Transportasi Umum: Kunci Pengurangan Polusi di Kota Padat
Sumber: https://lstwr.com/3GYU85
Di tengah hiruk pikuk kota metropolitan seperti Jakarta, langit biru yang cerah kini semakin sulit ditemukan. Polusi udara telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, mulai dari kabut asap yang menyelimuti jalan hingga aroma bensin yang terasa di setiap sudut kota. Berbagai studi menunjukkan bahwa sektor transportasi, terutama kendaraan pribadi, menjadi penyumbang terbesar emisi yang memperparah kualitas udara Jakarta (Maharani & Alexander, 2025). Jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat memperburuk keadaan. Mobil dan sepeda motor mendominasi jalanan setiap hari, menghasilkan emisi gas buang yang membuat kualitas udara kerap berada pada level tidak sehat (Greenpeace, 2022). Kondisi ini menunjukkan perlunya perubahan perilaku masyarakat.
Salah satu langkah paling efektif untuk menekan polusi udara adalah beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Penggunaan transportasi massal juga membantu menciptakan lingkungan kota yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan bagi seluruh penduduk (Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, 2024).
Terdapat banyak penyebab dari polusi udara yang ada di kota-kota padat, salah satunya adalah penggunaan transportasi pribadi. Banyaknya transportasi pribadi dipengaruhi oleh banyaknya pula masyarakat di suatu daerah (Soltani, 2017, sebagaimana dikutip dalam Harish & Sapha, 2019). Penggunaan transportasi pribadi menghasilkan beragam dampak buruk, salah satunya penurunan status kesehatan. Penelitian Zulfikri (2023) menjelaskan bahwa pelaporan tentang kondisi kesehatan yang buruk biasa dilakukan oleh orang yang sering menggunakan transportasi pribadi dibandingkan dengan orang yang menaiki transportasi umum atau berjalan kaki. Selain itu, orang yang menggunakan transportasi pribadi cenderung menerima paparan polusi dan kebisingan dibandingkan dengan orang yang tidak. Hal ini membuktikan adanya hubungan sebab akibat dari penggunaan transportasi pribadi dengan paparan polusi yang diterima.
Oleh sebab itu, penggunaan transportasi umum sangatlah tepat menjadi pengganti transportasi pribadi untuk mengatasi polusi udara yang ada. Hasil penelitian Kuşkapan & Campisi (2025) mengenai dampak penggunaan transportasi umum terhadap polusi udara menghasilkan korelasi, di mana peningkatan penggunaan transportasi umum berkaitan dengan peningkatan kualitas udara di beberapa negara yang diteliti. Contoh transportasi umum yang biasa digunakan, di antaranya adalah angkot, Transjakarta, MRT, LRT, KRL, dan lainnya. Bus listrik juga dapat menjadi pilihan yang tepat, transportasi ini dapat menurunkan emisi gas rumah kaca dan tidak menghasilkan gas yang menjadi penyebab dari polusi udara, seperti CO2, NOx, dan PM2.5. Bus ini lebih efektif untuk mengurangi polusi udara dibandingkan bus konvensional berbahan bakar fosil (Anastasya & Putri, 2024).
Namun, di balik berbagai keunggulan transportasi umum, penguatan serta dukungan dari pemerintah maupun masyarakat tetap diperlukan untuk mencapai tujuan berkelanjutan dalam menggalakkan penggunaan transportasi umum. Melalui penelitian Haryanti et al. (2024), beberapa strategi yang dapat dilakukan, yaitu dengan adanya safe transport system, aksesibilitas dan konektivitas, dan information and communication technology. Adanya safe transport system dapat meningkatkan intensi penumpang untuk menaiki transportasi umum, dikarenakan adanya rasa aman yang ditawarkan. Hal ini dapat dimulai dengan adanya security, platform screen doors, dan lain-lain, seperti yang telah disediakan pada MRT. Dalam segi aksesibilitas dan konektivitas, transportasi umum diharapkan dapat dijangkau dan dapat menghubungkan berbagai daerah, seperti usaha yang telah dilakukan oleh Jaklingko dan Transjabodetabek. Selain itu, ICT dapat dikembangkan melalui aplikasi sehingga pembelian tiket, smart card, dan real time waktu kedatangan dan keberangkatan dapat diketahui oleh penumpang dengan presisi.
Jadi, polusi udara di kota padat penduduk seperti Jakarta tidak terlepas dari tingginya penggunaan kendaraan pribadi yang terus meningkat dari waktu ke waktu (Maharani & Alexander, 2025). Dominasi transportasi pribadi terbukti tidak hanya memperburuk kualitas udara, tetapi juga berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat akibat paparan polusi dan kebisingan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peralihan ke transportasi umum mampu menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan dalam menekan emisi serta meningkatkan kualitas udara (Kuşkapan & Campisi, 2025). Namun, keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada dukungan menyeluruh dari pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan sistem transportasi yang aman, terintegrasi, mudah diakses, dan didukung oleh teknologi informasi yang memadai. Dengan komitmen bersama, transportasi umum dapat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.
Daftar Pustaka
- Greenpeace. (2022). Transformasi Transportasi Publik Jakarta.
- Anastasya, R. & Putri, S. B. (2024). SDGs 7: Efektivitas Program Penggunaan Bus Listrik Guna Mendorong Transportasi Publik Ramah Lingkungan. Journal of Environmental Economics and Sustainability, 1(3), 1–13.
- Harish, M. & Sapha, D. (2019). Eksternalitas Negatif Penggunaan Transportasi Pribadi di Kota Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM), 4(1), 19–28.
- Haryanti, T., Kurniawan, I. A., & Prasetyo, E. (2024). Transportasi Berbasis MRT dalam Mendukung Mobilitas Cerdas Kota Jakarta. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(5), 888–898. https://doi.org/10.5281/zenodo.10548101
- Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (2024). Budayakan Menggunakan Transportasi Umum Massal untuk Beraktivitas. https://dephub.go.id/post/read/budayakan-menggunakan-transportasi-umum-massal-untuk-beraktivitas
- Kuşkapan, E. & Campisi, T. (2025). Investigating the Impact of Public Transport Usage Behaviors on Air Pollution after COVID-19. The Open Transportation Journal, 19. https://doi.org/10.2174/0126671212395722250628150539
- Maharani, A. S. A., & Alexander, H. B. (2025). Transportasi sumbang 60 persen polusi udara di Jakarta. Kompas.com. https://www.kompas.com/properti/read/2025/05/28/213739121/transportasi-sumbang-60-persen-polusi-udara-di-jakarta
- Zulfikri, A. (2023). Effects of Pollution and Transportation on Public Health in Jakarta. West Science Interdisciplinary Studies, 1(3), 22–26.
