    {"id":3433,"date":"2022-08-05T10:45:41","date_gmt":"2022-08-05T03:45:41","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/?p=3433"},"modified":"2022-08-11T15:17:14","modified_gmt":"2022-08-11T08:17:14","slug":"noh-seni-teater-tertua-di-jepang-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/2022\/08\/noh-seni-teater-tertua-di-jepang-2\/","title":{"rendered":"Noh: Seni Teater Tertua di Jepang (2)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Masih ingat dengan Teater Noh yang sudah pernah kita bahas sebelumnya? Sekarang Minis mau kasih tau lebih detail nih tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> itu sendiri. Yuk kita simak!<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3440\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture1.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"401\" \/><\/a><em><span style=\"font-weight: 400\"> Pemain Noh (sc: Aleksandar Bondikov\/Flickr)<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Cerita-cerita yang dibawakan dalam teater <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">pada umumnya menceritakan tentang kaum kelas atas pada masa itu, tetapi juga disisipi dengan beberapa pesan moral. Tidak jarang juga ceritanya diadaptasi dari legenda setempat, unsur supranatural, cerita sejarah, sastra, dan cerita rakyat yang ada pada zaman itu sendiri. Gerakan-gerakan tarian pada teater <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> benar-benar teratur sesuai dengan lagunya, gerakannya pelan nan indah, menggunakan kata-kata yang puitis,\u00a0 serta memiliki desain pakaian yang elit dan berlapis-lapis yang menunjukkan keanggunan dan kemewahan. Berikut adalah unsur-unsur penting dalam teater <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Roles <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\/ Peran<\/span><br \/>\n<a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3435\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture3.png\" alt=\"\" width=\"585\" height=\"380\" \/><\/a><br \/>\n<span style=\"font-weight: 400\">a. Pemain utama pada teater <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">shite <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(\u30b7\u30c6) akan memainkan perannya di tengah panggung. Ia mengenakan topeng yang akan selalu diganti-ganti sesuai dengan perannya diatas panggung. Ada beberapa karakter yang ada di dalam teater kuno ini, diantaranya adalah:<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; Dewa \/ Kami (\u795e),<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; Prajurit \/ Shuramono (\u4fee\u7f85\u7269),<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; Karakter wanita \/ Kazuramono (\u9b18\u7269),<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; Wanita yang menjadi gila karena ditinggal orang yang dicintainya \/ Kyoujomono (\u72c2\u5973\u7269),<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; Iblis \/ Kiri (\u5207).<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">b. Kemudian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">tsure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"> (\u30c4\u30ec), atau pengikut tokoh utama adalah karakter pembantu yang dapat terdiri dari satu orang atau lebih.<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-weight: 400\">c. Pemain selanjutnya yang disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waki<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u30ef\u30ad). Umumnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waki<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memerankan biksu atau samurai dan tidak mengenakan topeng. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Waki<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> pun memiliki pengikut yang disebut dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waki-tsure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"> (\u30ef\u30ad\u30c4\u30ec). Waki berada di panggung sebelah kanan.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">d. Pemeran utama juga memiliki asisten \/ <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">kouken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u5f8c\u898b) yang akan duduk di dekat para pemain musik. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Kouken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> akan mengenakan pakaian serba hitam, serupa dengan teater masa kini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Kouken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"> juga membantu aktor diatas panggung, misalnya dengan memberikan properti untuk membangun jalan cerita dari karakter utama.<\/span><\/span><span style=\"font-weight: 400\">e. Para pemain musik adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hayashi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"> yaitu para musisi yang terdiri dari empat orang. Mengiringi pertunjukan dengan suling, gendang bahu, gendang pinggul, dan gendang tongkat.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p>f. <span style=\"font-weight: 400\">Yang terakhir adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">jiutai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u5730\u8b21) <\/span><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">atau tim paduan suara. Jiutai duduk di sebelah kiri panggung dan membantu pemeran utama dalam narasi cerita.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0 \u00a0 2. Masks <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">\/ Topeng<\/span><\/span><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture4.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3436\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture4.png\" alt=\"\" width=\"580\" height=\"381\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, salah satu unsur terpenting dalam teater kuno ini adalah Topeng. Topeng berfungsi memberi tahu penonton karakter seperti apa yang sedang digambarkan. Topeng sering digunakan mewakili setan, roh, wanita, dan pria dari berbagai usia. Topeng diukir dari balok cemara Jepang dengan sifat tiga dimensi dan dari topeng tersebut memungkinkan aktor terampil untuk menginduksi berbagai ekspresi dengan perubahan orientasi kepala.<\/span><\/p>\n<p>\u00a0 \u00a0 3. Kostum dan Properti<a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture5.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3437\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture5.png\" alt=\"\" width=\"595\" height=\"396\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kostum dari teater <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sendiri terdiri dari beberapa lapisan dan tekstur yang tidak hanya menciptakan efek keanggunan yang megah tetapi juga sosok yang besar. Nah, untuk properti sendiri dapat dibantu dengan beberapa alat peraga seperti kipas lipat untuk meningkatkan ekspresivitas baik tertutup, sebagian tertutup, atau terbuka. Kipas juga dapat mewakili objek apapun yang diinginkan oleh aktor atau sutradara, misalnya belati atau lentera.