Dealing with Quarter Life Crisis

Dealing with Quarter Life Crisis

Salam sehat, teman-teman! Semoga teman-teman yang sedang membaca artikel ini sedang dalam kondisi yang baik dan sehat, ya! Oh iya, kisaran usia teman-teman yang sedang membaca artikel ini berapa nih? Pada umumnya, rentang usia mahasiswa di Indonesia berkisar mulai dari 18 hingga 25 tahun. Apabila teman-teman sedang berada di kelompok usia tersebut, disimak baik-baik ya informasi kali ini!

Teman-teman pernah mendengar tentang quarter-life crisis belum nih? Istilah ini merujuk pada kebingungan atau tekanan secara psikologis yang dialami ketika memasuki usia dewasa muda yang biasanya dikenal dengan usia emerging adulthood, yakni sekitar 18-25 tahun. Pada usia perkembangan ini, biasanya individu akan mengeksplorasi dirinya secara lebih mendalam (Santrock, 2019) sehingga krisis yang terjadi adalah seputar identitas individu tersebut.

Lalu, apa sih penyebab munculnya quarter-life crisis ini?

Pada usia dewasa muda, biasanya seseorang akan berpikir dengan berorientasi ke masa depan, seperti permasalahan di bidang pendidikan, pekerjaan yang akan ia dapatkan nantinya, hubungan romantis dengan pasangan, masalah finansial, dan sebagainya. Nah, karakteristik perkembangan itulah yang dapat memunculkan quarter-life crisis. Adanya pertimbangan dan kebimbangan untuk menghadapi masa depan memunculkan perasaan takut dalam diri, baik takut gagal ataupun takut melampaui zona nyaman yang sudah dibentuk.

Bagaimana dong cara menghadapi quarter-life crisis?

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan supaya quarter-life crisis tidak menjadi hal yang membuat seseorang terpuruk. Beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Memahami bahwa garis start dan finish setiap orang berbeda

Pada umumnya, orang-orang pada kelompok usia dewasa muda sedang mengalami berbagai hal yang berbeda-beda. Ada orang yang sudah memiliki usahanya sendiri pada usia 20 tahun. Ada pula yang sudah memiliki anak di usia 23 tahun, serta juga ada yang fokus mengejar pendidikannya pada usia 20 tahun. Maka, perlu penanaman konsep dalam diri bahwa setiap orang akan memiliki timing-nya sendiri-sendiri dalam mencapai sesuatu. Kita tidak perlu membanding-bandingkan diri kita dan menganggap bahwa diri kita gagal apabila belum bisa sama dengan yang lain. Menjadikan hal positif sebagai motivasi memang merupakan hal yang baik, tetapi perlu diingat pula bahwa kondisi dan situasi setiap orang berbeda-beda.

2. Mengeksplorasi minat untuk menemukan passion

Karena pada usia ini seseorang memang sedang berusaha untuk menemukan identitasnya, orang tersebut dapat mengeksplorasi berbagai hal yang kiranya sesuai dengan minat dan bakatnya. Perlu diingat bahwa eksplorasi yang dilakukan tentu harus mengarah pada hal yang positif dan tidak menjerumuskan individu pada hal-hal yang melanggar norma. Dengan lebih mengenal diri sendiri, seseorang akan menjadi lebih memaknai usianya dengan lebih baik pula.

3. Mengedepankan self-love

Akhirnya, yang tidak kalah penting, seseorang perlu menumbuhkan rasa cinta terhadap dirinya sendiri karena pada akhirnya yang akan survive pada usia ini adalah orang tersebut. Bentuk self-love ini dapat beraneka ragam bentuknya, tetapi dengan satu tujuan yaitu menempatkan seseorang pada posisi yang menghargai dirinya sendiri.

Jadi, perlu diingat ya teman-teman, quarter-life crisis ini memang bisa terjadi pada siapa saja. Akan tetapi, pemaknaan dan penyelesaiannya dapat berbeda-beda pada setiap orang. Dari pemahaman yang berbeda tersebut lah dapat mendorong individu, entah menjadi cemas hingga depresi atau malah menjadikannya sebagai motivasi untuk dapat survive di masa transisinya menuju dewasa. Maka, penting untuk memaknainya secara positif, ya! Dan apabila memang diperlukan, teman-teman tidak perlu ragu untuk langsung menghubungi ahlinya.

Sekian dulu artikel Psikopedia bulan Februari. Semoga teman-teman dapat memperoleh manfaat setelah membaca artikel yang ada, ya! Sampai jumpa di artikel Psikopedia selanjutnya!

Referensi

Agarwal, S., Guntuku, S. C., Robinson, O. C., Dunn, A., & Ungar, L. H. (2020). Examining the phenomenon of quarter-life crisis through artificial intelligence and the language of Twitter. Frontiers in psychology11, 341.

Nareza, M. (2020, November 12). Memahami quarter life crisis dan cara menghadapinya. Alodokter. https://www.alodokter.com/memahami-quarter-life-crisis-dan-cara-menghadapinya

Priherdityo, E. (2016, October 15). Lima langkah bebas galau di usia 25-an. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20161015142753-277-165703/lima-langkah-bebas-galau-di-usia-25-an 

Santrock. (2019). Life-span development (17th ed.). McGraw-Hill Education. 

Elen Novianti