“Capek Tapi Harus Tetap Jalan”: Kelelahan Mental pada Mahasiswa yang Menjalani Banyak Peran
Halo, psytroopers! Sebagai mahasiswa yang menjalani banyak peran pernahkah kalian merasa lelah, tetapi bukan karena kekurangan tidur? Badan mungkin masih bisa bergerak, tetapi pikiran terasa penuh, sulit untuk fokus, juga emosi jadi jauh lebih sensitif dari biasanya. Banyak mahasiswa mungkin pernah berkata, “Aku capek banget, tapi mau bagaimana lagi, harus tetap dijalani.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menggambarkan kondisi kelelahan mental yang cukup serius. Menjadi mahasiswa saat ini sering kali berarti menjalani banyak peran sekaligus. Selain mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas kuliah, dan menghadapi ujian, banyak mahasiswa juga aktif dalam organisasi, magang, bekerja paruh waktu, hingga tetap menjaga kehidupan sosial. Kombinasi tuntutan ini dapat memicu kelelahan mental atau biasa disebut mental fatigue, yaitu kondisi menurunnya kapasitas kognitif akibat aktivitas mental yang berkepanjangan (Van der Linden et al., 2003). Mahasiswa rentan mengalami mental fatigue karena tingginya tuntutan akademik, tekanan prestasi, dan kurangnya waktu pemulihan. Stress akademiknya terbukti berhubungan dengan meningkatnya risiko academic burnout pada mahasiswa (Zhang et al., 20205).
Secara psikologis, kelelahan mental bukan sekadar merasa “capek biasa”. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengontrol perhatian, mengambil keputusan, dan mengatur emosi. Van der Linden et al. (2003) menjelaskan bahwa kelelahan mental dapat menurunkan fungsi kontrol kognitif, sehingga individu menjadi lebih mudah terdistraksi dan kesulitan mempertahankan fokus dalam waktu yang lama. Karena kelelahan mental menurunkan fungsi kontrol kognitif, kapasitas perhatian mahasiswa menjadi terbatas. Akibatnya, mereka lebih mudah terdistraksi dan kesulitan mempertahankan fokus dalam waktu lama. Kondisi ini menyebabkan proses pemahaman materi menjadi kurang optimal dan pengerjaan tugas terasa lebih berat, meskipun mahasiswa tersebut telah berusaha secara maksimal. Selain itu, kelelahan mental juga berkaitan dengan konsep burnout dalam konteks akademik. Burnout pada mahasiswa ditandai dengan kelelahan emosional, sikap sinis terhadap tugas kuliah, serta perasaan tidak kompeten (Salmela-Aro & Read, 2017). Ketika mahasiswa terus memaksakan diri tanpa waktu pemulihan yang cukup, kondisi ini dapat berkembang menjadi academic burnout yang berdampak pada motivasi belajar dan kesejahteraan psikologis.
Menariknya, banyak dari mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kelelahan mental. Sebagian menganggapnya sebagai konsekuensi wajar dari “produktif” dan “sibuk” (Maslach & Leiter, 2016). Sedangkan, menurut Hockey (2013), kelelahan mental merupakan sinyal bahwa sistem kognitif seseorang membutuhkan pemulihan. Jika diabaikan, performa dapat terus menurun dan risiko stres meningkat. Dalam kehidupan sehari-hari, kelelahan mental dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, mahasiswa yang biasanya aktif menjadi lebih sensitif dan mudah marah, sulit berkonsentrasi saat membaca, atau merasa tugas yang kecil terasa sangat berat untuk dikerjakan. Bahkan keputusan sederhana, seperti memilih jadwal atau membalas pesan bisa terasa melelahkan. Hal ini menunjukkan bahwa kelelahan mental memengaruhi bukan hanya aspek akademik, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan.
Lalu, apa solusi yang bisa kita lakukan ketika kita terjebak dalam kondisi ini? Strategi coping yang adaptif dapat membantu mengurangi dampak kelelahan mental. Mengatur prioritas, menetapkan batasan terhadap beban kegiatan, serta memberikan waktu istirahat yang cukup dan berkualitas merupakan langkah awal yang penting. Selain itu, penting bagi kita mahasiswa untuk menyadari bahwa produktivitas tidak selalu harus dilakukan semua dan segalanya sekaligus. Pada akhirnya, menjadi mahasiswa memang banyak sekali tuntutannya, tetapi bukan berarti harus terus memaksakan diri kita tanpa jeda. Rasa “capek tapi harus jalan” bisa menjadi pengingat bagi kita bahwa tubuh dan pikiran kita memiliki batas. Mengenali tanda-tanda kelelahan mental bukanlah kelemahan, melainkan langkah awal untuk menjaga kesehatan psikologis dan keberlanjutan performa akademik. Jadi psytroopers, produktif itu penting, tetapi kesehatan mental jauh lebih utama. Mari belajar mengenali batas diri dan mengelola energi kita dengan bijak agar kita tetap berkembang tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis.
Referensi
Van der Linden, D., Frese, M., & Meijman, T. F. (2003). Mental fatigue and the control of cognitive processes: effects on perseveration and planning. Acta Psychologica, 113(1), 45–65. https://doi.org/10.1016/S0001-6918(02)00150-6
Salmela-Aro, K., & Read, S. (2017). Study engagement and burnout profiles among Finnish higher education students. Burnout Research, 7, 21–28. https://doi.org/10.1016/j.burn.2017.11.001
Hockey, G. R. J. (2013). The psychology of fatigue: Work, effort and control. Cambridge University Press.
Zhang, J., Meng, J., & Wen, X. (2025). The relationship between stress and academic burnout in college students: evidence from longitudinal data on indirect effects. Frontiers in Psychology. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1517920