Serba-Serbi Keraguan pada Remaja dan Peran Orang Dewasa

Halo, teman-teman! Bagaimana kabar kalian selama menjalani aktivitas kalian? Aku harap berjalan dengan lancar, ya! Tetapi, kalian menyadari tidak sih bahwa di setiap aktivitas yang kalian jalani, pasti dalam keseharian ada hal yang harus kalian tentukan? Seperti yang kita ketahui, di umur-umur remaja seperti kalian biasanya sedang berusaha menggali potensi diri, sehingga mereka harus memilih kegiatan atau aktivitas yang mungkin dapat meningkatkan potensi. Seperti misalnya, harus memilih untuk ikut program kerja A atau program kerja B, atau bahkan tidak mengikuti sama sekali. Terkadang, dalam menentukan sebuah keputusan biasanya tidak terlepas dari sebuah keraguan. Rasa ragu kadang dibutuhkan untuk kita agar lebih cermat dalam memilih. Dengan rasa ragu, kita dapat menelaah kembali tentang keinginan serta kemampuan yang kita miliki. Namun, sepertinya perlu dipertanyakan jika di setiap langkahnya remaja selalu merasa ragu, bahkan sangat dikhawatirkan jika seorang remaja sering merasa tidak yakin dengan keinginan dan kemampuannya sendiri. Alasan mengapa remaja sering merasa tidak yakin dengan keinginan dan kemampuan diri mereka inilah yang disebabkan oleh rendahnya self-efficacy yang dimiliki.

Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam mencapai tujuan dan keberhasilannya pada situasi tertentu. Sebenarnya perkembangan self-efficacy sudah dimulai sejak usia dini. Namun, perkembangan self-efficacy yang dialami saat di usia dini dapat mempengaruhi perilaku seorang anak saat sedang mengambil keputusan dan mengembangkan potensi di saat sudah mulai beranjak usia remaja. Keyakinan mengenai kemampuan dan potensi diri sebetulnya juga didukung oleh kepercayaan dan motivasi dari diri kita sendiri. Namun, sebagai makhluk sosial kita membutuhkan orang lain untuk membantu kita dalam meningkatkan keyakinan tersebut. Oleh karena itu, orang dewasa yang berada disekitar kita, seperti orangtua, kakak, guru atau mentor memiliki peran yang besar dalam mendukung keyakinan seorang anak. Terutama, jika anak tersebut sudah mulai beranjak usia remaja, karena pada usia remaja kita cenderung labil, sehingga seorang remaja membutuhkan bimbingan dan dukungan agar dapat mengembangkan serta meningkatkan potensi diri

Seorang remaja yang memiliki self-efficacy yang rendah dapat menyebabkan remaja tersebut menjadi mudah menyerah saat dihadapkan dengan sebuah pilihan-pilihan yang sulit. Bahkan, seorang anak akan merasa tidak punya harapan lagi untuk bisa mengembangkan dan meningkatkan potensi diri. Hal ini dapat disebabkan karena orang dewasa yang berada di dalam lingkungannya terlalu menghakimi atau meremehkan kemampuan mereka. Misalnya, terdapat seorang anak yang sedang mengatakan tentang keinginannya untuk mengasah potensinya dalam dunia seni. Walaupun mungkin kemampuannya belum begitu mencukupi, tetapi anak tersebut sangatlah yakin jika kemampuannya dapat berkembang. Namun, orangtuanya berkata, “Halah..lebih baik jangan deh, itu gak penting dan hanya buang-buang waktu kamu saja. Lagipula, kalau kamu menekuni bidang seni tidak akan menghasilkan apa-apa.”

Setiap manusia termasuk diri kita, pasti memiliki keinginan untuk terus berkembangan menjadi yang lebih baik, sama halnya dengan seseorang yang kerap merasa ragu pasti memiliki keinginan untuk bisa lebih berani dan yakin. Nah, jika kamu sering merasa ragu-ragu terhadap kemampuanmu atau kamu berperan sebagai seseorang yang ingin membantu orang lain dalam meningkatkan potensinya, maka kamu dapat melakukan cara-cara yang berada di bawah ini lho! 

  • Memberi atau melihat contoh: Jika kamu memiliki peran sebagai orang dewasa, maka berikanlah contoh yang baik kepada adik atau temanmu yang masih berada di usia remaja dengan menunjukkan sikap optimis dan semangat. Lalu, jika kamu berada di posisi sebagai seorang remaja, maka kamu dapat mengambil contoh baik dari orang sekitar yang menurutmu dapat meningkatkan keyakinan dan motivasi diri. 

    • Memberi dan menerima masukan: Sebagai remaja yang masih dalam kondisi labil, ada baiknya jika kita mendapatkan masukan dari orang dewasa. Masukan dari orang dewasa berguna untuk membimbing mereka agar lebih terarah dan dapat mendorong mereka untuk lebih aktif dari sebelumnya. Namun, orang dewasa juga harus memberikan masukan yang membangun dan realistis serta jangan lupa untuk memberikan apresiasi!

  • Berilah kesempatan kepada remaja dalam memilih pilihannya sendiri: Tips ini lebih ditujukan kepada orang dewasa yang kerap merasa khawatir dan takut jika melihat seorang remaja yang memilih pilihannya sendiri. Kamu tidak perlu merasa khawatir dan tetaplah tenang. Karena dengan pilihan mereka, remaja dapat memiliki rasa tanggung jawab dan pengalaman. Dari pilihan tersebut, mereka mungkin akan melakukan kesalahan. Namun, hal tersebut dapat membantu mereka untuk mengevaluasi diri. 

Referensi: 

Cherry, K. (2020, July 22). How Self Efficacy Helps You Achieve Your Goals. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-self-efficacy-2795954#toc-issues-with-low-self-efficacy

Lopez-Garrido, G. (2020, August 9). Self-Efficacy Theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/self-efficacy.html

Miller, P. H. (2009). Theories of Developmental Psychology (5th ed.). Worth Publishers.

Widanarti, N., & Indati, A. (2022). Hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan self efficacy pada remaja di SMU Negeri 9 Yogyakarta. Jurnal Psikologi, 29(2). https://doi.org/10.22146/jpsi.7019

Penulis: Natasha Shafa Nabila