    {"id":871,"date":"2025-07-16T18:27:27","date_gmt":"2025-07-16T11:27:27","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/?p=871"},"modified":"2025-07-16T18:27:27","modified_gmt":"2025-07-16T11:27:27","slug":"scroll-click-repeat-memahami-kenapa-kita-memilih-media-yang-kita-gunakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/2025\/07\/16\/scroll-click-repeat-memahami-kenapa-kita-memilih-media-yang-kita-gunakan\/","title":{"rendered":"Scroll, Click, Repeat: Memahami Kenapa Kita Memilih Media yang Kita Gunakan"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-872\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-content\/uploads\/sites\/112\/2025\/07\/Desain-tanpa-judul.png\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"1080\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Setiap hari, jari kita seolah sudah tahu ritme otomatisnya: bangun tidur \u2014 <em>scroll<\/em> WhatsApp, lagi makan \u2014 buka TikTok, nunggu dosen \u2014 buka Instagram, mau tidur \u2013 buka YouTube. Tanpa sadar, kita menghabiskan waktu berjam-jam berpindah dari satu konten ke konten lain. Tapi pernah nggak sih kamu mikir: Kenapa ya aku otomatis buka WhatsApp waktu bangun tidur? Kenapa bukan yang lain? Atau lebih dalam lagi: Sebenarnya, aku lagi butuh apa sih sampai aku pilih <em>platform <\/em>itu?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kita sering merasa aktivitas digital kita cuma \u201c<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">killing time<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\u201d. Padahal, di balik semua klik dan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">swipe<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> itu, ada kebutuhan yang sedang coba kita penuhi. Entah itu butuh hiburan, pelarian dari stres, cari informasi, atau sekadar pengakuan sosial. Semuanya nggak terjadi secara acak. Ada satu teori klasik dalam ilmu komunikasi yang bisa bantu kita memahami fenomena ini dengan lebih jernih: <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Uses and Gratifications Theory<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/i><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Apa Itu <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Uses and Gratifications Theory<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">?<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Secara sederhana, <\/span><em><b>Uses and Gratifications Theory<\/b><b> (U&amp;G)<\/b><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> menjelaskan bahwa audiens bukanlah objek pasif yang cuma \u201cditerpa\u201d konten media. Sebaliknya, kita aktif memilih media yang kita gunakan berdasarkan kebutuhan dan keinginan pribadi. Teori ini berangkat dari pemahaman bahwa setiap individu memiliki motivasi tertentu ketika menggunakan media, dan media dipakai sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan itu.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Apa sih Tujuan Orang Memilih Media Tertentu?<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Uses and Gratifications Theory<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> menjelaskan bahwa orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan spesifik. Menurut <\/span><b>Katz, Gurevitch, dan Blumer (1974)<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, ini beberapa tujuan utama yang jadi motivasi seseorang memilih media, yaitu:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><em><b>Cognitive<\/b><\/em><b> \u2013 Mencari Informasi dan Pemahaman<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kita menggunakan media untuk menambah pengetahuan. Misalnya, buka X (Twitter) untuk cari <em>update<\/em> isu sosial, atau nonton video edukatif di YouTube saat belajar topik yang belum dipahami.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><em><b>Affective<\/b><\/em><b> \u2013 Mencari Hiburan dan Kepuasan Emosional<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Saat kamu lagi <em>bad mood<\/em> dan butuh hiburan, kamu buka TikTok, nonton komedi, atau dengerin lagu <em>mellow<\/em>. Media bisa jadi pelampiasan atau penguat perasaan tertentu.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><em><b>Social<\/b><\/em><b> \u2013 Menjalin Hubungan Sosial<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Media juga digunakan untuk tetap terkoneksi dengan orang lain. Contohnya, <em>chatting<\/em> di <em>WhatsApp group,<\/em> <em>update<\/em> <em>Instagram Stories<\/em>, atau bahkan gabung komunitas online untuk diskusi hobi tertentu.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><em><b>Diversion<\/b><\/em><b> \u2013 Pelarian dari Stres atau Rutinitas<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ketika tugas menumpuk dan kamu merasa <em>overwhelmed<\/em>, kamu mungkin \u201cmelarikan diri\u201d sejenak dengan menonton serial di Netflix atau main <em>game<\/em>.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><em><b>Personal Identity<\/b><\/em><b> \u2013 Menguatkan atau Mengekspresikan Diri<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\"><em>Platform<\/em> seperti LinkedIn menjadi media untuk membangun identitas diri dan memperkuat kredibilitas, terutama di ranah akademik dan profesional. Di sana, kita menampilkan sisi diri yang ingin dilihat orang lain\u2014baik itu sebagai mahasiswa aktif, pemimpin organisasi, atau calon profesional yang kompeten.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kenapa Kamu Perlu Tahu Teori ini?<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Di tengah banyaknya platform digital, kita sering merasa <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">overwhelmed<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> tapi tetap aktif memilih. Teori ini bukan cuma buat bahan ujian atau kuliah teori komunikasi, tapi juga relevan dalam hidup sehari-hari kamu sebagai mahasiswa yang aktif, <em>multitasking,<\/em> dan <em>digital<\/em> <em>native<\/em>.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><b>Bantu Kamu Jadi Konsumen Media yang Lebih Kritis<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dengan memahami bahwa kamu aktif memilih media, kamu juga bisa lebih kritis terhadap isi yang kamu konsumsi. Kamu bisa menilai apakah konten tersebut memang memenuhi kebutuhanmu atau justru mengalihkan perhatian dari hal yang lebih penting.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><b>Cocok untuk calon <em>Public Relations<\/em>, <\/b><em><b>Content Creator<\/b><\/em><b>, dan Komunikator Masa Kini<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kalau kamu bikin konten atau kerja di bidang PR, penting banget tahu kenapa audiens memilih konten tertentu. Dengan memahami motivasi mereka, kamu bisa menyusun pesan yang lebih efektif, <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">relatable<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, dan tepat sasaran<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Uses and Gratifications Theory<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> menekankan bahwa kamu adalah aktor utama dalam interaksimu dengan media. Kamu bukan sekadar penerima pesan, tapi penentu media mana yang kamu pilih dan kenapa. Di dunia yang penuh distraksi ini, memahami teori ini bisa menjadi alat navigasi penting dalam menggunakan media. Yuk mulai sekarang, sebelum kamu klik video, <em>scroll feed,<\/em> atau dengerin lagu, coba tanya ke diri sendiri: apa yang sebenarnya aku butuhkan dari media ini?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap hari, jari kita seolah sudah tahu ritme otomatisnya: bangun tidur \u2014 scroll WhatsApp, lagi makan \u2014 buka TikTok, nunggu dosen \u2014 buka Instagram, mau tidur \u2013 buka YouTube. Tanpa sadar, kita menghabiskan waktu berjam-jam berpindah dari satu konten ke konten lain. Tapi pernah nggak sih kamu mikir: Kenapa ya aku otomatis buka WhatsApp waktu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":194,"featured_media":872,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[83,35,81,82],"class_list":["post-871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-binus-university","tag-public-relations","tag-teori-komunikasi","tag-uses-and-gratifications"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/users\/194"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=871"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/871\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":874,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/871\/revisions\/874"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/media\/872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/uspr\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}