STAMRECITAL 2025: FRAGMENTS
Jakarta, 12 Desember 2025 — Auditorium Lantai 4 BINUS Kemanggisan, Kampus Anggrek, menjadi saksi perjalanan emosional yang dikisahkan dalam sebuah pertunjukan tari berjudul STAMRECITAL 2025: FRAGMENTS. Acara ini menghadirkan dance recital yang diselenggarakan oleh UKM STAMANARA dengan tujuh tim inti dari Greater Jakarta, menampilkan rangkaian performance yang saling terhubung dalam satu benang merah: perjalanan jiwa manusia dalam merangkai kepingan hidupnya.
Tema “Fragments” menggambarkan manusia sebagai sosok yang terbentuk dari berbagai kepingan kehidupan, yakni kenangan, luka, konflik, harapan, dan mimpi yang perlahan membentuk siapa kita hari ini. Setiap tim inti STAMANARA merepresentasikan satu fragmen perjalanan hidup, mulai dari cerita tentang kehilangan, perlawanan batin, keheningan, hingga proses menerima diri sendiri. Meski setiap fragmen memiliki ceritanya sendiri, pada akhirnya keseluruhan pertunjukan menyatu sebagai satu kesatuan: STAMANARA sebagai jiwa yang utuh.
Acara dimulai dengan guest performance oleh Limited All Star yang membuka panggung dengan energi eksplosif dan koreografi penuh power. Penampilan ini menjadi pemanasan yang sempurna sebelum audiens diajak memasuki perjalanan emosional dari setiap fragmen yang akan ditampilkan oleh tim inti STAMANARA.
- The Beginning by Stamanara
Fragmen pembuka yang dibawakan oleh Stamanara, tim bergenre dancehall dari region Kemanggisan yang menampilkan dunia penuh dengan warna dan cahaya. Gerakan yang ringan, ceria, dan penuh energi melukiskan masa awal kehidupan yang belum tersentuh kerasnya realita. Fase polos yang dipenuhi rasa ingin tahu, keceriaan, dan mimpi besar.
2. The Crack by BRING IT STAM
Memasuki fragmen kedua yang ditampilkan oleh BRING IT STAM, tim inti bergenre hip-hop asal region Kemanggisan, nuansa mulai berubah. Cahaya meredup dan gerakan menjadi kaku, menandai munculnya luka pertama dalam hidup. Penolakan, ejekan, dan kegagalan digambarkan sebagai retakan awal yang perlahan meruntuhkan semangat dan mimpi yang dulu bersinar terang.
3. The Mask by STAMAXIE
Fragmen ketiga dari STAMAXIE yang merupakan tim bergenre ladies dari region Bekasi, menampilkan sosok yang terlihat sempurna di luar namun rapuh di dalam. Gerakan yang elegan namun terasa hampa menggambarkan individu yang memakai topeng demi bertahan hidup dan memenuhi ekspektasi lingkungan, sembari menyembunyikan perasaan sebenarnya yang tak pernah tersuarakan.
4. The Storm by STAMIOUS
Klimaks emosi hadir dalam fragmen keempat oleh STAMIOUS, tim yang bergerak di genre hip-hop dari region Alam Sutera. Gerakan yang intens, penuh hentakan, dan ledakan energi melambangkan amarah, frustrasi, serta emosi yang akhirnya meledak setelah terlalu lama terpendam. Fragmen ini menjadi titik di mana seluruh konflik batin mencapai puncaknya.
5. The Silence by STAMAHOLIC
Setelah badai, hadir fragmen kelima yang dibawakan oleh STAMAHOLIC, yakni tim bergenre ladies yang berasal dari region Kemanggisan. Panggung dipenuhi ruang kosong, gerakan melambat, dan suasana terasa sunyi. Fragmen ini menggambarkan kondisi terendah dalam hidup, ketika seseorang merasa hampa, kehilangan arah, dan tak lagi memiliki semangat untuk melangkah.
6. The Spark by STAMOTION
Dari keheningan itu, perlahan muncul fragmen selanjutnya oleh STAMOTION, tim bergenre dancehall asal region Alam Sutera. Gerakan mulai kembali dinamis, cahaya menyorot dengan lebih hangat, menandakan munculnya percikan harapan. Ini adalah fase kebangkitan awal, ketika seseorang mulai berani berdiri kembali meski belum sepenuhnya pulih.
7. The Mirror by STAMTRIX
Fragmen ketujuh dari STAMTRIX, sebuah tim yang bergenre ladies dari region Alam Sutera, mengajak penonton menyelami proses refleksi diri. Interaksi dengan bayangan sendiri menjadi simbol keberanian untuk menatap luka, kegagalan, dan sisi gelap yang selama ini dihindari. Di sinilah penerimaan diri mulai tumbuh, bahwa rasa sakit adalah bagian penting dari perjalanan hidup.
8. The Whole by Mega-Giga Crew
Sebagai penutup, penampilan dari Mega-Giga Crew menyatukan seluruh fragmen menjadi satu kesatuan jiwa. Gerakan yang memadukan elemen dari fragmen-fragmen sebelumnya melambangkan penerimaan penuh atas diri sendiri, yakni luka, harapan, kelemahan, dan kekuatan yang akhirnya membentuk pribadi yang lebih utuh dan kuat.
STAMRECITAL 2025: FRAGMENTS bukan sekadar pertunjukan tari, melainkan refleksi tentang kehidupan. Bahwa dari setiap kepingan yang tercecer, kita belajar untuk bangkit, merangkai kembali diri, dan menemukan keutuhan dalam prosesnya. Karena pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar rusak, melainkan kita hanya sedang dalam perjalanan untuk menjadi utuh.









