Mari Mengenal Tentang Hitsumabushi!!!

Sumber: pocket-concierge.jp

Hitsumabushi (ひつまぶし) adalah masakan daerah seperti Unadon (うな丼) yang dimakan terutama di daerah Nagoya (名古屋), makanan ini disajikan di dalam bak nasi o-hitsu (お櫃), karena pada awalnya hidangan ini disajikan di dalam mangkuk keramik, sama seperti di restoran khusus belut lainnya. Namun, para pekerja muda di restoran tersebut sering memecahkan mangkuk ketika mengambil mangkuk setelah mereka mengantarkan makanan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa ada kebutuhan untuk menyajikan makanan dalam wadah yang dapat menahan penanganan yang kasar dan menyediakan sejumlah besar porsi sekaligus. Dikatakan bahwa alasan untuk memotong belut adalah untuk menyajikan belut dalam jumlah yang sama saat mengeluarkan nasi dari bak beras, atau merupakan upaya untuk memanfaatkan belut secara efisien selama periode kekurangan makanan setelah perang.

Belut kabayaki dipotong kecil-kecil dan diletakkan di atas nasi, yang disajikan dalam ohitsu kecil (wadah kayu untuk menanak nasi), dan dimakan dengan 3 cara berbeda. Disebut Hitsumabushi karena nasi dan toppingnya tercampur. Nama hitsumabushi berasal dari kata ‘mamushi‘, yang berarti nasi dengan topping belut di daerah Kansai. Di Nagoya, kedua nama tersebut digunakan (pendapat yang paling banyak adalah ‘mabushi‘ berasal dari kata ‘mabusu‘, yang berarti menyebar. Di sisi lain, ini juga dapat dianggap sebagai pengucapan yang salah dari ‘mamushi‘).

Ada berbagai teori tentang asal-usul hidangan ini dan tidak diketahui secara pasti bagaimana hidangan ini muncul, beberapa ada yang berkata dari Kota Tsu (津市), beberapa lagi berkata asalnya dari Kota Nagoya (名古屋市). Hitsumabushi dikatakan telah dimulai di Kota Nagoya selama Periode Meiji (明治) dan restoran yang pertama kali menyajikan hidangan ini adalah ‘Atsuta Horaiken(あつた蓬莱軒) di Distrik Atsuta (熱田区).

Nama hidangan ini menjadi merek dagang terdaftar ‘Atsuta Horaiken‘ pada tahun 1987. Oleh karena itu, ‘Atsuta Horaiken‘ dapat menyebutnya ‘Hitsumabushi‘, tetapi semua restoran lain harus menyebutnya ‘Hitsumamushi‘. Namun, nama ‘Hitsumabushi‘ saat ini merupakan nama umum untuk hidangan ini, akibatnya, diputuskan bahwa penyediaan hidangan bernama “Hitsumabushi” di restoran bukan merupakan pelanggaran hak merek dagang.

Sumber: hitsumabushi.co.jp

Ada 3 cara untuk menyantap Hitsumabushi 

Nasi disajikan dengan potongan belut di atasnya, dan sendok nasi digunakan untuk membagi nasi menjadi 4 porsi dengan membuat huruf ‘X’ pada hitsumabushi. Kemudian, hidangan ini dimakan dengan tiga cara yang dijelaskan di bawah ini secara berurutan.

  • Pertama, nasi dibagi-bagi ke dalam mangkuk, dan dimakan apa adanya seperti Unadon biasa.
  • Kemudian, porsi kedua dibagi-bagi, dan dimakan dengan pelengkap (wasabi, rumput laut, mitsuba [みつば等], dan sebagainya). Pelengkap dasarnya adalah daun bawang, lobak wasabi, dan rumput laut, yang merupakan tiga bahan yang cocok dimakan bersama belut. Hidangan ini dimakan sambil menikmati masing-masing rasa dari campuran hitsumabushi dengan bahan pelengkap.
  • Hidangan ketiga disajikan seperti hidangan kedua, tetapi dengan teh hijau Jepang yang disebut sencha (煎茶) atau kaldu (tergantung pada restorannya) yang dituangkan di atasnya dan dimakan dengan cara yang sama seperti chazuke (茶漬け). Dikatakan bahwa cara makan seperti ini diciptakan untuk memberikan cara yang lezat untuk memakan belut yang kualitasnya telah menurun.
  • Porsi terakhir dimakan dengan cara yang paling disukai pengunjung di antara cara ke-1 hingga cara ke-3.

Kalian bisa coba makan hitsumabushi di Man Man Unagi Restaurant di Jl. Senopati No.71-75, Jakarta Selatan, kisaran harganya mulai dari Rp150.000 – Rp750.000