    {"id":1681,"date":"2019-02-07T23:21:15","date_gmt":"2019-02-07T16:21:15","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/?p=1681"},"modified":"2019-07-31T23:55:43","modified_gmt":"2019-07-31T16:55:43","slug":"movie-review-blade-runner-2049","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/2019\/02\/movie-review-blade-runner-2049\/","title":{"rendered":"Movie Review: BLADE RUNNER 2049"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-135.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1684\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-135-640x263.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"263\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-135-640x263.jpg 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-135-768x316.jpg 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-135.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Sutradara: Denis Villeneuve<\/p>\n<p>Penulis: Hampton Fancher, Michael Green<\/p>\n<p>Pemain: Ryan Gosling, Ana de Armas, Harrison Ford, Sylvia Hoeks, Jared Leto, Robin Wright<\/p>\n<p>Rating: Dewasa (<em>Restricted<\/em>)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: left\"><strong>\u201c<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong><em>REPLICANTS<\/em><\/strong><em> are bioengineered human, designed by Tyrell Corporation for use off-world. Their enhanced strength made them ideal slave labor<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>After a series of violent rebellions, their manufacture became prohibited and Tyrell Corp went bankrupt<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>The collapse of ecosystems in the mid 2020s led to the rise of industrialist Niander Wallace, whose mastery of synthetic farming averted famine<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Wallace acquired the remains of Tyrell Corp and created a new line of Replicants who obey<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Many older model Replicants \u2013 Nexus 8s with open-ended lifespans \u2013 survived<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Those that hunt them still goes by the name\u2026<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong><em>BLADE RUNNER<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><strong>\u00ad\u00ad\u00ad\u00ad\u00ad\u00ad\u00ad\u201d<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-71.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1685\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-71-640x264.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"264\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-71-640x264.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-71-768x317.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-71.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Teks diatas adalah pembuka dari <strong><em>Blade Runner 2049<\/em><\/strong>. Diiringi musik yang lirih, <em>opening<\/em> dilanjutkan dengan menunjukkan kondisi lingkungan California pada tahun 2049, yang mana terlihat mendung &amp; suram. Kendaraan sang karakter utama, <em>Officer<\/em> K (<strong>Ryan Gosling<\/strong>), pun terbang melaju &amp; mendarat, mengantarkan sang <em>Blade Runner<\/em> untuk menjalani misinya. Akan tetapi, dalam tugasnya itu K menemukan sebuah objek misterius, yang dapat mengguncang dunia apabila keberadaannya diketahui masyarakat luas\u2026<\/p>\n<p>Maka itu, K pun diperintahkan oleh atasannya Letnan Joshi (<strong>Robin Wright<\/strong>) untuk menyelidik asal usul dan orang-orang yang berkaitan dengan penemuan itu. Dalam investigasinya itu, K sendiri pun mengalami kejadian yang membuatnya mempertanyakan eksistensi &amp; kehidupannya sendiri.<\/p>\n<p>Itulah sinopsis dari <em>Blade Runner 2049<\/em>, karya sutradara <strong>Denis Villeneuve<\/strong>. <em>Blade Runner 2049<\/em> ada sekuel dari <em>Blade Runner<\/em> karya <strong>Ridley Scott<\/strong>, yang kali ini bertindak sebagai <em>executive producer<\/em>. <em>Screenplay<\/em> film ini juga ditulis oleh <strong>Hampton Fancher<\/strong> yang dulu juga menulis <em>screenplay<\/em> <em>Blade Runner<\/em>, namun kali ini dibantu oleh <strong>Michael Green<\/strong> (<em>Logan<\/em>, <em>Alien Covenant<\/em>). Meski film ini adalah sebuah sekuel, akan tetapi plot film ini tidak begitu ada hubungannya dengan film pertamanya. Bila anda tidak pernah menonton <em>Blade Runner<\/em> pun anda masih bisa memahami plot film ini. Akan tetapi, pemahaman plot akan menjadi lebih cepat &amp; bisa lebih didalami bila anda sudah menonton yang pertama. Juga karena dengan menonton film pertamanya, anda bisa lebih cepat mengerti istilah, setting, dan konteks dalam dunia film ini.<\/p>\n<p>Untuk dasarnya saja, <strong><em>Replicant<\/em><\/strong> adalah manusia buatan yang diciptakan sebagai budak untuk melakukan pekerjaan yang dianggap tidak mengenakan bagi orang biasa, seperti berperang, <em>mining<\/em>, prostitusi, mata-mata, dsb. Karena mereka \u201cdibuat\u201d khusus untuk bekerja, para <em>replicant<\/em> dianggap sebagai produk &amp; pada dasarnya memiliki emosi yang minim. Apa bila akhirnya seorang replicant dapat mengembangkan emosi &amp; pikirannya sendiri, ia akan menjadi mirip manusia &amp; dianggap berbahaya karena bisa memberontak. Bila itu terjadi, dikirimkanlah seorang <strong><em>Blade Runner<\/em><\/strong>, yang bertugas untuk memburu &amp; \u201cmemensiunkan\u201d replicant tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-87.