Latihan Dasar Kepemimpinan Aktivis (LDKA) PARAMABIRA 2026: Membangun Aktivis yang Siap, Disiplin, dan Berjiwa Kolektif

22–23 Mei 2026—PARAMABIRA BINUS University @Semarang kembali menggelar kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Aktivis (LDKA), sebuah program orientasi dan pengembangan diri yang dirancang khusus bagi para calon aktivis baru organisasi. Berlangsung selama dua hari, kegiatan ini menjadi ruang bagi para peserta untuk mengenal lebih dalam nilai-nilai organisasi, membangun fondasi kepemimpinan, serta mempersiapkan diri menjadi bagian aktif dari PARAMABIRA.

Diawali dengan Sambutan Hangat dan Pengenalan Nilai-Nilai PARAMABIRA

Hari pertama LDKA dibuka dengan sambutan dari Axel selaku ketua acara dan dilanjutkan dengan doa bersama sebagai penanda resmi dimulainya kegiatan. Suasana sejak awal terasa hangat dan bersahabat, jauh dari kesan formal yang menegangkan.

Memasuki sesi inti, peserta diperkenalkan pada materi dasar organisasi yang mencakup nilai-nilai utama (main values) PARAMABIRA, visi dan misi, serta bagaimana peran setiap anggota berkontribusi pada keberlangsungan organisasi. Sesi ini menjadi fondasi penting agar para calon aktivis memahami bukan hanya apa yang dilakukan PARAMABIRA, tetapi mengapa organisasi ini ada dan bagaimana semangat kolektif dijaga dari generasi ke generasi.

Tidak berhenti pada teori, sesi get to know PARAMABIRA memberi ruang bagi peserta untuk lebih dekat—baik dengan sesama peserta maupun dengan para pengurus. Obrolan mengalir natural, tawa sesekali pecah, dan suasana ruangan pun seketika mulai mencair.

Hari pertama ditutup dengan makan bersama dan doa penutup, meninggalkan kesan bahwa LDKA bukan sekadar agenda formal, melainkan sebuah pengalaman yang terasa personal dan menyenangkan.

Hari Kedua: Berbicara Jujur Soal Menjadi Aktivis

Jika hari pertama berfokus pada pengenalan, hari kedua hadir dengan nada yang lebih substantif dan reflektif. Berlangsung secara daring (dalam jaringan), kegiatan dibuka kembali dengan sambutan. Sesi utama pun dimulai bersama Axel selaku ketua acara yang membawakan materi bertajuk panduan menjadi aktivis yang seutuhnya.

Materi hari kedua tidak sekadar mengajarkan skill teknis, tetapi juga menyentuh aspek-aspek yang sering luput dibicarakan dalam organisasi: time management, disiplin, komunikasi, emotional management, responsibility, hingga burnout check dan organization survival tips.

Salah satu kalimat yang berkesan dan disampaikan oleh Axel dalam sesi ini adalah: “Menghargai itu dimulai dengan kedisiplinan.” Kalimat sederhana itu mengandung pesan yang dalam—bahwa menghargai orang lain, menghargai proses, dan menghargai organisasi bermula dari komitmen diri sendiri untuk hadir tepat waktu, menyelesaikan tanggung jawab, dan menjaga konsistensi.

Sesi Interaktif: Ruang untuk Jujur dan Bertumbuh

Setelah pemaparan materi, kegiatan berlanjut ke sesi interaktif yang menjadi salah satu momen paling berkesan sepanjang LDKA. Peserta diajak untuk berbagi pengalaman berorganisasi mereka, termasuk tantangan yang pernah dihadapi serta hal-hal kecil yang ingin diperbaiki ke depannya.

Suasana dalam sesi ini terasa terbuka dan aman. Peserta tidak diminta untuk tampil sempurna—justru sebaliknya, mereka didorong untuk jujur tentang kekhawatiran, ketidakpastian, dan area yang ingin mereka kembangkan. Keberanian untuk mengakui kekurangan itulah yang justru menjadi tanda kesiapan seseorang untuk bertumbuh.

Sesi tanya jawab yang menyusul semakin memperkuat nuansa dialog dua arah ini. Pertanyaan-pertanyaan mengalir dari peserta, dan jawaban yang diberikan tidak sekadar normatif, tetapi hadir dari pengalaman nyata berorganisasi.

Lebih dari Sekadar Pelatihan

LDKA PARAMABIRA 2026 ditutup dengan doa penutup, namun yang dibawa pulang oleh setiap peserta jauh melampaui catatan materi. Kegiatan ini berhasil menciptakan sebuah ruang yang, meminjam semangat tema workshop sebelumnya, Inside Out: mendorong setiap individu untuk menggali ke dalam diri sendiri, sebelum berani tampil dan berkontribusi ke luar.

Di akhir dua hari itu, yang tersisa bukan hanya pemahaman tentang organisasi, melainkan rasa memiliki terhadap PARAMABIRA, terhadap sesama aktivis, dan terhadap perjalanan yang baru saja dimulai.

Ditulis oleh:
Pengurus PARAMABIRA @Semarang 2026