Bogor, 9 Juli 2026 – Bagaimana jika akhir dari sebuah konferensi justru menjadi awal dari perjalanan kepemimpinan yang sesungguhnya? Semangat itulah yang menutup rangkaian Local Conference: Meliora The Legend of the Lost Clover, konferensi tahunan AIESEC in BINUS. Konferensi yang berlangsung pada 7–9 Juli 2026 di Villa Meciho, Puncak ini menghadirkan sekitar 43 peserta, 20 Conference Committee, dan 10 fasilitator yang bersama-sama mengikuti rangkaian sesi pengembangan kepemimpinan selama tiga hari.
Hari ketiga dibuka oleh Master of Ceremony Vanessa Agatha Alvina dan Anak Agung Gede Agung Davy D. Wiratara. Sebelum memasuki sesi utama, seluruh peserta dan panitia kembali membangun semangat melalui roll dance yang telah menjadi tradisi selama konferensi berlangsung.
Belajar Berdamai dengan Kegagalan
Sesi pertama di hari terakhir adalah Morning Plenary yang kembali dibawakan oleh Sharon Serafim. Pada kali ini, Sharon mengajak peserta melihat kegagalan dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, kegagalan bukan sesuatu yang perlu ditutupi ataupun ditakuti. Melalui berbagai cerita yang dibagikan, peserta diajak menyadari bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan dan pernah mengalami kegagalan. Namun, hal tersebut bukan alasan untuk berhenti.
“Our weaknesses are not something to hide,” ujar Kayla Selena ketika membagikan hal yang paling membekas baginya dari sesi tersebut.
Mengalahkan Ego Untuk Menyelaraskan Tujuan Bersama
Semangat pagi berlanjut ke sesi EB 7: The Code to Opening the Vault Doors yang dibawakan oleh Nathan Valiant. Dalam sesi ini, peserta didorong untuk melihat kembali tujuan mereka bergabung di AIESEC in BINUS, sekaligus memahami bahwa membangun organisasi tidak dapat dilakukan jika setiap orang masih mengutamakan kepentingan pribadi.
Nathan mengajak seluruh peserta untuk berani mengesampingkan ego, saling mendukung, dan bekerja menuju tujuan yang sama. Pesan tersebut menjadi salah satu inti pembelajaran pada hari terakhir konferensi, terutama dalam membangun kembali Sunibiru sebagai rumah bersama.
“DEFEAT YOUR EGO!” ungkap Ghina Nasywa Qonita ketika diminta menyampaikan pesan yang paling ia ingat dari sesi tersebut.
Mengakhiri Konferensi dengan Kebersamaan
Setelah rangkaian sesi utama selesai, peserta mengikuti kegiatan Fun Teams yang dipandu oleh Kay Pasha Muharram, Ervina Aprillia Hosan, dan Nasywa Aqilah. Berbagai permainan yang dilakukan membuat suasana menjadi lebih santai sekaligus mempererat kebersamaan sebelum konferensi resmi ditutup.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sesi Reward and Recognition yang dipandu oleh Master of Ceremony, yaitu Vanessa Agatha Alvina dan Anak Agung Gede Agung Davy D. Wiratara, bersama tim Delegate Service yang terdiri dari Ervina Aprillia Hosan, Emmanuelle Petra Beningati Alexander, Safira Nur Aulia, dan Ricky Dwi Putra. Pada sesi ini, panitia memberikan apresiasi kepada peserta yang menunjukkan nilai-nilai AIESEC selama konferensi melalui kategori AIESEC Values, dengan penghargaan Excellence in Growth yang diraih oleh Callea Ashofa Nadira, Spirit of Participation oleh Drian Fadghammanan Romdoni, dan Born to Lead oleh Rachel Vanya Permana. Suasana juga semakin meriah dengan pemberian penghargaan kategori fun awards, yaitu Terjamet yang diraih Riccy Riandy Intan, Terasbun oleh Gwen Alika Renata, Ter 9-to-5 oleh Kamilah Khalishah Endrian, dan Tertoa oleh Marcellino Lung. Sebagai penutup sesi, penghargaan The Best Tribe Performance diberikan kepada Tribe Colossus dan Pharos atas semangat serta kekompakan yang mereka tunjukkan sepanjang konferensi.
Sebelum memasuki sesi penutupan, peserta juga diajak menyaksikan rangkuman kegiatan hari kedua sebagai pengingat atas seluruh proses yang telah dilewati bersama.
Setiap Akhir Adalah Awal yang Baru
Sebagai penutup, Sharon Serafim kembali hadir melalui Closing Plenary yang kali ini dikemas dalam bentuk sesi reflektif antar pembicara dengan peserta. Bersama Local Committee President of AIESEC in BINUS 2025/2026, Vincent Claudius, Sharon mengajak peserta melihat bahwa perjalanan kepemimpinan tidak berhenti setelah menyelesaikan masa kepengurusan di AIESEC. Nilai-nilai yang dipelajari selama berorganisasi akan terus berguna dalam kehidupan, baik di dunia profesional maupun kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup rangkaian acara, peserta diajak menjahit gantungan kunci berbentuk clover atau daun semanggi. Selaras dengan tema Meliora: The Legend of the Lost Clover, clover menjadi simbol harapan dan perjalanan setiap individu dalam bertumbuh serta terus mengembangkan diri. Gantungan kunci tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa makna terbesar dari konferensi ini bukan hanya rangkaian kegiatannya, tetapi juga pengalaman, pembelajaran, dan hubungan yang berhasil dibangun bersama selama tiga hari.
Melalui Local Conference Meliora: The Legend of the Lost Clover, AIESEC in BINUS berharap setiap peserta dapat membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman mengikuti konferensi. Nilai tentang keberanian menghadapi kegagalan, kemampuan mengesampingkan ego, serta pentingnya bertumbuh bersama diharapkan menjadi bekal bagi setiap peserta untuk terus menciptakan dampak positif, baik di dalam organisasi maupun di lingkungan sekitarnya.

