Sumber : (Patung Thai Se Ja di Kelenteng Ho Hap Miau)
Tradisi sembahyang rebut merupakan tradisi kepercayaan umat Konghucu sebagai tradisi sembahyang arwah leluhur yang diselenggarakan pada tanggal 15 bulan ke tujuh. Perayaan ini dipercaya oleh masyarakat pada bulan ini pintu alam baka/neraka akan terbuka dan arwah yang berada didalamnya akan turun ke dunia manusia dan pulang ke keluarga masing-masing. Tradisi ini telah berkembang menjadi perayaan budaya dan keagamaan yang melibatkan masyarakat luas khususnya di Bangka Belitung. Salah satu unsur paling khas dalam ritual ini adalah keberadaan Thai Se Ja, sosok simbolis yang memiliki peran penting dalam penutupan rangkaian upacara sembahyang rebut.
Makna dan Sosok Thai Se Ja
Thai Se Ja atau Dewa Akhirat dipercaya bertugas untuk mencatat nama-nama arwah dan sajian yang dibawa oleh masyarakat. Selama ritual, patung Thai Se Ja dalam ukuran besar biasanya berdampingan dengan patung dewi lainnya. Selama ritual juga akan disediakan bermacam-macam jamuan yang tersusun rapi di atas altar abu di kelenteng. Jamuan itu nantinya akan diletakkan di atas tempat khusus yang terbuat dari kayu dan papan di depan Thai Se Ja.
Di setiap kelenteng, akan ditemukan patung replika Thai Se Ja dalam posisi duduk dengan tangan kiri patung memegang sebuah buku dan sebuah pena. Buku dan pena bertujuan untuk mencatat amal perbuatan yang dilakukan oleh arwah-arwah yang bergentayangan. Patung Thai Se Ja sendiri pembuatan membutuhkan waktu sebulan dan patung Thai Se Ja terbuat dari bungkus sebuah kain atau kertas lima warna yakni biru, hijau, merah, kuning, dan jingga. Sedangkan, kerangka tubuh dari patung Thai Se Ja terbuat dari bambu.
Pelaksanaan Sembahyang Rebut
Pada perayaan sembahyang rebut, masyarakat biasanya menyiapkan berbagai persembahan berupa makanan, buah-buahan, kue, serta kertas sembahyang yang dibakar sebagai simbol pemberian kepada arwah. Persembahan ini diletakkan di altar atau meja besar yang disusun oleh panitia perayaan. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah perebutan sesaji oleh masyarakat. Setelah ritual utama selesai, masyarakat diperbolehkan mengambil makanan atau persembahan yang ada di altar. Tradisi ini dipercaya membawa keberuntungan dan rezeki bagi mereka yang mendapatkannya.
Di Bangka Belitung sendiri, rangkaian ritual biasanya mencapai puncaknya pada tengah malam sekitar pukul 00.00 WIB, ketika patung Thai Se Ja yang berukuran besar dibakar. Patung ini umumnya dibuat dari kertas dan bambu dengan ukuran yang cukup besar dan bentuk yang mencolok.
Makna Pembakaran Thai Se Ja
Pembakaran patung Thai Se Ja memiliki makna simbolis yang mendalam. Ritual ini melambangkan bahwa Thai Se Ja telah menyelesaikan tugasnya dalam mengawal arwah-arwah selama bulan ketujuh Imlek. Dengan dibakarnya patung tersebut, arwah-arwah dipercaya kembali ke alamnya masing-masing.
Selain itu, pembakaran ini juga melambangkan pelepasan energi negatif serta harapan agar kehidupan masyarakat kembali berjalan dengan aman dan seimbang. Api yang membakar patung Thai Se Ja sering kali menjadi simbol transformasi dan pemurnian.
Kesimpulan
Thai Se Ja merupakan elemen penting dalam tradisi sembahyang rebut, khususnya di Bangka Belitung. Sosok ini melambangkan penjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia arwah serta menjadi simbol penutup dari rangkaian ritual bulan arwah. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjalankan ritual keagamaan tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur yang telah menjadi bagian dari identitas komunitas Tionghoa di Bangka. Hingga saat ini, tradisi sembahyang rebut masih dipertahankan oleh banyak keluarga Tionghoa sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya dan bermakna.
Wei De Dong Tian
Referensi:
- Kajian Budaya dalam Tradisi Chit Ngiat Pan di Pangkal Pinang-Bangka Belitung. (2024). Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Cinema, 6(2), 291-310. https://doi.org/10.24076/pikma.v6i2.1425
- Bangka.tribunnews. (2025). Patung Thai Se Ja Senilai Rp30 Juta Dibakar, Sembahyang Rebut di Kelenteng Ho Hap Miaw. Bangka.tribunnews.
