Hubungan antara Ketidaksetaraan Gender dengan kekerasan dalam Budaya Patriarki

Kekerasan pada perempuan nampaknya kian meningkat, di Indonesia sendiri angka kekerasan perempuan pada tahun ini (2020) menyentuh angka 75 persen. Angka tersebut merupakan data yang tercatat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Komnas Perempuan.

Melihat angka tersebut, terbilang kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih sangatlah tinggi, dan bedasarkanTemuan Komnas Perempuan mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di ranah domestik atau rumah tangga maupun dalam relasi perkawinan, tetapi juga terjadi secara meluas didalam masyarakat umum maupun yang berdampak dari kebijakan negara, seperti tidak di sah kan nya RUU-PKS. Mengapa hal tersebut terjadi, mengingat hal tersebut maka akan terbesit kata ketidaksetaraan gender dan diperkuat oleh budaya patriarki yang masih terbilang kuat dizaman ini, dimana laki-laki mendominasi dalam berbagai aspek dalam masyarakat.

Berbicara masalah gender, masyarakat yang hidup dalam budaya patriarki yang mendominasi, sebagian besar berprinsip bahwa laki-laki haruslah maskulin, jantan, dan lainnya dan lain jika laki-laki yang mempunyai sikap feminim seringkali dianggap aneh, sehingga sejak kecil terbentuklah sikap-sikap maskulinitas kuat yang terbawa hingga besar, dengan tertanam dalam pikiran bahwa laki-laki harus lah kuat laki-laki dan harus menjadi penerus keturunan dan laki-laki harus mendominasi dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat dan berbanding terbalik dengan perempuan yang harus memiliki sikap feminim, lemah lembut dan penuh perasaansehingga menghasilkan pemikiran yang sering kita dengar yaitu perempuan dibentuk dan didefinisikan sebagai makhluk yang lemah dan emosional, sementara laki-laki makhluk yang kuat dan rasional.

Mengapa dampak ketidaksetaraan gender pada perempuan sering kali terjadi dalam masyarakat yang sangatlah patriarkis dan seringkali mengakibatkan kekerasan. Walaupun tak menutup kemungkinan bahwa laki-laki sendiri juga mendapatkan ketidaksetaraan gender disaat dirinya dianggap gagal untuk menjadi kuat dan maskulin namun dampak tersebut lebih besar terhadap kaum perempuan, ketidakadilan, kekerasan banyak didominasi kaum perempuan karena perempuan dianggap harus menjadi penurut dan lemah lembut sehingga perempuan dianggap lemah dan harus tunduk kepada laki-laki.

Ketidaksetaraan gender dan kekerasan nampaknya saling berkaitan satu sama lain, kekerasan pada perempuan adalah contoh nyata yang sampai detik terjadi di banyak tempat. Menurut WHO kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan memar, trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Bentuk  kekerasan terhadap perempuan meliputi kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis, dan kekerasan lainya.

Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Komnas Perempuan  tahun 2020 kekerasan pada perempuan terhitung 14.719 total kasus, jenis kekerasan fisik yang jumlahnya mencapai 5.548 kasus. Kemudian kekerasan psikis sebanyak 2.123 kasus, dan kekerasan seksual 4.898 kasus. Sedangkan kekerasan ekonomi mencapai 1.528 kasus dan kekerasan khusus terhadap buruh migran dan trafficking mencapai 610 kasus. Dari data tersebut sangat terlihat bahwa kekerasan terbanyak yaitu kekerasan fisik lalu disusul dengan kekerasan seksual, kekerasan psikis dan selabihnya kekerasan terhadap ekonomi dan buruh perempuan.

Hubungan budaya patriarki dengan kekerasan pada perempuan, Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam berbagai aspek kehidupan, dengan sistem sosial tersebut meningkatkan pola pikir sebagian laki-laki yang menganggap bahwa kekuasaan dan kekerasan merupakan bentuk kemampuan dalam mendominasi dan mengendalikan orang lain. Bentuk kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan juga merupakan bentuk ekspresi maskulinitas dirinya. Kekerasan terhadap perempuan dianggap wajar dilakukan, karena laki-laki dianggap sebagai pemilik perempuan sekaligus pihak yang lebih kuat dan perempuan adalah pihak yang lemah, jadi banyaknya kasus kekerasan fisik seperti KDRT yang dominan didapatkan oleh pihak perempuan.

Kekerasan seperti kekerasan seksual sangat sering terjadi dalam masyarkat, terutama masyarakat yang sangat patriarkis.lagi-lagi bentuk kewajaran menjadi tameng bagi para tersangka yang melakukan kekerasan. Seperti berikut, sedikit contoh tentang kekerasan seksual yaitu laki-laki melakukan cat calling karena beberapa laki-laki yakin bahwa itu adalah hal yang wajar dan menganggap perempuan hanya sebagai objek, dapat dilihat lebih dalam ini sering terjadi karena budaya patriarki yang sangat besar, perempuan sering dipandang sebagai objek dan dapat diperlakukan seenaknya dan mempunyai pikiran bahwa laki-laki berhak memiliki perempuan karena perempuan akan berada dibawah kuasanya.

Masyarakat dalam dengan patriarkis yang kuat seringkali menganggap perempuan rendah, sehingga seringkali perempuan dianggap harus selalu tunduk dan melayani karena paham feminim yang harus selalu lemah lembut namun secara tidak sadar adalah bentuk melemahkan perempuan.