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1686\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-87-640x262.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"262\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-87-640x262.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-87-768x314.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-87.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Bila anda pernah menonton trailer film ini, jangan sampai tertipu! Meski trailernya menggambarkan film ini sebagai film full <em>action<\/em>, film aslinya sama sekali tidak seperti itu. Meski tetap ada ada adegan <em>action<\/em> (yang sangat sedikit), <em>Blade Runner 2049<\/em> lebih menekankan pada misteri investigasi, konsep <em>sci-fi<\/em>-nya, dan pengembangan karakter. Selain itu, dengan durasi 2 jam 41 menit, film ini memiliki <em>pace<\/em> yang sangat lamban. Banyak adegan yang memiliki <em>build up<\/em> yang panjang, adegan-adegan itu pun sebenarnya ada untuk \u201cmenyedot\u201d penonton ke dalam atmosfer film, meski hasilnya durasi film ini pun menjadi sangat <em>bloated<\/em>. Jangan lihat film ini sebagai <em>blockbuster<\/em>, anggaplah <em>Blade Runner 2049<\/em> sebagai sebuah film <em>art house<\/em> dengan budget ala film Marvel. Saran saya, untuk pengalaman maksimal jangan mengorek-ngorek plot lebih dalam lagi sebelum menonton, dan tontonlah film dengan fokus, film ini bukan untuk <em>refreshing<\/em>. Bila sedang lelah, akan cukup mudah untuk bosan saat menonton, bila siap, <em>well enjoy the ride<\/em>.<\/p>\n<p>Plot dalam <em>Blade Runner 2049<\/em> menekankan pada konsep-konsep eksistensialis &amp; <em>sci-fi<\/em>, seperti hal apa yang sebenarnya mendefinisikan manusia, AI <em>sentience<\/em>, keunikan seorang individu, hal apa yang bisa dibilang \u201cnyata\u201d, dsb. Semua hal ini pun dibahas lewat perjalanan sang karakter utama K, dengan segala investigasi &amp; interaksi yang ia jalani. Menurut saya, presentasi akan cerita &amp; karakter utama dalam film ini sudah cukup jelas, namun perlu perhatian penuh akan tiap-tiap adegannya.<\/p>\n<p>Menurut saya perlu ditekankan pula, bahwa fokus utama dalam film ini memang adalah <em>journey<\/em> dari K, si tokoh utama, sehingga pengembangan &amp; resolusi cerita pun tetap berfokus pada <em>character arc<\/em> dari K sendiri, tidak lebih tidak kurang. Seiring cerita pun akan ditunjukkan beberapa <em>faction<\/em> besar dalam dunia film. Meski begitu, mereka pun lebih diperlakukan sebagai plot device bagi <em>character arc<\/em> K. Bila mereka dirasa tidak akan berhubungan dengan K lagi, <em>then they\u2019re gone from the screen or even the plot itself<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-93.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1687\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-93-640x262.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"262\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-93-640x262.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-93-768x315.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-93.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Bagi saya, dalam segi akting, para aktor dalam film bisa memberikan <em>depth<\/em> dalam karakter mereka masing-masing, atau seburuk-buruknya hanya <em>good enough<\/em> untuk perannya. Ryan Gosling &amp; <strong>Ana de Armas<\/strong> sebagai K &amp; Joi dapat menampilkan karakter yang terasa hidup dengan perjalanan emosionalnya &amp; sifat tersendiri, dan <em>chemistry<\/em> antar karakter mereka pun sangat mendukung cerita, sayangnya penjelasan lebih lanjut akan bersifat <em>spoilery<\/em>, sehingga lebih baik di-stop saja penjelasannya. <strong>Sylvia Hoeks<\/strong> sebagai Luv menggambarkan karakter yang selalu berusaha menjadi yang terbaik &amp; mendapatkan <em>approval<\/em> (<em>in a toxic way<\/em>) dengan <em>performance<\/em> yang baik. <strong>Jared Leto<\/strong> kembali berperan sebagai karakter eksentrik Niander Wallace dalam film ini. Pada awalnya karakternya terasa cukup aneh, saking anehnya dia sampai terasa <em>out of touch<\/em> dengan setting dunia dalam film, tapi setelah dipikir-pikir <em>maybe that\u2019s the point<\/em>, karena memang karakternya pun buta &amp; memiliki <em>god complex<\/em>. Untuk <em>cast<\/em> lainnya, seperti Robin Wright, <strong>Mackenzie Davis<\/strong>, <strong>Dave Bautista<\/strong> memberikan penampilan yang baik, dengan adanya <em>depth<\/em> yang cukup bagi karakter mereka, meski adegannya sedikit.<\/p>\n<p>Selain itu, ada pula <em>cast<\/em> yang hadir di film pertamanya. Yang paling utama adalah <strong>Harrison Ford<\/strong> sebagai Rick Deckard, sang <em>original Blade Runner<\/em>. Dalam film ini, Harrison Ford memerankan Deckard yang sudah banyak berubah, yang sudah menua 30 tahun dari film pertamanya. Karakternya dalam <em>Blade Runner 2049<\/em> pun tidak hanya sebagai <em>fan service<\/em> atau tempelan saja. Keberadaan Deckard pada flm ini terbilang cukup krusial bagi plot utamanya. Selain Harrison Ford, aktor <strong>Edward James Olmos<\/strong> juga muncul sebagai cameo di film ini sebagai Gaff, seorang <em>blade runner<\/em> lain dari film pertamanya yang kali ini sudah pensiun. Aura misterius karakternya pun masih bertahan di sini.