{"id":11998,"date":"2026-09-30T14:04:07","date_gmt":"2026-09-30T07:04:07","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/?p=11998"},"modified":"2026-10-18T14:05:47","modified_gmt":"2026-10-18T07:05:47","slug":"hutan-terbakar-kita-yang-sesak-mengapa-isu-ini-seharusnya-bikin-kita-marah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/2026\/09\/hutan-terbakar-kita-yang-sesak-mengapa-isu-ini-seharusnya-bikin-kita-marah\/","title":{"rendered":"Hutan Terbakar, Kita yang Sesak: Mengapa Isu Ini Seharusnya Bikin Kita Marah?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2026\/10\/Kelompok-4_Foto-artikel.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-11999 aligncenter\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2026\/10\/Kelompok-4_Foto-artikel.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Sumber:<\/strong> <a href=\"https:\/\/www.kbknews.id\/karhutla-kalsel-capai-348-hektare-bnpb-hadapi-kendala-akses-dan-minim-awan-hujan\/\">https:\/\/www.kbknews.id\/karhutla-kalsel-capai-348-hektare-bnpb-hadapi-kendala-akses-dan-minim-awan-hujan\/<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Karhutla adalah singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, yaitu peristiwa terbakarnya kawasan hutan maupun lahan yang dapat dipicu oleh kondisi alam ataupun aktivitas manusia. Karhutla sering terjadi saat musim kemarau, ketika kondisi lahan menjadi kering dan mudah terbakar. Pembukaan lahan dengan cara membakar juga menjadi salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian. Fenomena ini bukan hal baru di Indonesia, terutama di wilayah Kalimantan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Data luas lahan yang terbakar perlu dilihat berdasarkan wilayah dan periode pelaporan yang jelas. Angka yang tinggi tidak hanya menunjukkan luasnya kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi peringatan akan risiko yang dihadapi masyarakat. Cuaca panas, kemarau berkepanjangan, lahan kering, dan angin kencang dapat meningkatkan risiko serta mempercepat penyebaran api. Di sisi lain, aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan secara sengaja atau kelalaian yang memicu kebakaran, juga dapat memperburuk keadaan. Karena itu, penyebab setiap kejadian karhutla perlu ditelusuri berdasarkan kondisi setempat dan hasil penyelidikan. Pertanyaannya, apakah kita akan terus menganggap karhutla sebagai kejadian musiman tanpa berusaha mencegahnya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap yang mengandung campuran gas, partikel halus, dan berbagai senyawa lain. Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah partikel halus PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Komposisi asap bergantung pada bahan yang terbakar dan kondisi kebakaran. Asap dapat mengandung karbon monoksida serta berbagai zat lain yang berbahaya bagi kesehatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Paparan asap karhutla dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan. Dampaknya dapat berupa iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta peningkatan risiko gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Paparan partikel halus juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Partikel tersebut dapat mencapai bagian terdalam paru-paru, memicu peradangan, dan memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, tingkat risiko yang dialami setiap orang bergantung pada kadar polutan, lamanya paparan, dan kondisi kesehatannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain gangguan pernapasan, asap dan partikel abu dapat menyebabkan mata merah, perih, dan iritasi kulit. Karbon monoksida juga berbahaya karena dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen. Paparan dalam kadar tinggi dapat menimbulkan gejala seperti sakit kepala, pusing, mual, dan lemas, bahkan mengancam nyawa. Oleh karena itu, dampak karhutla tidak boleh dianggap sepele. Data kasus gangguan kesehatan selama kebakaran perlu diperiksa berdasarkan periode, wilayah, dan laporan resmi agar masyarakat memperoleh gambaran yang akurat mengenai besarnya dampak tersebut.<\/p>\n<h2><\/h2>\n<h2>Kenapa Ini Bukan Sekadar Masalah Lingkungan?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Karhutla sering kali dipandang hanya sebagai permasalahan lingkungan karena menyebabkan kerusakan hutan dan lahan. Namun, dampaknya tidak berhenti sampai di situ. