    {"id":4560,"date":"2021-06-20T21:28:18","date_gmt":"2021-06-20T14:28:18","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/?p=4560"},"modified":"2020-12-07T21:32:07","modified_gmt":"2020-12-07T14:32:07","slug":"tanaman-dengan-aktivitas-antimikroba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/2021\/06\/tanaman-dengan-aktivitas-antimikroba\/","title":{"rendered":"TANAMAN DENGAN AKTIVITAS ANTIMIKROBA"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Dahulu tumbuhan sering dimanfaatkan sebagai sumber obat. Secara adat tradisional, sistem pengobatan tradisional menggunakan produk tanaman untuk berbagai penyakit menular. Tanaman sedang di teliti lebih dalam secara ekstensif untuk menyimpan sifat obat. Tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat memiliki sifat antimikroba, antikanker, antiinflamasi, antidiabetik, hemolitik, antioksidan, sifat larvasidal Nimsha et al., 2010). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dua pertiga hingga tiga perempat populasi dunia bergantung pada tanaman obat untuk kebutuhan penyembuhan penyakit dan perawatan kesehatan utama. Bahan aktif dalam campuran kompleks mendorong perkembangan kimia organik, fisiologi, dan farmakologi sebagai kontributor penting dalam praktik kedokteran. Dengan isolasi dan karakterisasi struktur produk alami terpilih, kimia organik sintetis menjadi kontributor penting untuk obat-obatan dan sejumlah obat-obatan penting yang dimodelkan pada produk alami mulai akan dikembangkan (McChesney et al., 2019). Pengembangan aspirin berdasarkan asam salisilat kulit pohon willow merupakan contoh klasik. Pengujian berbagai senyawa kimia terhadap penyakit parasit penting dan dilihat khasiat (Rao , et al., 2010).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saat ini penggunaan obat antimikroba tanpa melihat pandang bulu telah menyebabkan resistensi beberapa obat dalam mikroorganisme patogen manusia. Selain masalah ini, hipersensitivitas, penekanan kekebalan dan reaksi alergi yang menjadikan efek samping antibiotik pada inang. Situasi ini mejadikan ilmuwan untuk mencari agen antimikroba baru dan efektif untuk menggantikan rejimen saat ini (Kumar, et al., 2010). Menurut ahli farmakologi, negara-negara maju sudah sering menggunakan obat tradisional, sekitar 1.400 tanaman herbal digunakan untuk obat tradisional.\u00a0 Beberapa tanaman yang mengandung senyawa aktif dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Tanaman yang digunakan untuk antimikroba disebabkan oleh senyawa yang disistensis dalam metabolisme sekunder. \u00a0Mempelajari sifat antimikroba nabati memberikan informasi tambahan dalam mengembangkan antibiotik alami dan menemukan alternatif obat antimikroba untuk pengobatan penyakit menular (Saad, Shahbudin et al., 2012).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Komponen fenolik termasuk bagian dari dari minyak esensial, serta dalam tanin. Minyak atsiri dari tanaman aromatik dan obat mendapat perhatian khusus sebagai agen alami yang potensial dalam pengawetan makanan karena efektivitasnya terhadap berbagai mikroorganisme. Staphylococcus aureus merupakan bakteri komensal dan patogen manusia. Penyebab utama bakteremia dan endokarditis infektif (IE) serta osteoartikular, kulit dan jaringan lunak, pleuropulmoner, dan infeksi terkait perangkat\u00a0 (Tong, et al., 2015).<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"37\">No<\/td>\n<td width=\"130\">Nama Tanaman<\/td>\n<td width=\"86\">Pelarut<\/td>\n<td width=\"90\">Bagian Tanaman<\/td>\n<td width=\"67\">KHTM (mg\/ml)<\/td>\n<td width=\"100\">Diameter hambat (mm)<\/td>\n<td width=\"91\">Refrensi<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">1<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Alpinia galangal<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Heksan<\/td>\n<td width=\"90\">Akar<\/td>\n<td width=\"67\">&lt;0,625<\/td>\n<td width=\"100\">34,1<\/td>\n<td width=\"91\">(Rao &amp; Ch, 2010)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">2<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Melia azedarach<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Etanol<\/td>\n<td width=\"90\">Biji<\/td>\n<td width=\"67\">&#8211;<\/td>\n<td width=\"100\">26<\/td>\n<td width=\"91\">(Sen &amp; Batra, 2012)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">3<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Sonneratia alba <\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Metanol<\/td>\n<td width=\"90\">Daun<\/td>\n<td width=\"67\">1,110<\/p>\n<p>&nbsp;<\/td>\n<td width=\"100\">12,5<\/p>\n<p>&nbsp;<\/td>\n<td width=\"91\">(Saad et al., 2012)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">4<\/td>\n<td width=\"130\"><em>L. pulcherrima<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Minyak Atsiri<\/td>\n<td width=\"90\">Daun<\/td>\n<td width=\"67\">3,9<\/td>\n<td width=\"100\">22.0 \u00b1 0,51<\/td>\n<td width=\"91\">(Joshi, Verma, &amp; Mathela, 2010)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">5<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Garcinia mangostana<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Etil Asetat<\/td>\n<td width=\"90\">Daun<\/td>\n<td width=\"67\">0,025<\/td>\n<td width=\"100\">12.9 \u00b1 0.7<\/td>\n<td width=\"91\">(Radji et al., 2011)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">6<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Calotropis gigantea<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Aqueous esxtract<\/td>\n<td