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-86.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1688\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-86-640x263.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"263\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-86-640x263.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-86-768x316.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-86.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-110.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1689\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-110-640x256.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"256\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-110-640x256.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-110-768x308.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-110.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-131.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1690\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-131-640x260.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"260\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-133.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1691\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-133-640x260.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"260\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-99.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1692\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-99-640x261.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"261\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-99-640x261.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-99-768x313.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-99.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Seperti disebutkan di atas, adegan aksi pada <em>Blade Runner 2049<\/em> terbilang cukup sedikit. Meski begitu, adegan-adegan tersebut jadi lebih mudah diingat. Gaya aksi dalam film terbilang brutal, tapi \u201chalus\u201d. Presentasinya artistik, tapi tetap <em>grounded<\/em>. Selain itu, setiap adegan aksi biasanya sudah dibangun ketegangannya dari menit-menit sebelumnya, sehingga tidak muncul begitu saja, penonton dipersiapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-121.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1693\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-121-640x261.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"261\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-121-640x261.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-121-768x314.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-121.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Dalam segi artistik, film ini memiliki <em>style<\/em> yang sangat <em>bold<\/em>. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, <em>Blade Runner 2049<\/em> adalah sekuel dari <em>Blade Runner<\/em>. Dalam Blade Runner (yang dibuat pada tahun 1982), ditunjukkan bahwa pada tahun 2019, dunia sudah memiliki <em>replicant<\/em> \/ manusia buatan &amp; mobil terbang, perusahaan seperti Pan Am &amp; Atari masih besar dan berjaya, monitor CRT masih banyak dipakai, juga sebagian besar hewan sudah punah (sehingga ada pula <em>replicant<\/em> binatang). Seperti yang kita tahu, 2019 di dunia nyata tidak mungkin seperti itu, sehingga <em>Blade Runner 2049<\/em> pun dibuat dengan melanjutkan sejarah &amp; estetika film pertamanya, tanpa mengikuti sejarah asli.<\/p>\n<p>Misalnya, sebagian besar teknologi dalam film ini bersifat analog (contohnya mesin arsip DNA di LAPD), iklan-iklan raksasa masih menguasai <em>landscape<\/em> LA, dan referensi mengenai kepunahan sebagian besar hewan. Bahkan di film ini diperlihatkan kalau Uni Soviet masih berdiri (dengan adanya hologram produk Soviet di LA) untuk menegaskan bahwa film ini bersetting di <em>alternate universe<\/em>. Selain itu, tema kerusakan lingkungan banyak ditunjukkan dalam film ini, dengan adanya <em>sea wall<\/em> &amp; salju di LA, radiasi nuklir di Vegas, dan kelangkaan kayu.<\/p>\n<p>Presentasi dunia dalam film pun sangat <em>immersive<\/em>, dengan desain set kota, kantor, apartemen, dsb yang terkesan futuristik namun memiliki gaya retro pula. <em>Almost every location feels like a real space<\/em>. Mengapa <em>almost<\/em>? Karena bagi saya ada set di Vegas yang rasanya terlalu <em>stylish<\/em>, sehingga ada terasa kurang <em>real<\/em> saja. Juga, arsitektur gedung-gedung yang beraliran brutalis juga menambah kesan dystopia &amp; kelam yang dibawakan. Selain itu film ini memiliki sound design yang cukup <em>clean<\/em> &amp; bunyinya \u201cpas\u201d enak didengar , mulai dari suara mesin kendaraan, gadget, bahkan sinyal radio<em>. It\u2019s quite a technical masterpiece<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-137.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1694\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-137-640x260.