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan yang dilaporkan mencapai 348 hektare menunjukkan bahwa kejadian ini juga dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Asap yang dihasilkan dapat menyebar ke wilayah sekitar dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Angka luas kebakaran tersebut tetap perlu dibaca sesuai tanggal dan cakupan laporan sumber agar tidak disalahartikan sebagai angka kumulatif untuk periode yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Masyarakat dapat mengalami kesulitan dalam menjalankan kegiatan seperti sekolah, bekerja, maupun beraktivitas di luar rumah. Sekolah mungkin perlu menyesuaikan kegiatan belajar ketika kualitas udara memburuk, sementara pekerja yang mengandalkan aktivitas di luar ruangan dapat kehilangan waktu kerja dan pendapatan. Di sisi lain, keluarga juga mungkin harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli masker yang sesuai, memenuhi kebutuhan kesehatan, atau mendapatkan pengobatan ketika mengalami gangguan akibat asap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dampak karhutla juga memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi kondisi tersebut. Tidak semua masyarakat dapat dengan mudah menghindari paparan asap atau menghentikan aktivitasnya. Pekerja harian, warga yang tinggal dekat lokasi kebakaran, anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu dapat menghadapi risiko yang lebih besar. Oleh karena itu, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan hak manusia untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan kehidupan yang layak.<\/p>\n<h2><\/h2>\n<h2>Masa Mau Sesak Dulu Baru Bertindak?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Setelah memahami dampak karhutla, kita perlu mengubah rasa khawatir menjadi tindakan nyata. Karhutla tidak mengenal batas wilayah administratif. Asap dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran dan bahkan melintasi batas negara ketika kondisi angin mendukung. Artinya, persoalan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab orang yang tinggal dekat hutan, tetapi juga membutuhkan perhatian pemerintah, masyarakat, dan komunitas. Menghadapi karhutla bukan cuma soal siapa yang memadamkan api, melainkan juga bagaimana kita mencegah kebakaran, mengurangi paparan asap, dan memastikan tidak ada orang yang harus menunggu sesak untuk mulai peduli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pemerintah memiliki peran penting sebagai pembuat kebijakan dan koordinator penanganan karhutla. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">Memperkuat pengawasan di wilayah rawan kebakaran, terutama saat musim kemarau.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Menggunakan sistem pemantauan dan peringatan dini agar titik api dapat segera diperiksa dan ditangani.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Menegakkan aturan terhadap pembakaran lahan secara sengaja dan melakukan penyelidikan terhadap penyebab kebakaran.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Meningkatkan kesiapan petugas, peralatan pemadaman, dan akses menuju wilayah yang sulit dijangkau.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Menyediakan informasi kualitas udara serta panduan kesehatan yang mudah dipahami masyarakat selama karhutla berlangsung.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Masyarakat juga memiliki peran dalam mencegah kebakaran dan melindungi satu sama lain. Langkah yang dapat dilakukan antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">Tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi lingkungan kering.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Segera melaporkan titik api atau aktivitas pembakaran yang mencurigakan kepada petugas berwenang, tanpa mendekati lokasi yang berbahaya.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Memantau informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika polusi asap meningkat.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Membantu anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki gangguan kesehatan agar dapat mengurangi paparan asap.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Mengikuti anjuran petugas kesehatan dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus ketika diperlukan. Masker tidak melindungi dari semua gas berbahaya, sehingga menghindari asap tetap menjadi langkah utama.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Komunitas juga dapat membantu meningkatkan kesadaran sejak dini melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">Memberikan edukasi tentang bahaya karhutla, penyebab kebakaran, dan cara menghadapi paparan asap melalui kegiatan sekolah, kampus, atau lingkungan warga.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Menyebarkan informasi dari sumber tepercaya mengenai titik api, kualitas udara, dan panduan keselamatan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang belum terbukti.