width=\"90\">Daun<\/td>\n<td width=\"67\">50<\/td>\n<td width=\"100\">13,3 \u00b1 1,15<\/p>\n<p>&nbsp;<\/td>\n<td width=\"91\">(Kumar, Karthik, Venkata, &amp; Rao, 2010)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">7<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Mentha piperita L<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Minyak atsiri<\/td>\n<td width=\"90\">Daun<\/td>\n<td width=\"67\">0,5 \u00b1<br \/>\n0,03<\/td>\n<td width=\"100\">17,2 \u00b1 0,9<\/td>\n<td width=\"91\">(Singh, Shushni, &amp; Belkheir, 2011)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">8<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Theobroma cacao<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Etanol<\/td>\n<td width=\"90\">Kulit<\/td>\n<td width=\"67\">800<\/td>\n<td width=\"100\">10<\/td>\n<td width=\"91\">(Mulyatni, Budiani, &amp; Taniwiryono, 2012)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">9<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Acalypha indica<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">Etanol<\/td>\n<td width=\"90\">Daun<\/td>\n<td width=\"67\">20<\/td>\n<td width=\"100\">14,53<\/td>\n<td width=\"91\">(A. N. Alam, Bintari, &amp; Mubarok, 2017)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">10<\/td>\n<td width=\"130\"><em>Kappaphycus sp.<\/em><\/td>\n<td width=\"86\">n-heksan<\/td>\n<td width=\"90\">Rumput Laut<\/td>\n<td width=\"67\">0,25<\/td>\n<td width=\"100\">2<\/td>\n<td width=\"91\">(Mulyawati &amp; Eso, 2016)<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p style=\"text-align: justify\">Pembahasan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bakteri <em>Staphylococcus aureus<\/em> termasuk bakteri aptogen yang dapat mengakibatkan infeksi, seperti infektif endokarditism, bacteremia, infeksi kulit dan jaringan kulit, osteoarticular, dan juga infeksi pleuropulmonary. Bakteri <em>Staphylococcus aureus <\/em>berevolusi menjadi <em>Methycillin- Resistant Staphylococcus aureus <\/em>atau yang disebut dengan MRSA. <em>Methycillin-Resistant Staphylococcus aureus <\/em>memiliki strain yang disebut <em>Community-Associated Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (CA-MRSA) <\/em>yang dapat menyebabkan infeksi pada setiap individu yang sehat tanpa terdapat factor resiko yang dapat diprediksi.\u00a0 MRSA merupakan pathogen yang merugikan pada lingkungan masyarakat. Berdasrkan penelitian, diketahui <em>Staphylococcus aureus <\/em>memiliki resistensi terhadap antibiotic diantaranya yaitu penisilin, tetrasiklin, metisilin, dan vankomisin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Senyawa metabolit sekunder tanaman yang memiliki fungsi sebagai antibakteri yaitu alkaloid, flavonoid, steroid\/triterpenoid, fenolik, dan juga minyak atsiri. Besar kecilnya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">kandungan senyawa yang dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya yaitu pemilihan jenis pelarut yan digunakan. Hal ini dipengaruhi dari tingkat kepolaran pelarut dan senyawa yang diekstrak. Senyawa yang akan larut pada pelarut memiliki kepolaran yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pengujian antibakteri dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode difusi dan dilusi. Metode difusi terdiri dari lima metode yaitu metode disc diffusion, metode E-Test, Teknik Ditch plste, Teknik Cup-plate, dan Teknik Gradient-plate. Pada pengujian ini digunakan <em>metode <\/em><em>disc diffusion method<\/em> dan <em>agar well diffusion method<\/em>. Biasanya metode difusi digunakan untuk menguji efek obat kimia pada bakteri. Well diffusion digunakan untuk mengetahui ekstrak tumbuhan dalam hal penghambatan pertumbuhan bakteri <em>Staphylococcus aureus.<\/em> Metode dilusi yang digunakan diantaranya yaitu <em>broth microdilution method, serial dilution, dan broth microdilution method. <\/em>Hasil yang didapatkan berupa diameter zona inhibisi dan konsentrasi hambat tumbuh yang dapat disebutkan minimu inhibitory concentration (KHTM\/MIC). MIC yaitu konsentrasi minimum yang menghambat pertumbuhan bakteri uji. Zona bening yang terdapat disekitar zat antimikroba membuktikan kekuatan penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme yang ditandai adanya diameter zona hambat transparan. Setiap ekstrak tanaman dapat terjadi perbedaan KHTM , hal ini disebabkan ada variasi pada konstituen kimia dan sifat volatile dari konstituennya. Karakter hidrofobositas dari ekstrak tanaman dapat dihubungkan dengan efek antibakteri dari ekstrak tanaman, hal ini dapat bereaksi dengan protein dari membrane sel mikroba dan mitokondria yang sebagai mengganggu struktur dan mengubah permeabilitasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Peningkatan aktivitas antibakteri pada tanaman terdapat meningkatnya konsentrasi ekstrak, yang memberikan zona inhibisi yang lebih tinggi dalam plat yang mengandung ekstrak dengan factor pengenceran lebih rendah.Efektevitas dari suatu zat antibakteri dapat dikelompok sebagai berikut:<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"113\">Diameter Zona Terang (mm)<\/td>\n<td width=\"127\">Respond Hambat Pertumbuhan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"113\">&gt;20<\/td>\n<td width=\"127\">Kuat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"113\">16-20<\/td>\n<td width=\"127\">Sedang<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"113\">10-15<\/td>\n<td width=\"127\">Lemah<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"113\">&lt;10<\/td>\n<td width=\"127\">Tidak ada<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p style=\"text-align: justify\">(Greenwood, 1990).