Sejarah Alat Pemutar Musik

Musik tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Dalam aktivitas sehari-hari, musik kerap menjadi pilihan hiburan saat kita merasa jenuh. Pada era teknologi seperti ini, ada beragam cara yang digunakan manusia dalam menikmati musik, baik melalui melalui perangkat seperti radio dan CD-player, Aplikasi music player yang sudah terdapat di dalam handphone, maupun aplikasi pemutar musik berbayar. Berkat perangkat dan aplikasi pemutar musik ini, kita bisa mendengarkan musik dengan mudah, kapan saja dan di mana saja.

Munculnya alat pemutar musik lahir dari keinginan manusia mendengarkan musik secara lebih fleksibel tanpa terikat tempat dan waktu. Bagaimanakah perkembangannya? Berikut pemaparannya.

Fonograf
Fonograf adalah alat perekam dan penyimpan suara yang pertama kali diciptakan. Alat ini dikembangkan oleh Thomas Alva Edison pada November 1877. Alat ini terdiri atas silinder besi yang dibungkus foil aluminium yang terhubung dalam diafragma, dan terdapat sebuah jarum yang akan menggoreskan foil aluminium. Percobaan penggunaan fonograf pertama kali dilakukan oleh Edison dan asistennya dengan merekam puisi “Mary Had A Little Lamb”, dan percobaanya berhasil. Keberhasilan penemuan dan pengembangan alat ini mampu merubah perkembangan industri musik di Amerika hingga dunia.

Gramofon dan Piringan Hitam
Keberhasilan fonograf mendorong perkembangan perangkat perekam dan pemutar musik. Emile Berliner mengembangkan teknologi tersebut ke dalam bentuk alat musik yang menggunakan piringan sebagai media rekaman. Piringan ini berisi lagu yang berputar ketika dimainkan dalam gramofon. Berliner berhasil mengembangkan alat ini pada 1887. Piringan sebagai media penyimpan lagu ini dikenal sebagai piringan hitam. Dari tahun ke tahun, piringan ini dikembangkan dengan hasil rekamannya mendapat kualitas yang baik.

Radio AM/FM
Setelah gramofon dengan piringan hitamnya, musik mulai diperdengarkan melalui radio. Pada era 1900-an, radio sudah mengumumkan siarannya namun hanya berkaitan dengan informasi peperangan. Setelah Perang Dunia I selesai, radio memainkan peran yang lebih kaya, yaitu dengan memutar berbagai lagu. Sampai akhirnya pada 1954, radio portable diluncurkan oleh perusahaan IDEA.

Kaset
Alat pemutar musik terus berkembang. Pada 1963, Philip berhasil mengeluarkan kaset audio yang mampu menyimpan musik dalam pita hitamnya. Kehadiran pita kaset ini mampu menghiasi dunia musik di samping transistor radio dan piringan hitam.

Walkman
Walkman muncul sebagai pencerah di era berkembangnya pita kaset. Alat ini diluncurkan oleh perusahaan asal Jepang, Sony. Dengan Walkman, kaset dapat didengarkan di perangkat portabel sehingga penggunanya bisa mendengarkan musik kesukaan mereka bahkan di saat bepergian. Selain Walkman, Sony juga menemukan headphone yang memungkinkan pengguna mendengarkan musik tanpa mengganggu orang lain. Energi Walkman berasal dari baterai.

CD Player dan Discman
Pada tahap selanjutnya, muncullah perangkat yang digunakan untuk memainkan CD, yaitu CD player. Sama seperti perangkat audio yang menggunakan kaset, bedanya perangkat ini menggunakan disc dan tak lagi memutarkan suara dari pita. Selain CD player, Sony kemudian memperbarui generasi Walkman dengan merilis CD Player dalam perangkat portabel, yaitu Discman. Selain itu juga, compact disk juga bertranformasi dengan bentuk yang lebih kecil yang sering disebut minidisc

MP3 Player, iPod
Mp3 Player adalah alat teknologi pemutar musik yang lebih modern. Format musik yang tadinya tersimpan dalam piringan hitam, kaset pita, dan disk kini menjadi data dalam format MP3 atau wav. Kini pengguna tak usah membawa kaset dalam jumlah banyak karena lagu sudah bisa tersimpan dalam MP3 player tersebut. Perangkat ini kali pertama muncul pada 1998 dengan nama MP-Man yang diluncurkan oleh perusahaan asal Korea. Setelah itu, bermunculan alat pemutar musik portabel lain dalam bentuk yang lebih mini, misalnya iPod, produk dari perusahaan Apple pada 2001.

Aplikasi
Di dalam smartphone yang beredar pada masa ini, terdapat berbagai macam aplikasi yang memudahkan kita untuk menikmati musik, baik secara gratis maupun berbayar. Misalnya, aplikasi music player yang dimiliki setiap smartphone, ataupun aplikasi seperti Spotify, Apple Music, dan Joox.

Author: Charista Edyth Jelita
Referensi:
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/11/21/143732420/menelusuri-perjalanan-pemutar-musik-dari-masa-ke-masa?page=all.
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fmedium.com%2F%40Irawand%2Fperkembangan-teknologi-pemutar-musik-dari-masa-ke-masa-bdc11f1ee105&psig=AOvVaw3g2UYFPc1Z_WR4iGoYkJ24&ust=1630228168822000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjhxqFwoTCPjCo6uv0_ICFQAAAAAdAAAAABAD
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.mousaik.com%2Fnews%2Frekomendasi-10-gadget-yang-paling-oke-buat-dengerin-musik&psig=AOvVaw3g2UYFPc1Z_WR4iGoYkJ24&ust=1630228168822000&source=images&cd=vfe&ved=0CAsQjRxqFwoTCPjCo6uv0_ICFQAAAAAdAAAAABAJ