Burnout akademik merupakan sebuah kondisi kelelahan mental dan emosional akibat tekanan akademik yang berlangsung dalam jangka panjang. Fenomena ini semakin sering dialami oleh pengajar dan mahasiswa, terutama dalam lingkungan pendidikan yang menuntut performa tinggi secara terus-menerus.
Sebuah penelitian berskala besar terhadap mahasiswa di Tiongkok menemukan bahwa lebih dari setengah responden mengalami burnout akademik, yang ditandai oleh kelelahan emosional, sikap sinis terhadap studi, serta menurunnya rasa pencapaian diri. Burnout lebih sering dialami oleh mahasiswa tingkat akhir, mahasiswa laki-laki, serta mereka yang menghadapi tekanan akademik dan kehidupan yang tinggi.
Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa stress akademik memiliki hubungan langsung dengan burnout akademik. Tekanan akademik yang tinggi dapat meningkatkan kecemasan akademik, yang kemudian dapat berperan dalam mempengaruhi burnout. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan belajar yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi kelelahan mental yang berkelanjutan.
Namun, academic self-efficacy atau kepercayaan diri terhadap kemampuan akademik juga berperan sebagai faktor pelindung. Individu dengan tingkat self-efficacy yang tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan akademik dan tidak mudah mengalami burnout, meskipun berada dalam situasi yang menuntut.
Referensi:
Liu, Z., Xie, Y., Sun, Z., Liu, D., Yin, H., & Shi, L. (2023). Factors associated with academic burnout and its prevalence among university students: a cross-sectional study. BMC medical education, 23(1), 317.
Gao, X. (2023). Academic stress and academic burnout in adolescents: a moderated mediating model. Frontiers in psychology, 14, 1133706.
Sumber Foto:

