    {"id":7920,"date":"2024-02-05T18:17:45","date_gmt":"2024-02-05T11:17:45","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/?p=7920"},"modified":"2024-02-05T18:17:45","modified_gmt":"2024-02-05T11:17:45","slug":"self-diagnose-yang-berakibat-fatal-bagi-mental-illness","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/2024\/02\/self-diagnose-yang-berakibat-fatal-bagi-mental-illness\/","title":{"rendered":"SELF DIAGNOSE YANG BERAKIBAT FATAL BAGI MENTAL ILLNESS"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2024\/02\/self-diagnose.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-7921 aligncenter\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2024\/02\/self-diagnose.jpg\" alt=\"\" width=\"450\" height=\"253\" \/><\/a><span style=\"font-weight: 400\">Sumber: <\/span><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/self-diagnosis\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/self-diagnosis\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Masuknya era digitalisasi dimana banyaknya informasi mudah diakses, semakin banyak individu yang mendiagnosa diri sendiri terhadap kondisi kesehatan mental mereka. Meski informasi yang ada mudah untuk diakses dan pahami, namun melakukan diagnosa terhadap diri sendiri akan berakibat fatal. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Self-diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> merupakan sebuah kondisi seseorang yang mendiagnosa diri sendiri terkait gangguan atau penyakit yang dideritanya berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri. Individu cenderung untuk mencocokan gejala-gejala yang dialaminya dengan informasi atau pengalaman orang lain.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dengan adanya dorongan untuk mencari tau terkait informasi tentang kesehatan mental, penting bagi kita untuk memahami dampak apa yang timbul saat individu menafsirkan kondisi kesehatan mental mereka. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mental illness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> bukan hanya sekedar kondisi kesehatan yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang, namun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mental illness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> melibatkan kompleksitas individu yang memerlukan pendekatan professional untuk mendapatkan diagnosa yang sesuai dan perawatan yang tepat.\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mental illness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki ciri-ciri seperti sering merasa sedih, kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi, kekhawatiran yang berlebih, perubahan mood yang drastis, delusi, halusinasi, stres, sulit tidur atau tidur yang berlebih, kebiasaan makan yang berubah, hingga berpikir untuk mengakhiri hidupnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sendiri, memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mental illness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Menurut salah satu psikolog, Adriana Amalia, M.Psi, Psikolog Klinis dan CEO Asa Berdaya, salah satu ciri-ciri orang yang melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah adanya keyakinan atas pendirian yang belum tentu benar dan cepat panik terhadap gejala atau indikator tertentu. Seringkali, kedua sifat ini membuat orang yang melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> stres dengan informasi yang diterimanya, sehingga berakibat pada penyangkalan terhadap kesehatan mental itu sendiri dan terkadang menolak berkonsultasi dengan ahli (psikolog atau psikiater).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Meskipun demikian, self-diagnose tidak sepenuhnya buruk. Seorang ahli psikiatri dari Universitas Indonesia, dr. Sylvia Detri Elvira, SpKJ(K) menyatakan bahwa self diagnose sendiri dapat meningkatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-awareness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, yakni kesadaran akan dirinya sendiri dan tau apa yang harus dilakukan. Hal ini akan membuat orang tersebut menghindari hal-hal yang membuatnya &#8220;sakit&#8221; dan berpikir bahwa ia membutuhkan psikiater atau psikolog untuk memastikan diagnosanya dan melakukan penanganan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bahaya dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sendiri dapat membuat diagnosis yang salah, dan dapat membuat seseorang mengkonsumsi obat-obatan yang salah karena mengikuti apa yang diketahui dan belum tentu valid. Apabila ada gangguan kesehatan lain yang lebih serius, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dapat membuat gangguan kesehatan tersebut tidak terdeteksi. Contohnya, seseorang mengira dirinya sedang mengidap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mental illness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, padahal sebenarnya ada tumor yang bersarang di otaknya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Self-diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sendiri dapat memicu gangguan kesehatan yang lebih parah lagi, karena kekhawatiran tidak berdasar yang mengundang stres.