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 14px;font-weight: 400\">\u00a0 \u00a04. Kyougen<\/span><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture7.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3438\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture7.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"339\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kyogen adalah sebuah pentas kecil mengenai potongan komik yang dilakukan pada interval antara pertunjukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> satu dan lainnya. Kyogen bersifat komedi dengan menggunakan sindiran dan lelucon jenaka dan sering dibawakan dengan bahasa yang berirama dan terkadang tindakan yang dilebih-lebihkan untuk mengundang gelak tawa penonton. Kebanyakan potongan Kyuogen berlangsung selama sekitar 15-20 menit dan melibatkan dua atau tiga aktor. Plot biasanya tentang cerita kehidupan sehari-hari, seperti pria yang mengungkapkan keinginan mereka untuk mencari istri atau petani yang berdoa untuk keberuntungan.<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"5\">\n<li><i><span style=\"font-weight: 400\">Stage <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\/ Panggung<\/span><span style=\"font-weight: 400\"><br \/>\n<a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture8.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3439\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2022\/08\/Picture8.png\" alt=\"\" width=\"579\" height=\"281\" \/><\/a><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Denah Auditorium <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><span style=\"font-weight: 400\">, bisa disebut <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Kensho <\/span><span style=\"font-weight: 400\">atau <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Kenjo<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><\/em><em><span style=\"font-weight: 400\">(Sumber: the Noh)<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Auditorium untuk memainkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Kenjo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u898b\u6240). Adapun panggung\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">butai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u821e\u53f0) berdiri berhadapan dengan penonton. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Butai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> akan memiliki atap sendiri sehingga terlihat seperti pendopo di dalam rumah. Adanya atap di panggung ini dikarenakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> pada zaman dahulu sering dibawakan di luar ruangan, dan tetap dipertahankan\u00a0 untuk tetap sampai saat ini. Di sisi kanan panggung, terdapat sebuah tempat untuk tim paduan suara\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">jiutai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u5730\u8b21) yang luasnya sekitar tiga kaki. Di dinding belakang yang disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">kagami-ita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u93e1\u677f), terdapat lukisan pohon cemara. Sedangkan di sisi kiri, terdapat koridor sepanjang 53 kaki yang terdapat pagar yang mengarahkan pada belakang panggung. Ini adalah jalur yang biasa digunakan oleh para aktor dan pemusik. Sisi kiri koridor ini disebut jembatan \/ <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hashi-gakari<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u6a4b\u639b\u304b\u308a). Terkadang bagian ini digunakan sebagai bagian dari panggung. Di ujungnya terdapat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">atoza<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (\u5f8c\u5ea7). Ukurannya kurang lebih separuh dari panggung. Atoza biasa digunakan oleh para pemusik\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hayashi-kata <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(\u56c3\u5b50\u65b9) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">kouken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berikut adalah video tentang pementasan teater Noh yang ada di Kyoto.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/youtu.be\/88v-HYGAKMQ\"><span style=\"font-weight: 400\" data-rich-links=\"{&quot;fple-t&quot;:&quot;Kyoto Event: Takigi Noh at Heian Shrine 2017 [4K]&quot;,&quot;fple-u&quot;:&quot;https:\/\/youtu.be\/88v-HYGAKMQ&quot;,&quot;fple-mt&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;first-party-link&quot;}\">Kyoto Event: Takigi Noh at Heian Shrine 2017 [4K]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bagaimana Manis? Ternyata teater kuno <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Noh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ini unik dan menarik ya!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sumber:<br \/>\n<\/span><a href=\"https:\/\/www.the-noh.com\/en\/world\/stage.html\"><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; https:\/\/www.the-noh.com\/en\/world\/stage.html<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/www.fun-japan.jp\/id\/articles\/11028\"><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; https:\/\/www.fun-japan.jp\/id\/articles\/11028<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/www.tsubomihouse.com\/post\/noh-teater-musikal-jepang-tertua\"><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; https:\/\/www.tsubomihouse.com\/post\/noh-teater-musikal-jepang-tertua<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"http:\/\/himade.fib.unpad.ac.id\/2019\/04\/29\/mengenal-noh-seni-teater-paling-tua-dari-jepang\/\"><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; http:\/\/himade.fib.unpad.ac.id\/2019\/04\/29\/mengenal-noh-seni-teater-paling-tua-dari-jepang\/<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/www.japan-zone.com\/culture\/noh.shtml\"><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; https:\/\/www.japan-zone.com\/culture\/noh.shtml<\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/www.japan-guide.com\/e\/e2091.html\"><span style=\"font-weight: 400\">&#8211; https:\/\/www.japan-guide.com\/e\/e2091.html<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masih ingat dengan Teater Noh yang sudah pernah kita bahas sebelumnya? Sekarang Minis mau kasih tau lebih detail nih tentang Noh itu sendiri. Yuk kita simak! Pemain Noh (sc: Aleksandar Bondikov\/Flickr) Cerita-cerita yang dibawakan dalam teater Noh pada umumnya menceritakan tentang kaum kelas atas pada masa itu, tetapi juga disisipi dengan beberapa pesan moral. Tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":65,"featured_media":3434,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3433","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/users\/65"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3433"}],"version-history":[{"count":15,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3433\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3579,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3433\/revisions\/3579"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}