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Mengadakan kampanye pencegahan karhutla dan mengajak warga melaporkan kebakaran secara aman kepada pihak berwenang.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Mengoordinasikan bantuan bagi warga terdampak, termasuk kelompok rentan yang membutuhkan dukungan untuk memperoleh kebutuhan kesehatan dan akses ke tempat yang lebih aman.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Karhutla bukan sekadar cerita tentang hutan yang kehilangan pohon-pohonnya. Di baliknya, ada masyarakat yang menghadapi risiko gangguan kesehatan, kehilangan pendapatan ketika aktivitas terhenti, dan kesulitan mendapatkan udara bersih. Dampak tersebut dapat dirasakan lebih berat oleh mereka yang memiliki pilihan terbatas untuk menghindari asap. Ini bukan hanya soal siapa yang membakar lahan, tetapi juga soal seberapa serius kita mencegah kebakaran dan melindungi orang-orang yang terdampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pemerintah, masyarakat, dan komunitas memiliki peran masing-masing. Pengawasan yang kuat, penegakan aturan, penyebaran informasi yang akurat, dan kepedulian terhadap kelompok rentan dapat membantu mengurangi risiko karhutla. Semua langkah tersebut akan lebih berarti jika dilakukan sebelum kebakaran meluas, bukan setelah asap memenuhi udara. Jadi, jangan tunggu asap datang untuk mulai peduli. Mulai dari langkah kecil, mulai dari hari ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">Rizki, Ari. (2026). <em>Apa itu Karhutla.<\/em> <a href=\"https:\/\/bpbd.acehbaratkab.go.id\/berita\/kategori\/berita\/apa-itu-karhutla\">https:\/\/bpbd.acehbaratkab.go.id\/berita\/kategori\/berita\/apa-itu-karhutla<\/a><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Wirawan, Nadhifa Aurellia. (2026). <em>Kenapa di Kalimantan Sering Terjadi Karhutla? Cek 3 Alasannya.<\/em> <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/kalimantan\/berita\/d-8582057\/kenapa-di-kalimantan-sering-terjadi-karhutla-cek-3-alasannya\">https:\/\/www.detik.com\/kalimantan\/berita\/d-8582057\/kenapa-di-kalimantan-sering-terjadi-karhutla-cek-3-alasannya<\/a><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Setiaji, B. (2026, September 6). <em>Karhutla di Indonesia: Saat asap datang, kita siap.<\/em> Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. <a href=\"https:\/\/www.badankebijakan.kemkes.go.id\/karhutla-di-indonesia-saat-asap-datang-kita-siap\/\">https:\/\/www.badankebijakan.kemkes.go.id\/karhutla-di-indonesia-saat-asap-datang-kita-siap\/<\/a><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">World Health Organization. (2023, June 16). <em>Public health advice during the wildfires: How to protect your health and keep safe.<\/em> WHO Regional Office for Europe. <a href=\"https:\/\/www.who.int\/europe\/news-room\/questions-and-answers\/item\/public-health-advice-during-the-wildfires--how-to-protect-your-health-and-keep-safe\">https:\/\/www.who.int\/europe\/news-room\/questions-and-answers\/item\/public-health-advice-during-the-wildfires&#8211;how-to-protect-your-health-and-keep-safe<\/a><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">World Health Organization. (2026, July 31). <em>Wildfires.<\/em> World Health Organization. <a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/wildfires-and-health\">https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/wildfires-and-health<\/a><\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber: https:\/\/www.kbknews.id\/karhutla-kalsel-capai-348-hektare-bnpb-hadapi-kendala-akses-dan-minim-awan-hujan\/ Karhutla adalah singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, yaitu peristiwa terbakarnya kawasan hutan maupun lahan yang dapat dipicu oleh kondisi alam ataupun aktivitas manusia. Karhutla sering terjadi saat musim kemarau, ketika kondisi lahan menjadi kering dan mudah terbakar. Pembukaan lahan dengan cara membakar juga menjadi salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian. Fenomena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":11999,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-11998","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11998","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11998"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11998\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12000,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11998\/revisions\/12000"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11999"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11998"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11998"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11998"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}