Dalam hal kekerasan seksual perempuan lebih sering disalahkan, bahkan sesama perempuan saja seringkali melakukan hal yang sama, contoh hal yang sering terjadi yaitu dalam berpakaian, perempuan bebas berpenampilan namun sayangnya perempuan seringkali digoda dan direndahkan lalu disalahkan lagi atas apa yang ia pakai karena dianggap menggoda laki-laki sehingga laki-laki ingin melakukan tindakan tidak senonoh, bukan laki-laki yang disalahkan namun tetap lah perempuan, karena perempuan sering dipandang rendah dan hanya sebatas objek.

Terdapat juga kekerasan psikis yang sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang perempuan. Kekerasan psikis adalah tindak kekerasan yang bertujuan untuk merendahkan martabat citra seorang perempuan. Banyak masyarakat kurang peduli terhadap kekerasan psikis karena dianggap tidak ada bukti atau bekas nyata layaknya kekerasan fisik sehingga sering dianggap wajar jika merendahkan martabat seorang perempuan dengan menghina bahkan memaki-maki dalam waktu yang lama maupun cepat.

Budaya patriarki banyak membawa dampak negatif yang cukup besar dalam ketidaksetaraan gender terutama kekerasan pada perempuan. Konsep perbedaan gender yang telah diwariskan secara turun temurun dan dianggap suatu kewajaran, dan karena hal tersebut terlahir karakter yang menuntut sikap, perilaku dan pemikiran sesuai dengan pola yang sudah tercipta dalam masyarakat. Tidak heran banyak perempuan yang mejadi korban kekerasan karena sejak kecil saja perempuan selalu diajarkan dan dituntut untuk selalu bersikap lemah lembut, tidak boleh terlihat maskulin dan harus mampu melakukan hal-hal yang bersifat “kewanitaan” seperti mampu memasak dan lainya sebagainya jika tidak maka akan dianggap tidak wajar oleh masyarakat dan dicap kurang baik oleh masyarakat, namun berbeda dengan laki-laki yang selalu medominasi dan harus terlihat kuat. Sehingga dorongan melakukan kekerasan pada perempuan lebih besar.

Kekerasan pada perempuan kian meningkat tiap tahunnya faktor pendukung hal tersebut adalah ketidaksetaraan gender. Kekerasan pada perempuan sendiri meliputi beberapa kategori kekerasan, yaitu kekerasan fisik yang kerap kali terjadi dalam KDRT, kekerasan seksual seperti pemerkosaan, pencabulan, dan yang sering dialami oleh rata-rata perempuan yaitu cat calling seperti bersiul dan menyeletuk menggoda saat perempuan sedang berada di tempapy umum, kekerasan psikis berkaitan dengan psikis dimana perempuan seringkali disalahkan karena adanya diskriminasi pada perempuan, pemaksaan seperti pemaksaan pernikahan dan lainya yang sering terjadi dalam budaya patriarki karena seolah-olah perempuan dianggap objek atau benda sehingga menjadi pemicu gangguan psikis dan terhadap perempuan karena hal tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari namun dianggap wajar.

Budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai penguasa yang dominan sehingga menimbulkan dampak negatif yang berpengaruh terhadap ketidaksetaraan gender.masyarakat dengan budaya patriarkis yang tinggi kerap kali memandang perempuan sebelah mata. Karena budaya patriarki juga banyak terjadi kekerasan karena perempuan selalu dianggap lemah lembut karena sikap feminimnya sedangkan laki-laki harus jantan dan kuat karena akar dari sikap maskulin yang menunutun sebagian laki-laki sering merasa merendahkan dan menanggap perempuan adalah objek adalah tindakan yang wajar dan sah-sah saja karena masyarakat sosial pun mewajarkan hal tersebut.

Reference:

Lokadata.id. (2020, Maret 14 ). Tiap Tahun Kekerasan Terhadap Perempuan Terus Meningkat. Diakses 23 Oktober 2020, dari https://lokadata.id/artikel/tiap-tahun-kekerasan-terhadap-perempuan-terus-meningkat

Wikipedia.org. (2020, Mei 31). Patriarki. Diakses 23 Oktober 2020, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Patriarki

RifkaAnnisa.org. ( 2018, Agustus 07). Menyeimbangkan Konsep Feminim dan Maskulin dalam Mendidik Anak. Diakses 24 Oktober 2020, dari https://rifka-annisa.org/id/berita/blog/item/671-menyeimbangan-konsep-feminim-dan-maskulin-dalam-mendidik-anak

News.detik.com. (2020, Juli 10). Kasus Kekerasan Perempuan Naik 75% Selama Pandemi Corona. Diakses 24 Oktober 2020, dari https://news.detik.com/berita/d-5088344/kasus-kekerasan-perempuan-naik-75-selama-pandemi-corona

VOAIndonesia.com. (2020, Juli 23). Kekerasan di Dalam Rumah Tangga (KDRT) Meningkat Selama Pandemi. Diakses 24 Oktober 2020, dari https://www.voaindonesia.com/a/kekerasan-di-dalam-rumah-tangga-(kdrt)-meningkat-selama-pandemi/5513427.html

DW.com. (2019, Februari 09). Mendukung RUU-PKS Kesetaraan Perlindungan Korban dan Cita-cita Keadilan Gender. Diakses 24 Oktober 2020, dari https://www.dw.com/id/mendukung-ruu-pks-kesetaraan-perlindungan-korban-dan-cita-cita-keadilan-gender/a-47387251

Sehatq.com. (2019, Desember 08). Pengertian Gender dan Perbedaanya dengan Seks. Diakses 24 Oktober 2020, dari https://www.sehatq.com/artikel/pengertian-gender-dan-perbedaannya-dengan-seks

Geotimes.co.id. (2019, Maret 24). Mengenal Kekerasan Psikis Terhadap Perempuan. Diakses 26 Oktober 2020, dari https://geotimes.co.id/kolom/mengenal-kekerasan-psikis-terhadap-perempuan/

Angeline cung