Tirta Yatra KMH 2026: Refleksi Spiritual dalam Momentum Banyu Pinaruh

Dalam rangka meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, telah dilaksanakan kegiatan Tirta Yatra yang diikuti oleh mahasiswa Hindu sebagai bentuk penguatan nilai-nilai spiritual di tengah kehidupan akademik. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan hari suci Banyu Pinaruh, yang dimaknai sebagai momentum penyucian diri secara lahir dan batin.
Tirta Yatra merupakan perjalanan suci yang tidak hanya bertujuan untuk melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci, tetapi juga sebagai sarana refleksi diri dan peningkatan kualitas spiritual. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan serta menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi melukat sebagai bentuk penyucian diri. Dalam prosesi ini, peserta melakukan pembersihan secara sekala dan niskala menggunakan air suci, sejalan dengan makna Banyu Pinaruh sebagai simbol pembersihan diri dari segala bentuk kekotoran. Melalui tahapan ini, peserta diharapkan mampu menenangkan pikiran serta mempersiapkan diri secara spiritual sebelum melaksanakan persembahyangan.
![]() |
![]() |
Setelah prosesi melukat, kegiatan dilanjutkan dengan persembahyangan di beberapa pelinggih secara berurutan. Persembahyangan dimulai di pelinggih Kanjeng Ratu, dilanjutkan di pelinggih Dewi Saraswati sebagai simbol penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, kemudian di Linggah Siwa sebagai perwujudan kekuatan spiritual, dan diakhiri dengan persembahyangan di pura utama. Setiap tahapan persembahyangan dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk bhakti dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
![]() |
![]() |
Untuk memperdalam pemahaman peserta, kegiatan juga diisi dengan dharma wacana singkat mengenai makna Tirta Yatra dan Banyu Pinaruh. Penyampaian materi ini bertujuan agar peserta tidak hanya menjalankan rangkaian kegiatan secara ritual, tetapi juga memahami nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan doa bersama. Pada tahap ini, peserta diberikan ruang untuk merenungkan pengalaman spiritual yang telah dilalui serta menginternalisasi nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan.
Melalui pelaksanaan Tirta Yatra ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman spiritual yang bermakna, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menjadi wujud keseimbangan antara pengembangan intelektual dan spiritual dalam lingkungan akademik.



