Khawatir Dengan Masa Depan Bumi: Memahami Fenomena Eco-Anxiety Pada Generasi Muda
Halo Psytroopers! Pernah gak sih kalian merasa cemas atau takut saat melihat berita tentang banjir besar, cuaca ekstrem, atau suhu bumi yang semakin panas? Jika iya, bisa jadi itu bukan sekadar rasa khawatir biasa. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang fenomena yang semakin sering dihadapi oleh generasi muda, yaitu eco-anxiety, kecemasan terhadap masa depan bumi akibat perubahan lingkungan dan kerusakan lingkungan. Yuk, kita pahami bersama apa itu eco-anxiety, alasan fenomena ini banyak dialami anak muda, dampaknya terhadap kesehatan mental, serta cara mengatasinya.
Perubahan iklim bukanlah sekadar isu global yang dibahas dalam forum internasional, tetapi sudah menjadi kenyataan yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Bencana alam semakin sering terjadi seperti banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, hingga kenaikan suhu global. Bagi sebagian besar orang, kondisi ini memicu rasa khawatir terhadap masa depan bumi. Di tengah banyaknya paparan informasi yang secara terus-menerus melalui media sosial dan berita, banyak orang, terutama generasi muda, merasakan kecemasan yang mendalam terkait kondisi lingkungan. Perasaan ini dikenal sebagai eco-anxiety.
Eco-anxiety merupakan perasaan cemas, takut, atau khawatir yang berlebihan terhadap dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Menurut Unicef, eco-anxiety merupakan suatu respons emosional terhadap ancaman lingkungan yang dirasakan terutama saat individu merasa masa depan mereka terancam oleh krisis iklim (Unicef, 2025). Sementara itu, menurut artikel Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, eco-anxiety bukanlah gangguan mental klinis, melainkan bentuk stres atau kecemasan yang muncul akibat kekhawatiran terhadap perubahan lingkungan dan dampaknya bagi kehidupan manusia (Andina, 2023).
Fenomena eco-anxiety banyak dialami oleh generasi muda. Salah satu alasannya adalah karena generasi muda merasa bahwa mereka akan hidup lebih lama dan harus menghadapi dampak krisis iklim yang parah. Banyak anak muda di Indonesia mengalami kecemasan terkait perubahan iklim karena paparan informasi yang masif di media sosial serta minimnya tindakan nyata dari pemerintah (Papadopoulos & Renaldi, 2021). Anak muda juga memiliki tingkat kesadaran lingkungan yang tinggi, sehingga lebih rentan mengalami tekanan psikologis ketika melihat lambatnya respons global terhadap krisis iklim (Boluda-Verdú dkk., 2022). Saat individu tersebut memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko tetapi merasa tidak memiliki kendali untuk mengubah kebijakan atau sistem yang ada, terjadi ketidakseimbangan antara awareness dan perceived control.
Selain itu, perkembangan teknologi membuat informasi tentang bencana alam dan masalah lingkungan tersebar secara real-time, sehingga memperbesar rasa urgensi dan kekhawatiran. Menurut Dodds (2021), situasi ini memicu proses cognitive appraisal, di mana individu menilai perubahan iklim sebagai ancaman serius terhadap masa depan mereka. Namun, karena ancaman tersebut bersifat global dan sulit dikendalikan secara personal, muncul perasaan helplessness (ketidakberdayaan). Jika berlangsung terus-menerus, perasaan ini dapat berkembang menjadi kecemasan kronis.
Eco-anxiety dapat memberi dampak negatif dan positif pada saat bersamaan. Secara positif, kecemasan ini mampu mendorong seseorang untuk menjadi lebih peduli terhadap lingkungan, mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan, serta terlibat dalam aksi sosial atau kampanye lingkungan (Andina, 2023). Namun, jika tidak dikelola dengan baik, eco-anxiety dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental seseorang. Dampaknya berupa gangguan tidur, stres berkepanjangan, rasa putus asa, hingga kehilangan motivasi. Unicef mencatat bahwa sebagian anak muda bahkan merasakan kemarahan, frustrasi, dan kehilangan harapan terhadap masa depan (unicef, 2025). Jika kecemasan ini tidak terkontrol, kecemasan yang dirasakan dapat berkembang menjadi depresi atau gangguan kecemasan umum jika individu merasa tidak berdaya menghadapi situasi tersebut (Dodds, 2021).
Eco-anxiety dapat diatasi dengan membatasi paparan informasi yang berlebihan tentang krisis iklim, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta berdiskusi dengan orang lain untuk berbagi perasaan (Andina, 2023). Anak muda juga disarankan untuk menyalurkan kecemasan yang mereka rasakan melalui aksi nyata, seperti bergabung dalam komunitas lingkungan atau melakukan perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik dan menghemat energi (Unicef, 2025). Selain itu, sangat penting untuk membangun rasa harapan kolektif dan dukungan sosial agar anak muda tidak merasa sendirian dalam menghadapi kekhawatiran tersebut (Boluda-Verdú dkk., 2022). Dengan kata lain, kecemasan terhadap lingkungan dapat diubah menjadi energi positif jika disertai tindakan konkret dan dukungan sosial yang memadai.
Eco-anxiety merupakan respons emosional yang wajar di tengah krisis iklim yang semakin nyata. Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan merasakannya karena mereka memandang masa depan sebagai sesuatu yang tidak pasti karena kerusakan lingkungan. Meskipun demikian, kecemasan ini tidak selalu berdampak buruk. Dengan pengelolaan yang tepat, eco-anxiety justru dapat menjadi dorongan untuk menciptakan perubahan positif. Harapan untuk ke depannya, kesadaran kolektif tentang isu lingkungan tidak hanya berhenti pada rasa cemas, tetapi juga berkembang menjadi aksi nyata yang berkelanjutan. Masa depan bumi memang dipenuhi dengan tantangan, namun dengan kepedulian dan kerja sama, masa depan bumi yang lebih aman masih bisa diwujudkan.
Psytroopers, mari kita ubah rasa cemas menjadi langkah nyata. Mulai dari hal kecil seperti mengurangi penggunaan plastik, lebih bijak dalam mengonsumsi informasi, hingga terlibat dalam aksi atau komunitas peduli lingkungan. Karena masa depan bumi bukan hanya tanggung jawab segelintir pihak, tetapi tanggung jawab kita bersama.
Referensi:
Andina, Y. R. (2023, January 6). Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Kemkes.go.id. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2061/yuk-cari-tahu-cara-mengatasi-eco-anxiety
Boluda-Verdú, I., Senent-Valero, M., Casas-Escolano, M., Matijasevich, A., & Pastor-Valero, M. (2022). 101904 d CIBER in Epidemiology and Public Health (CIBERESP). Journal of Environmental Psychology, 84, 1–17. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2022.101904
Dodds, J. (2021). The psychology of climate anxiety. BJPsych Bulletin, 45(4), 222–226. https://doi.org/10.1192/bjb.2021.18
Papadopoulos, M., & Renaldi, E. (2021, October 16). Anak-anak Muda di Indonesia Banyak Alami “Eco-anxiety” Tapi Mereka Tak Menyerah. Abc.net.au. https://www.abc.net.au/indonesian/2021-10-17/eco-anxiety-di-kalangan-anak-muda-indonesia/100543474
Unicef. (2025, June 27). What is eco-anxiety? Unicef.org. https://www.unicef.org/blog/what-is-eco-anxiety