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebagai saran, kami menyarankan menjadwalkan pertemuan dengan ahlinya, seperti psikiater atau psikolog <\/span><span style=\"font-weight: 400\">sebagai pilihan pertama<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Psikiater atau psikolog akan melakukan beberapa pemeriksaan, pemeriksaan penunjang, analisis. Sehingga para ahli dapat melakukan observasi lebih lanjut. Saran lainnya adalah mengikuti tes kesehatan mental seperti MMPI (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Minnesota Multiphasic Personality Inventory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">), Tes Kepribadian Ganda, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Psychological Test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tes MMPI (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Minnesota Multiphasic Personality Inventory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) sendiri digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan mental seseorang melalui dua tipe tes, yaitu MMPI-2 dan MMPI-A. Yang dimana\u00a0 MMPI-2 digunakan psikolog dan diperbarui menjadi MMPI-2-RF, dan MMPI-A untuk remaja. Kemudian, tes kepribadian ganda sendiri dilakukan secara online dengan dua tipe, yaitu tes yang fokus dengan gangguan kesehatan mental (platform Psymed dan Mind Diagnostic) dan tes yang fokus pada gangguan kepribadian (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Personality Disorder Test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Terakhir, adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Psychological Test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, yaitu tes kesehatan mental online dengan catatan tes tersebut harus dari penyedia yang akurat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>References<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Amelia, D. (2022, October 28). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bedanya Tes Kesehatan Mental Sama Self Diagnose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Riliv. Retrieved December 10, 2023, from <\/span><a href=\"https:\/\/riliv.co\/rilivstory\/ada-tes-kesehatan-mental\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/riliv.co\/rilivstory\/ada-tes-kesehatan-mental\/ <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Gumilang, N. A. (2022, March 28). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Self Diagnosis: Pengertian, Ciri, Bahaya, dan Cara Mengatasinya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Gramedia. Retrieved December 10, 2023, from <\/span><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/self-diagnosis\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/self-diagnosis\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kinanti, K. A. (2022, November 15). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Arti dan Ciri Self Diagnose Menurut Psikolog<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. detikHealth. Retrieved December 10, 2023, from <\/span><a href=\"https:\/\/health.detik.com\/berita-detikhealth\/d-6406608\/arti-dan-ciri-self-diagnose-menurut-psikolog\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/health.detik.com\/berita-detikhealth\/d-6406608\/arti-dan-ciri-self-diagnose-menurut-psikolog<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lifepack. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bahaya Self Diagnosis untuk Kesehatan Mental<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Lifepack.id. Retrieved December 10, 2023, from <\/span><a href=\"https:\/\/lifepack.id\/bahaya-self-diagnosis\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/lifepack.id\/bahaya-self-diagnosis\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Makarim, d. F. R. (2023, July 11). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bahaya Self-Diagnosis yang Berpengaruh pada Kesehatan Mental<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Halodoc. Retrieved December 10, 2023, from <\/span><a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/bahaya-self-diagnosis-yang-berpengaruh-pada-kesehatan-mental\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/bahaya-self-diagnosis-yang-berpengaruh-pada-kesehatan-mental<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Nushratu, H., &amp; Putri, G. S. (2019, October 16). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Meski Berbahaya, Self Diagnosis juga Bisa Membawa Dampak Positif<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Berita Sains Teknologi Terbaru Hari ini &#8211; Kompas.com. Retrieved December 10, 2023, from <\/span><a href=\"https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/10\/16\/103200623\/meski-berbahaya-self-diagnosis-juga-bisa-membawa-dampak-positif\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/10\/16\/103200623\/meski-berbahaya-self-diagnosis-juga-bisa-membawa-dampak-positif<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Primananda, d. A. P. (2022, August 16). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Retrieved December 10, 2023, from <\/span><a href=\"https:\/\/yankes.kemkes.go.id\/view_artikel\/1314\/definisi-mental-illnessgangguan-mental\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/yankes.kemkes.go.id\/view_artikel\/1314\/definisi-mental-illnessgangguan-mental<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber: https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/self-diagnosis\/\u00a0 Masuknya era digitalisasi dimana banyaknya informasi mudah diakses, semakin banyak individu yang mendiagnosa diri sendiri terhadap kondisi kesehatan mental mereka. Meski informasi yang ada mudah untuk diakses dan pahami, namun melakukan diagnosa terhadap diri sendiri akan berakibat fatal. Self-diagnose merupakan sebuah kondisi seseorang yang mendiagnosa diri sendiri terkait gangguan atau penyakit yang dideritanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":7921,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-7920","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7920","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7920"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7920\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7922,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7920\/revisions\/7922"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7920"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7920"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7920"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}