    {"id":10682,"date":"2026-03-27T09:48:10","date_gmt":"2026-03-27T02:48:10","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/?p=10682"},"modified":"2026-03-30T09:50:02","modified_gmt":"2026-03-30T02:50:02","slug":"fenomena-pelari-kalcer-antara-kesadaran-kesehatan-dan-tren-sosial-media","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/2026\/03\/fenomena-pelari-kalcer-antara-kesadaran-kesehatan-dan-tren-sosial-media\/","title":{"rendered":"Fenomena &#8220;Pelari Kalcer&#8221; : Antara Kesadaran Kesehatan dan Tren Sosial Media"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2026\/03\/foto-artikel.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-10683\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-content\/uploads\/sites\/41\/2026\/03\/foto-artikel.jpg\" alt=\"\" width=\"1776\" height=\"1180\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><b>Sumber: <\/b><a href=\"https:\/\/www.istockphoto.com\/id\/foto\/satu-orang-memimpin-maraton-gm1457686878-492428900?utm_source=pexels&amp;utm_medium=affiliate&amp;utm_campaign=sponsored_photo&amp;utm_content=srp_inline_portrait_media&amp;utm_term=running\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.istockphoto.com\/id\/foto\/satu-orang-memimpin-maraton-gm1457686878-492428900?utm_source=pexels&amp;utm_medium=affiliate&amp;utm_campaign=sponsored_photo&amp;utm_content=srp_inline_portrait_media&amp;utm_term=running<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Belakangan ini lagi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">viral<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> istilah \u201cPelari Kalcer\u201d di semua platform media sosial, fenomena ini muncul dan naik ketika banyak orang mulai menyukai olahraga lari terutama di kalangan Gen Z dan Milenial. Namun, apa arti pelari kalcer? Singkatnya, pelari kalcer adalah sebuah fenomena dimana pelari tidak hanya fokus pada performa tetapi juga sangat memperhatikan gaya outfit <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">sporty<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">stylish<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, sepatu lari kekinian hingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartwatch<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang digunakan saat berlari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Ngumpul, Lari, Ngonten: Fenomena Baru Anak Kota<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Menurut Asosiasi Lari Indonesia, partisipasi event lari naik 30% pada 2025, dengan komunitas lari melonjak 83% berdasarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Strava Global Report<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Komunitas seperti<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> Jakarta Running Club<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bali Runners<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> jadi wadah pelari kalcer, menggabungkan olahraga dengan social bonding.<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> Fenomena ini menunjukkan bahwa lari bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup masyarakat perkotaan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">urban<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) dimana juga menjadi ajang pencitraan digital, hal inilah yang banyak diikuti oleh para pelari khususnya bagi pemula. Lari bersama komunitas, ikut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fun run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> charity run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, hingga penggunaan perlengkapan bermerek mencerminkan solidaritas, kemodernan, dan kepedulian sosial.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Lari jadi <\/b><b><i>Go-To Sport<\/i><\/b><b> Gen Z?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Fenomena ini juga tidak lepas dari meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Di tengah rutinitas yang padat, lari jadi salah satu pilihan yang paling mudah dilakukan karena simple dan bisa dilakukan di mana saja. Selain itu lari juga memiliki berbagai manfaat, seperti membantu menjaga kebugaran tubuh dan mengurangi stres setelah beraktivitas. Dari segi biaya, lari juga tergolong lebih terjangkau dibandingkan olahraga lain, seperti gym atau padel yang membutuhkan biaya rutin. Cukup dengan perlengkapan sederhana, seseorang sudah bisa mulai berlari. Hal ini membuat lari semakin diminati oleh anak muda karena lebih fleksibel dan tidak membebani secara finansial. Selain itu, tren \u201cpelari kalcer\u201d yang berkembang di media sosial juga ikut mendorong minat Gen Z terhadap olahraga ini. Fenomena ini menunjukkan bahwa lari bukan sekedar aktivitas fisik, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sehat sekaligus sarana ekspresi diri kalangan anak muda.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Strava-an, Outfit-an, Konten-an<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Saat ini sosial media dibanjiri oleh tren olahraga dimana yang kita pasti sering lihat seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">screenshot<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">stats<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dari aplikasi lari Strava, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">vlog<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> main padel, hingga berlomba-lomba untuk \u201cadu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">outfit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u201d olahraga yang keren. Apakah ini adalah tren sesaat atau pergerakan lifestyle? Hal ini pun dikonfirmasi oleh beberapa pandangan akademis yang menunjukkan bahwa meskipun tren ini awalnya dipicu oleh fenomena FOMO (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fear of missing out<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">), justru ada sisi positif yang muncul, terutama meningkatnya kesadaran generasi muda untuk hidup lebih sehat dan aktif. Di sisi lain, banyak orang yang memaksakan dirinya berlebih akibat sosial media sehingga menimbulkan cedera serius dan banyak yang menjadikan olahraga sebagai ajang untuk mencari validasi sosial. Hal ini pun juga didukung oleh sumber lain dimana tren olahraga marak didominasi oleh gen milenial dan Z yang bermula dari isu<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> quarter life-crisis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan ingin memamerkan pencapaiannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Dari Tren Menjadi Kebiasaan, Pasti Bisa!<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mengikuti tren lari dari media sosial itu tidak masalah, malah bisa menjadi langkah awal dan memunculkan semangat untuk mulai hidup lebih sehat. Namun, \u201cmotivasi\u201d yang hanya didorong oleh keinginan untuk mengikuti tren tetap dapat menimbulkan masalah, jangan hanya semangat di awal karena FOMO, dan berhenti melanjutkan olahraga di saat tren sudah redup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Agar tidak hanya \u201cikut-ikutan\u201d, ingat 5 poin penting ini:<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Anggap saja tren ini sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">starting point.<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Buat rutinitas lari yang konsisten dan bikin semangat meskipun simpel saja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Fokus dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">progress <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">diri sendiri, jangan membandingkan karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">pace<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> setiap orang berbeda.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Jadikan media sosial tempat mencari<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> insight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, bukan validasi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Semua ini tentang mindset yang diterapkan.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Fenomena \u201cPelari Kalcer\u201d menunjukkan bagaimana olahraga lari telah berkembang dari sekadar aktivitas fisik menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas sosial, terutama di kalangan anak muda. Di satu sisi, tren ini membawa dampak positif karena meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan mendorong lebih banyak orang untuk aktif bergerak. Namun, manfaat tersebut akan terasa optimal jika dijalani dengan bijak, tidak semata demi validasi sosial atau mengikuti arus. Harapannya, tren kesehatan ke depan dapat terus berkembang ke arah yang lebih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mindful<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, berkelanjutan, dan berfokus pada kesejahteraan diri, sehingga masyarakat semakin selektif dalam memilih tren yang benar-benar bermanfaat.<\/span><\/p>\n<p><b>Referensi<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Eraspace. (2025). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Lagi hits fenomena pelari kalcer, ini penjelasan lengkapnya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><a href=\"https:\/\/eraspace.com\/artikel\/post\/lagi-hits-fenomena-pelari-kalcer-ini-penjelasan-lengkapnya\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/eraspace.com\/artikel\/post\/lagi-hits-fenomena-pelari-kalcer-ini-penjelasan-lengkapnya<\/span><\/a><\/li>\n<li>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. (2025). <i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">FISIP statement: Memandang tren olahraga di kalangan Gen Z &amp; milenial sebagai fenomena FOMO positivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><a style=\"font-size: 14px\" href=\"https:\/\/fisip.unair.ac.id\/fisip-statement-memandang-tren-olahraga-di-kalangan-gen-z-milenial-sebagai-fenomena-fomo-positivity\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/fisip.unair.ac.id\/fisip-statement-memandang-tren-olahraga-di-kalangan-gen-z-milenial-sebagai-fenomena-fomo-positivity<\/span><\/a><\/li>\n<li>Galeri Medika. (n.d.). <i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">Lari demi like: Pelari kalcer dari FOMO Strava hingga gaya hidup sehat yang viral<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><a style=\"font-size: 14px\" href=\"https:\/\/www.galerimedika.com\/blog\/lari-demi-like-pelari-kalcer-dari-fomo-strava-hingga-gaya-hidup-sehat-yang-viral\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.galerimedika.com\/blog\/lari-demi-like-pelari-kalcer-dari-fomo-strava-hingga-gaya-hidup-sehat-yang-viral<\/span><\/a><\/li>\n<li>Manurung, A. Y., Saragih, H. W., Hutajulu, I. R., Siregar, I. M. Y., &amp; Rafi, M. (2025). <i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">Pelari kalcer: Antara identitas, eksistensi, dan gaya hidup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">JIMU: Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 4<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(1), 693\u2013702.<\/span><a style=\"font-size: 14px\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.70294\/jimu.v4i01.1365\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.70294\/jimu.v4i01.1365<\/span><\/a><\/li>\n<li>Nusavoxmedia. (2025, June 5). <i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">Pelari kalcer: Tren FOMO atau gaya hidup sehat Gen Z di 2025?<\/span><\/i><a style=\"font-size: 14px\" href=\"https:\/\/nusavoxmedia.id\/olahraga\/pelari-kalcer-tren-fomo-atau-gaya-hidup-sehat-gen-z-di-2025\/\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/nusavoxmedia.id\/olahraga\/pelari-kalcer-tren-fomo-atau-gaya-hidup-sehat-gen-z-di-2025\/<\/span><\/a><\/li>\n<li>Raihanna, A. K., Fitri, M., &amp; Paramitha, S. T. (2023). <i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">Fitfluence: Menginvestigasi pengaruh influencers kebugaran dalam meningkatkan kebiasaan berolahraga pada generasi Z<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">Jurnal Kejaora (Kesehatan Jasmani dan Olah Raga), 8<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(2), 189\u2013198.<\/span><a style=\"font-size: 14px\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.36526\/kejaora.v8i2.3102\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.36526\/kejaora.v8i2.3102<\/span><\/a><\/li>\n<li>Universitas Muhammadiyah Surakarta. (2026). <i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">Tren olahraga di media sosial: Antara FOMO dan investasi kesehatan jangka panjang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><a style=\"font-size: 14px\" href=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/03\/2026\/tren-olahraga-di-media-sosial-antara-fomo-dan-investasi-kesehatan-jangka-panjang?utm_source=chatgpt.com\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/03\/2026\/tren-olahraga-di-media-sosial-antara-fomo-dan-investasi-kesehatan-jangka-panjang<\/span><\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber: https:\/\/www.istockphoto.com\/id\/foto\/satu-orang-memimpin-maraton-gm1457686878-492428900?utm_source=pexels&amp;utm_medium=affiliate&amp;utm_campaign=sponsored_photo&amp;utm_content=srp_inline_portrait_media&amp;utm_term=running\u00a0 Belakangan ini lagi viral istilah \u201cPelari Kalcer\u201d di semua platform media sosial, fenomena ini muncul dan naik ketika banyak orang mulai menyukai olahraga lari terutama di kalangan Gen Z dan Milenial. Namun, apa arti pelari kalcer? Singkatnya, pelari kalcer adalah sebuah fenomena dimana pelari tidak hanya fokus pada performa tetapi juga sangat memperhatikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":10683,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-10682","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10682"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10682\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10684,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10682\/revisions\/10684"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10683"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/tfi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}