Overthinking dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Anak Muda
Pernahkan terlintas di pikiran kalian saat bersenang-senang tentang kuliah, presentasi esok hari, nilai ujian, ingin magang di mana, kesalahan ucap kemarin, ekspektasi orang tua yang terus menumpuk, bahkan tiba-tiba terpikir, “Eh, nanti ketika lulus ingin jadi apa ya?” Nah, hal-hal seperti itu sering sekali terjadi pada anak muda sekarang. Awalnya hanya berupa pikiran random yang muncul secara tiba-tiba, tetapi justru hal tersebut membuat kepala kita “muter terus” seharian sampai pusing sendiri. Bahkan menurut Suroiyya and Bakhrudin All Habsy (2024), dari overthinking itu, mood kita bisa drop, stres naik, menjadi anxious, bahkan fokus kita bisa hilang. Padahal masa muda itu seharusnya waktu untuk banyak mencoba, explore hal baru, dan menikmati proses hidup. Namun, bila otak kita dibebankan terus-menerus dengan hal-hal yang tidak ada habisnya itu, segala hal yang menyenangkan justru bisa terasa berat. Nah, pertanyaanya itu, sebenarnya apa saja sih pengaruh overthinking ke kesehatan mental kita?
Overthinking merupakan kondisi ketika seseorang terlalu banyak memikirkan suatu masalah secara berulang tanpa menemukan solusi yang jelas. Fenomena ini sering dialami oleh anak muda yang sedang berada pada masa pencarian jati diri dan menghadapi berbagai tuntutan, seperti tekanan akademik, ekspektasi keluarga, serta pengaruh lingkungan sosial. Overthinking pada anak muda juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial yang semakin intens digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial sering kali menampilkan standar kehidupan yang terlihat “sempurna”, sehingga mendorong individu untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Tanpa disadari, hal ini dapat memicu rasa tidak cukup baik dan memperkuat pola pikir negatif yang berulang Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan berpikir berlebihan dapat memicu stres, kecemasan, serta menurunkan kualitas kesehatan mental seseorang. Selain itu, overthinking juga dapat mengganggu konsentrasi, kualitas tidur, dan rasa percaya diri, sehingga berdampak pada aktivitas sehari-hari dan kesejahteraan psikologis anak muda. Pada banyak kasus, overthinking membuat seseorang cenderung memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif yang belum tentu terjadi. Hal ini dapat menimbulkan perasaan takut, ragu, dan tidak yakin terhadap keputusan yang diambil. Akibatnya, individu menjadi lebih sulit untuk fokus pada hal-hal yang penting dan sering merasa lelah secara emosional. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti gangguan kecemasan atau perasaan tertekan yang berkepanjangan.
Dampak dari overthinking terhadap kesehatan mental anak muda juga dapat berpengaruh pada kinerja akademik mereka. Overthinking akan membuat seseorang merespons keadaan dengan penuh kecemasan. Otak akan memproses segala bentuk kemungkinan ataupun risiko yang bisa terjadi, bahkan terhadap hal-hal kecil yang tidak penting pun akan diproses secara mendalam. Secara psikologis, overthinking ini muncul dari kecenderungan manusia yang ingin mencari kontrol pada sebuah situasi yang belum jelas. Otak kita akan berusaha menciptakan rasa aman dengan memikirkan segala bentuk aspek secara berulang. Namun, proses berpikir berulang yang dilakukan selama overthinking akan menghasilkan burnout atau kelelahan mental. Ketika anak muda mengalami burnout, mereka akan kehilangan motivasi dalam menjalani aktivitas, termasuk dalam proses pembelajaran. Kondisi ini tentu berdampak pada penurunan prestasi akademik. Selain itu, overthinking juga akan membuat banyak anak muda kehilangan kesempatan untuk mencoba hal-hal baru. Hal ini dikarenakan mereka terlalu memikirkan kemungkinan negatif, seperti kegagalan yang mungkin terjadi, rasa malu karena gagal atau berbuat kesalahan, atau khawatir akan pendapat orang lain. Padahal keberanian untuk mencoba pengalaman baru tentunya merupakan bagian penting dalam kehidupan anak muda. Ketika ia takut untuk mencoba, maka banyak kesempatan berharga akan terlewatkan.
Overthinking sering dikaitkan dengan konsep rumination, yaitu kecenderungan untuk memikirkan masalah atau perasaan negatif secara berulang tanpa menemukan solusi. Menurut Nolen-Hoeksema (2000), rumination dapat memperburuk kondisi kecemasan dan depresi karena individu terus terfokus pada aspek negatif dari dirinya maupun situasi yang dihadapi. Hal ini menjelaskan mengapa overthinking tidak hanya membuat seseorang merasa lelah secara mental, tetapi juga dapat memperpanjang durasi emosi negatif yang dirasakan.
Untuk mengurangi kebiasaan overthinking, penting bagi anak muda untuk mulai mengenali pola pikirnya sendiri dan diperlukan strategi yang tidak hanya bersifat umum, tetapi juga berbasis pendekatan psikologi. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan melatih diri untuk kembali fokus pada hal-hal yang bisa dikontrol saat ini, daripada terus memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan. Mengalihkan perhatian ke aktivitas yang lebih produktif seperti berolahraga, menulis jurnal, atau melakukan hobi juga dapat membantu menenangkan pikiran. Kemudian, dengan menerapkan mindfulness, yaitu melatih diri untuk fokus pada kondisi saat ini tanpa menghakimi pikiran yang muncul. Praktik ini terbukti dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental (Kabat-Zinn, 2003). Selain itu, teknik cognitive restructuring juga dapat digunakan untuk mengubah pola pikir negatif menjadi lebih realistis dan rasional. Penting juga untuk mengubah cara pandang terhadap kegagalan, bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna dan setiap kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Dengan mulai menerima ketidakpastian dan berdamai dengan diri sendiri, perlahan pikiran akan terasa lebih ringan dan tidak lagi dipenuhi oleh kekhawatiran yang berlebihan. Dukungan dari orang terdekat serta keberanian untuk berbagi cerita juga dapat membantu meringankan beban pikiran, sehingga individu tidak merasa sendirian dalam menghadapi tekanan yang ada.
Daftar Referensi:
- Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-Based Interventions in Context: Past, Present, and Future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 145. https://doi.org/10.1093/clipsy.bpg016
- Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders and mixed anxiety/depressive symptoms. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–511. https://doi.org/10.1037/0021-843x.109.3.504
- Rengganis, A. (2025, October 20). Mengapa Kita Mudah Overthinking? Ternyata ada Tinjauan dari Perspektif Otak dan Biopsikologi! Kompasiana. https://www.kompasiana.com/auliarengganis4099/68f5d4d3ed64155245310f22/mengapa-kita-mudah-overthinking-ternyata-adda-tinjauan-dari-perspektif-otak-dan-biopsikologi
- Suroiyya, F. O., & Bakhrudin All Habsy. (2024). Tinjauan Overthinking dan Berbagai Intervensi Konseling Untuk Mengatasinya. Jurnal BK UNESA, 14(2). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-bk-unesa/article/view/61834
- Verywell Mind. (2023). How to stop overthinking. https://www.verywellmind.com
