh
memproduksi hormon endorfin yang terbukti ampuh memperbaiki suasana hati (mood).
Lebih dari itu, lari jarak jauh mengajarkan kita soal kedisiplinan. Ikut event lari jelas butuh
persiapan fisik. Secara tidak langsung, anak muda jadi belajar mengatur waktu harian,
menjaga pola makan, dan memastikan tidur yang cukup di tengah padatnya jadwal kuliah atau
organisasi.
Namun, di balik semua manfaat positifnya, ada bahaya yang mengintai kalau kamu cuma modal
FOMO tanpa persiapan. Nekat daftar kategori jauh seperti Half-Marathon (21 km) atau Full
Marathon (42 km) tanpa latihan fisik sebelumnya sama saja dengan mengundang cedera.
Berikut adalah beberapa cedera fisik yang sering dialami oleh pelari pemula kalau terlalu
memaksakan diri:
● Shin Splints: Rasa nyeri tajam di tulang kering bagian depan. Biasanya terjadi karena
jarak lari langsung ditambah drastis padahal kaki belum terbiasa.
● Runner’s Knee: Nyeri di sekitar tempurung lutut, sering kali karena postur lari yang
kurang pas atau sepatu yang tidak cocok.
● Kram Otot: Sering terjadi karena kurang minum air (dehidrasi) atau otot kaget karena
dipaksa menahan beban terlalu lama.
Jadi, penting banget buat selalu ingat kalau lari itu olahraga personal, bukan ajang pamer
kecepatan (pace) sama orang lain. Mulailah dari jarak yang aman seperti 3K atau 5K, rajin
pemanasan, dan yang paling penting: dengarkan batas kemampuan tubuhmu sendiri.
Kesimpulannya, tren maraton di kalangan Gen Z ini adalah gabungan antara fenomena FOMO
dan gaya hidup sehat yang baru. FOMO sering kali jadi pintu awal yang bikin seseorang mau
bergerak dan membeli perlengkapan lari. Tapi seiring berjalannya waktu, rutinitas ini sukses
mengubah tren sesaat menjadi gaya hidup yang beneran bermanfaat buat fisik dan pikiran.

Nah, kalau kamu sendiri gimana? Akhir pekan ini kamu jadi tim yang bangun pagi buat ikut Fun
Run, atau tim rebahan sambil nge-like Instastory teman-teman? Apapun pilihanmu, jangan lupa
luangkan sedikit waktu buat olahraga ringan di tengah sibuknya kuliah, ya!

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.