Loading
Loading...
Menu BINUS

Dari Kesadaran Menjadi Aksi: Impact Circle 2026 Ajak Ratusan Anak Muda Peduli Kesehatan Reproduksi Perempuan

Jakarta, 30 Mei 2026 – Bagaimana jika rasa sakit haid yang selama ini dianggap “normal” dan biasa ternyata merupakan tanda dari kondisi kesehatan yang tidak bisa diabaikan? Pertanyaan ini yang menjadi titik awal diskusi dalam Impact Circle 2026, mengajak ratusan generasi muda untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan reproduksi perempuan, khususnya terkait endometriosis. Acara tahunan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 12.50 WIB dan dihadiri oleh 356 delegasi dari  latar belakang yang berbeda.

Sebagai salah satu acara tahunan AIESEC in BINUS, Impact Circle adalah tempat pembelajaran yang bertujuan membantu Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi pengalaman belajar yang relevan, dan melekat dengan kehidupan generasi muda. Melalui kegiatan ini, peserta tidak cuma mendapatkan pengetahuan mengenai isu sosial yang sedang diangkat, tetapi juga didorong untuk memahami bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam menciptakan perubahan positif di lingkungan sekitarnya.

Tahun ini, Impact Circle lebih berfokus pada isu kesehatan reproduksi perempuan dengan menyoroti endometriosis, dimana sebuah kondisi yang sampai sekarang masih sering kurang dipahami oleh masyarakat. Pemilihan tema ini didasarkan pada pentingnya meningkatkan kesadaran bahwa rasa sakit atau nyeri menstruasi yang berlebihan tidak selalu dapat dianggap normal. Dengan menghadirkan dr. Gracia Merryane R.G. Rauw, Sp.OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (OBGYN) di Mandaya Royal Hospital Puri sekaligus ahli kesehatan reproduksi perempuan, acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai gejala, dampak, serta pentingnya deteksi dini terhadap endometriosis.

Acara ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mendorong partisipasi aktif para peserta. Selain sesi pemaparan materi oleh pembicara, peserta juga diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara langsung dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Melalui interaksi tersebut, peserta dapat menggali informasi lebih mendalam terkait topik yang dibahas sekaligus memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya kesehatan reproduksi.

Untuk menjaga antusiasme para peserta selama kegiatan berjalan, Impact Circle menghadirkan sesi engagement activity yang dilakukan di antara sesi pembicara pertama dan kedua. Dalam aktivitas ini, para peserta diminta untuk menjawab empat pertanyaan menggunakan emoji melalui kolom chat Zoom. Setiap emoji yang dipilih merepresentasikan pengalaman, pendapat, atau respons peserta terhadap pertanyaan yang diberikan. Aktivitas sederhana tersebut berhasil menciptakan suasana yang lebih interaktif sekaligus mendorong keterlibatan aktif dari para delegasi selama acara berlangsung.

Tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, Impact Circle juga memberikan ruang untuk para peserta untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui sesi diskusi kelompok. Dalam sesi Group Discussion, peserta dibagi ke dalam beberapa breakout room dan diberikan sebuah studi kasus bertemakan kesehatan reproduksi perempuan dengan fokus pada peningkatan kesadaran terhadap gejala endometriosis. Selama 23 menit, masing-masing kelompok berdiskusi untuk menganalisis permasalahan yang sudah diberikan sebelumnya dan merumuskan solusi berdasarkan perspektif mereka. Sebagai bentuk apresiasi terhadap hasil diskusi, dua kelompok yang terpilih diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil pembahasan mereka di hadapan seluruh peserta.

Gracia Merryane R.G. Rauw, Sp.OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (OBGYN) di Mandaya Royal Hospital Puri serta ahli kesehatan reproduksi perempuan, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme para peserta yang aktif mengikuti seluruh rangkaian acara.

“Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah bergabung. Saya sangat senang melihat antusiasme, partisipasi aktif, dan diskusi yang begitu bermakna selama webinar ini. Saya berharap webinar ini dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai endometriosis, khususnya bahwa nyeri menstruasi yang parah tidak seharusnya diabaikan atau dianggap sebagai hal yang normal. Kesadaran dan pengenalan gejala sejak dini merupakan langkah penting untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berbagi ruang diskusi ini bersama kalian semua, dan saya berharap wawasan yang diperoleh dari sesi ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar yang mungkin membutuhkannya. Sekali lagi, terima kasih, dan saya berharap kita dapat terus melanjutkan percakapan penting seperti ini di masa mendatang,” ucap dr. Gracia.

Dampak positif dari kegiatan ini juga dirasakan secara langsung oleh peserta. Kevin Randy Aditya yang terpilih sebagai Most Outstanding Delegate mengungkapkan bahwa Impact Circle memberinya perspektif baru mengenai isu kesehatan perempuan yang sebelumnya tidak terlalu ia pahami.

“Sebagai laki-laki, awalnya saya merasa topik endometriosis tidak terlalu dekat dengan kehidupan saya. Namun setelah mengikuti seluruh rangkaian acara, saya menyadari bahwa pemahaman mengenai isu ini penting bagi semua orang. Saya mendapatkan banyak wawasan baru yang bermanfaat dan acara ini berhasil dikemas secara informatif sekaligus menyenangkan,” ungkap Kevin Randy Aditya.

Melalui Impact Circle 2026, AIESEC in BINUS kembali menciptakan ruang pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berdampak bagi generasi muda. Dengan menggabungkan edukasi, diskusi interaktif, serta kolaborasi antar peserta, acara ini tidak hanya meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi perempuan, tetapi juga mendorong generasi muda untuk menjadi individu yang lebih peduli terhadap isu-isu sosial di sekitarnya.

Kedepannya, AIESEC in BINUS berharap Impact Circle dapat terus menjadi sarana bagi anak muda untuk belajar, berdiskusi, dan mengambil peran dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat. Melalui peningkatan kesadaran terhadap isu-isu yang sering kali dianggap tabu atau kurang mendapat perhatian, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif, sehat, dan berkelanjutan.

 

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.