    {"id":7470,"date":"2023-09-15T21:20:25","date_gmt":"2023-09-15T14:20:25","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/?p=7470"},"modified":"2023-09-15T21:20:25","modified_gmt":"2023-09-15T14:20:25","slug":"pemanfaatan-food-waste-sebagai-pupuk-untuk-mengurangi-limbah-pada-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/2023\/09\/pemanfaatan-food-waste-sebagai-pupuk-untuk-mengurangi-limbah-pada-lingkungan\/","title":{"rendered":"Pemanfaatan Food Waste sebagai Pupuk untuk Mengurangi Limbah pada Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2023\/09\/Foto-Artikel-1-Kelompok-13.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-7471 aligncenter\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2023\/09\/Foto-Artikel-1-Kelompok-13.jpeg\" alt=\"\" width=\"509\" height=\"169\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber : <a href=\"https:\/\/powerknot.com\/2021\/11\/01\/the-pros-and-cons-of-composting-as-a-food-waste-solution\/\">https:\/\/powerknot.com\/2021\/11\/01\/the-pros-and-cons-of-composting-as-a-food-waste-solution\/<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah pangan yang masih dapat dikonsumsi, namun terbuang atau hilang selama proses penjualan hingga konsumsi (rantai makanan). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> merupakan salah satu masalah serius yang sampai saat ini masih sering dihadapi oleh setiap negara. Berdasarkan data statistik dunia dari FAO (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Food and Agriculture Organization<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">), sebanyak satu per tiga bagian dari total makanan yang diproduksi terbuang atau hilang setiap tahunnya. Kemudian berdasarkan data dari EIU (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Economist Intelligence Unit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) pada tahun 2018, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang terjadi di dunia terus mengalami peningkatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang semakin meningkat dapat memberikan beberapa dampak negatif, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kehidupan manusia. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dapat meningkatkan terjadinya pemanasan global dan krisis terhadap ketersediaan pangan. Oleh karena itu, diperlukannya beberapa solusi untuk mengurangi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang ada di dunia. Salah satu solusi kreatif yang dapat dilakukan adalah dengan mengubahnya menjadi pupuk yang memiliki manfaat terhadap lingkungan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pupuk organik tersebut dapat dibuat melalui berbagai teknik. Pengomposan adalah salah satu teknik yang dapat digunakan untuk menerapkan pemanfaatan sisa makanan sebagai pupuk. Pengomposan adalah metode populer untuk mengubah sisa makanan menjadi pupuk. Pengomposan adalah proses penguraian bahan organik menjadi pupuk kaya nutrisi. Sisa-sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan sampah organik lainnya yang tidak dikonsumsi dan berpotensi menjadi sampah semuanya dapat dimanfaatkan dalam proses pengomposan. Untuk membantu proses penguraian, bahan tambahan ditambahkan ke sisa makanan, seperti daun kering, jerami, atau serbuk gergaji.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pupuk organik alami memiliki berbagai manfaat bagi lingkungan maupun tanaman. Apabila pupuk organik tersebut digunakan pada tanah atau tanaman, maka dapat meningkatkan kesuburan tanah dan memperbaiki struktur tanah. Hal tersebut dikarenakan pupuk organik dapat membantu mencegah terjadinya erosi pada lapisan atas tanah. Lapisan atas tanah mengandung banyak unsur hara yang dapat bermanfaat untuk kesuburan tanah. Pupuk organik alami juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia. Pupuk kimia yang ada menggunakan bahan kimia yang memiliki kemungkinan besar dapat menyebabkan dampak negatif untuk tanah, seperti merusak porositas tanah ataupun lingkungan sekitar tanah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Manfaat dari pemanfaatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sebagai pupuk memang sangatlah banyak, akan tetapi terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Tantangan tersebut adalah proses kompleks dalam mengolah beragam jenis limbah makanan yang memiliki komposisi dan tingkat kecernaan yang bervariasi. Dalam mengelola <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> agar dapat menjadi pupuk organik yang berkualitas memerlukan pendekatan yang cermat dan selektif. Sebagian besar limbah makanan juga dapat mengandung bahan-bahan yang sulit terurai, seperti plastik atau bahan kimia yang mungkin tercampur di dalamnya. Oleh karena itu, sebelum memulai proses pengomposan, perlu adanya proses seleksi yang efisien untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan ini, yang dapat menjadi tantangan tersendiri dalam manajemen limbah makanan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berbagai negara telah menerapkan pemanfaatan sisa makanan sebagai pupuk, sebagai contohnya. Misalnya, ada inisiatif pemerintah di Jepang yang mempromosikan pengomposan sisa makanan. Pemerintah Jepang menawarkan bantuan keuangan dan teknis kepada petani atau organisasi lingkungan yang berupaya membuat kompos dari sisa makanan. Selain itu, sejumlah negara Eropa, seperti Belanda dan Denmark, memiliki sistem komunal dalam mengolah limbah makanan yang menghasilkan kompos untuk digunakan dalam pertanian organik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang semakin meningkat dapat menyebabkan beberapa dampak negatif terhadap lingkungan ataupun manusia. Salah satu solusi yang dapat mengurangi masalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah mengubahnya menjadi pupuk. Pemanfaatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> menjadi pupuk dapat memberikan beberapa manfaat, seperti meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia yang mungkin memilki dampak negatif. Akan tetapi, proses pembuatan pupuk dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki tantangan yang perlu diperhatikan juga. Beberapa negara di dunia juga mulai memanfaatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">food waste<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sebagai pupuk dengan tujuan mengurangi limbah makanan yang dapat menyebabkan lingkungan makin baik dan terjaga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Konsep pemanfaatan limbah sebagai pupuk adalah sebuah proses untuk mengubah sisa makanan yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi, sehingga sisa makanan tersebut dapat dijadikan sebuah produk yang sangat bermanfaat. Konsep tersebut memiliki tujuan atau prinsip untuk mengurangi limbah makanan yang berlebihan dan dapat mendaur ulang sisa makanan yang dapat dijadikan sebuah pupuk organik. Pupuk organik adalah jenis pupuk yang berasal dari bahan \u2013 bahan organik alami seperti sisa limbah makanan, potongan rumbut\/ tanaman, hewan, lumpur, serangga, dan lain sebagainya. Hal tersebut menyebabkan pupuk organik dapat mengandung berbagai macam nutrisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Daftar Pustaka<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Hidayat, S. I., Ardhany, Y. H., &amp; Nurhadi, E. (2020). Kajian Food Waste untuk Mendukung Ketahanan Pangan. AGRIEKONOMIKA, 9(2), 171-182.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Khalid, H. (2023). Penyebab Food Waste dan Dampaknya. Retrieved from Indonesia Environment &amp; Energy Center: <\/span><a href=\"https:\/\/environment-indonesia.com\/penyebab-food-waste-dan-dampaknya\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/environment-indonesia.com\/penyebab-food-waste-dan-dampaknya\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber : https:\/\/powerknot.com\/2021\/11\/01\/the-pros-and-cons-of-composting-as-a-food-waste-solution\/ Food waste adalah pangan yang masih dapat dikonsumsi, namun terbuang atau hilang selama proses penjualan hingga konsumsi (rantai makanan). Food waste merupakan salah satu masalah serius yang sampai saat ini masih sering dihadapi oleh setiap negara. Berdasarkan data statistik dunia dari FAO (Food and Agriculture Organization), sebanyak satu per tiga bagian dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":7471,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-7470","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7470","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7470"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7470\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7472,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7470\/revisions\/7472"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7471"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7470"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7470"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7470"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}