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"260\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-137-640x260.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-137-768x313.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-137.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-138.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1695\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-138-640x260.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"260\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-138-640x260.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-138-768x313.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-138.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-139.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1696\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-139-640x262.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"262\" \/><\/a><\/p>\n<p>Selain itu, sinematografi oleh <strong>Roger Deakins<\/strong> tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Setiap shot dalam film komposisi yang enak dilihat &amp; tertata, sampai-sampai hampir semua adegannya bisa dijadikan wallpaper komputer bila mau. Komposisi tiap adegan, pergantian <em>scene<\/em>, lighting semuanya tersusun dengan indah, berpadu dengan soundtrack film yang dibuat oleh <strong>Hans Zimmer<\/strong> &amp; <strong>Benjamin Wallfisch<\/strong>. Soundtrack dalam film ini tampak berusaha mengikuti gaya soundtrack film pertamanya, tapi tetap dengan atmosfernya sendiri. Dibanding soundtrack <em>Blade Runner <\/em>oleh Vangelis yang lebih jazzy, soundtrack <em>Blade Runner 2049<\/em> terasa lebih megah, namun brutal &amp; opresif (<em>well it has a dystopian setting anyway<\/em>). Ada pula sedikit <em>score<\/em> &amp; nada yang dipakai ulang dari film pertamanya, tapi sudah disesuaikan dengan gaya soundtrack yang baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-132.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1697\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-132-640x262.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"262\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-132-640x262.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-132-768x315.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-132.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-89.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1698\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-89-640x262.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"262\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-89-640x262.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-89-768x314.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-89.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-103.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1699\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-103-640x261.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"261\" \/><\/a><\/p>\n<p><em>Blade Runner 2049<\/em> adalah sebuah film <em>sci-fi<\/em> misteri dengan visual &amp; <em>sound design<\/em> yang spektakuler. Cerita yang ia bawakan terbilang cukup kompleks, namun mudah dimengerti, akan tetapi pacingnya yang sangat lamban mungkin bisa menjadi <em>turn off<\/em> bagi sebagian orang. <em>But if you give it a try, it\u2019s worth it<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-104.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-1700\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-104-640x262.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"262\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-104-640x262.png 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-104-768x314.png 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-content\/uploads\/sites\/60\/2019\/02\/Screenshot-104.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sutradara: Denis Villeneuve Penulis: Hampton Fancher, Michael Green Pemain: Ryan Gosling, Ana de Armas, Harrison Ford, Sylvia Hoeks, Jared Leto, Robin Wright Rating: Dewasa (Restricted) &nbsp; \u201c REPLICANTS are bioengineered human, designed by Tyrell Corporation for use off-world. Their enhanced strength made them ideal slave labor After a series of violent rebellions, their manufacture became [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":65,"featured_media":1708,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[237,242,234,236,238,241,235,228,239,240],"class_list":["post-1681","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-ana-de-armas","tag-blade-runner","tag-denis-villeneuve","tag-hampton-fancher","tag-harrison-ford","tag-misteri","tag-roger-deakins","tag-ryan-gosling","tag-sci-fi","tag-thriller"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/users\/65"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1681"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1681\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1758,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1681\/revisions\/1758"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1708"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/stmanis\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}