Industri Farmasi di Kala Pandemi, Untung atau Rugi?

(Sumber: https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2022/01/12/ilustrasi-apoteker.jpeg?w=1200 )

Sudah lebih dari dua tahun lamanya pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Banyak sekali perubahan yang terasa dalam dua tahun ini karena adanya transisi dari yang awalnya banyak kegiatan di luar rumah menjadi di dalam rumah. Semua kebutuhan baik primer, sekunder, maupun tersier juga ikut berubah menyesuaikan keadaan. Hal-hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada sektor industri di Indonesia. Industri di Indonesia memiliki kontribusi yang besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan adanya pandemi, keadaan ekonomi Indonesia secara otomatis mengalami perubahan.

COVID-19 merupakan penyakit yang diakibatkan dari infeksi virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Mereka yang terjangkit virus ini akan mengalami gangguan pada sistem pernapasan yang bermula dari gejala yang ringan, seperti flu, hingga dapat menyebabkan infeksi paru-paru, seperti pneumonia. Melalui definisi tersebut, dapat dilihat bahwa industri farmasi memegang peranan yang penting. Industri farmasi di Indonesia menjadi salah satu prioritas dalam pandemi karena memproduksi obat-obatan. Industri farmasi di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan di masa pandemi. Pada tahun 2021, industri farmasi mengalami pertumbuhan hingga 10 persen dengan nilai total kurang lebih 90-95 triliun rupiah. 

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, F. Tirto Kusnadi, mengatakan bahwa semenjak pandemi orang lebih memahami cara menjaga kesehatan. Di masa pandemi, kesehatan menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia. Di sisi lain, masih ada tantangan yang berkaitan dengan bahan baku obat-obatan. Hampir 90% dari kebutuhan BBO (Bahan Baku Obat) masih diimpor dari negara lain. Hal ini dapat berdampak negatif pada daya saing obat-obatan negara. Selain itu, kebutuhan pereaksi kimia atau biologi untuk dapat memproduksi dan memurnikan juga masih mengandalkan impor. Saat ada penutupan jalur masuk produk impor, produksi obat-obatan juga dapat terancam.

Selama pandemi COVID-19, industri farmasi mengalami kenaikan yang signifikan karena kebutuhan masyarakat akan obat-obatan semakin tinggi. Industri farmasi menjadi salah satu penyumbang ekonomi terbesar bagi Indonesia. Namun, industri farmasi masih mengandalkan impor untuk bahan bakunya. Kemandirian industri farmasi nasional masih menjadi tantangan. Dengan ini, diperlukan suatu solusi untuk mewujudkan kemandirian industri farmasi di Indonesia.

Sumber : 

Winarto, Y. (2022, Maret 26). Selama Pandemi, Industri Farmasi Catatkan Penjualan Capai Rp 95 Triliun. Retrieved from newssetup.kontan.co.id: https://newssetup.kontan.co.id/news/selama-pandemi-industri-farmasi-catatkan-penjualan-capai-rp-95-triliun?page=all 

Ruskar, D., Hastuti, S., Wahyudi, H., Widana, I. D. K. K., Apriyadi, R. K. (2021). LAFIAL: Pandemi COVID-19 Sebagai Momentum Kemandirian Industri Farmasi Menuju Ketahanan Kesehatan Nasional. PENDIPA Journal of Science Education, 5(3), 303. https://doi.org/10.33369/pendipa.5.3.300-308 

Pittara. (2022, Januari 12). COVID-19. Retrieved from alodokter.com:   https://www.alodokter.com/covid-19 

Keshia Nagaria