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Maka dapat diketahui ekstrak tanaman yang memiliki aktivitas kuat yaitu ekstrak dari Alpinia galangal, Melia azedarach, dan L. pulcherrima. Alpinia galangal memiliki aktivitas antimikroba yang kuat yang dapat dijadikan pengembangan obat-obatan alami karena seluruh bagian tumbuhannya dapat digunakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Senyawa yang dikandung Alpinia galangal yaitu fenilpropanoid, monoterpene, sesquiterpene dan minyak essensial yang dapat membantu dalam memeriksa resistensi antibiotik A. Melia azedarach mengandung senyawa etanol methanol, eter minyak bumi dan ekstrak cair yang dapat menghambat bakteri pathogen yang diuji sehingga menjadi antimikroba yang memiliki potensial sebagai pengembangan industri farmasi. Minyak dari L. pulcherrima memiliki nilai penghambat lipid peroksida yaitu IC50-0,74 mg\/ml yang menunjukan aktivitas antibakteri yang sedang hingga tinggi terhadap E.coli, S. enterica, P. multocida, Staphylococcus aureus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hasil dari beberapa jurnal dapat disimpulkan ekstrak tanaman mempunyai sifat antibakteri terhadap dan juga terdapat perbedaan kekuatan untuk menghambat pertumbuhan yang bergantung pada metabolit sekunder yang terdapat ekstrak tanaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Reference:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Alam, A. N., Bintari, S. H., &amp; \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Mubarok, I. 2017. Penentuan Konsentrasi Minimum \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ekstrak Daun Anting-Anting ( \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Acalypha indica L .). <em>Life \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Science.<\/em> Vol. 6(1): \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 34\u201339.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kumar G., Karthik L., and Bhaskar \u00a0 Rao. 2010. Antibacterial \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 activity of aqueous \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 extract of Calotropis gigantea \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 leaves An in vitro study. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <em>International \u00a0 Journal of \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pharmaceutical Sciences \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Review and Research.<\/em> \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Vol. \u00a0\u00a0\u00a0 4 No. 2.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">McChesney J. D., Dou J., Harrington \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 P. B. 2019. The Development \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 of Botanical \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Drugs A \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Review. <em>Pharmaceut Reg \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Affairs.<\/em> Vol. 8 No. 2.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mulyatni, A. S., Budiani, A., &amp; \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Taniwiryono, D. 2012. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Aktivitas antibakteri ekstrak \u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 kulit buah kakao (Theobroma \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 cacao L .) terhadap \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Escherichia coli , Bacillus \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 subtilis , dan Staphylococcus \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 aureus. <em>Menara Perkebunan<\/em>. Vol. 80(2): 77\u201384.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mulyawati, S. A., &amp; Eso, A. 2016. Uji \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Daya Hambat Fraksi Rumput \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Laut \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Merah Kappaphycus sp. terhadap \u00a0\u00a0\u00a0 Pertumbuhan \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Bakteri \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Staphylococcus \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 aureus. \u00a0<em>Jurmal Medula<\/em>. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Vol. 4: 303\u2013308.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Nimsha S. W., Nola C., Mark S. T., \u00a0 Gary \u00a0\u00a0 A. D. 2010. In vitro \u00a0\u00a0 antimicrobial \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 activity of less-\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 utilized spice \u00a0 and herb \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 extracts against \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 selected \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 foodborne bacteria. \u00a0\u00a0\u00a0 <em>Food \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Control.<\/em> Vol. 21: 1408\u20131414<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Radji, M., Sumiati, A., Rachmayani, R., &amp; \u00a0 Elya, B. 2011. Isolation \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 of fungal endophytes \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 from \u00a0\u00a0 Garcinia mangostana and \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 their \u00a0\u00a0\u00a0 antibacterial activity. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <em>African \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Journal of \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Biotechnology.<\/em> Vol. \u00a0\u00a0 10(1): 103\u2013 107.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Rao Kiranmayee, Ch. Bhuvaneswari, \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Lakshmi M., and Archana G. 2010. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Antibacterial Activity \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 of Alpinia \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 galanga (L) \u00a0\u00a0\u00a0 Willd \u00a0 Crude Extracts. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <em>Applied biochemistry and \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 biotechnology<\/em>. Vol. 162:871- 84.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saad S, Taher M, Susanti D, Qaralleh \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 H, Awang AF. 2012. In vitro \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 antimicrobial activity of \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 mangrove plant Sonneratia \u00a0\u00a0\u00a0 alba.\u00a0<em>Asian Pac J Trop \u00a0\u00a0 Biomed<\/em>. Vol. \u00a0 2(6):427\u2010429.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sen, A., &amp; Batra, A. 2012. Evaluation \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 of Antimicrobial Activity of \u00a0 Different Solvent Extracts of \u00a0\u00a0\u00a0 Medicinal Plant: Melia \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Azedarach L. <em>International \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Journal of Current \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pharmaceutical Research.<\/em>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Vol. 4(2).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Singh, R., Shushni, M. A. M., &amp; \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Belkheir, A. 2011. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Antibacterial \u00a0 and antioxidant \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 activities of Mentha. <em>Arabian <\/em>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <em>Journal of Chemistry<\/em>. Vol \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 8(3).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Joshi, S. C., Verma, A. R., &amp; Mathela, \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 C. S. 2010. Antioxidant and \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 antibacterial \u00a0\u00a0 activities of the \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 leaf essential oils of \u00a0\u00a0 Himalayan \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Lauraceae \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 species. <em>Food and Chemical \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Toxicology<\/em>.Vol. 48(1): 37\u2013 40.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tong S. Y. C., Davis J. S., \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Eichenberger \u00a0 E., Holland T. L., Fowler V.G. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 2015. \u00a0 Staphylococcus aureus \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 infections: epidemiology, \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 pathophysiology, clinical \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 manifestations, and\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 management. <em>Clin Microbiol Rev.<\/em> \u00a0\u00a0\u00a0 Volume 28 No. 3.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Weerakkody, N. S., Caffin, N., \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Turner, M. S., &amp; Dykes, G. A. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 2010. In vitro \u00a0\u00a0 antimicrobial activity of less-utilized spice and \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 herb extracts against \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 selected food borne \u00a0\u00a0\u00a0 bacteria.<em>Food Control<\/em>. Vol. \u00a0 21(10):1408\u2013\u00a0 1414.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dahulu tumbuhan sering dimanfaatkan sebagai sumber obat. Secara adat tradisional, sistem pengobatan tradisional menggunakan produk tanaman untuk berbagai penyakit menular. Tanaman sedang di teliti lebih dalam secara ekstensif untuk menyimpan sifat obat. Tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat memiliki sifat antimikroba, antikanker, antiinflamasi, antidiabetik, hemolitik, antioksidan, sifat larvasidal Nimsha et al., 2010). Menurut Organisasi Kesehatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":4562,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-4560","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4560","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4560"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4560\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4565,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4560\/revisions\/4565"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4562"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4560"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4560"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4560"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}